I Am Yours,Mr Chevalier!

I Am Yours,Mr Chevalier!
Part 104


__ADS_3

"Good morning, Rose .. good morning, Sue," sapa Mia pada dua orang wanita lansia yang tengah berbincang di ruang makan. Gadis itu meletakan dua gelas susu dan dua piring berisi roti lengkap dengan selainya.


"Ah, Mia .. kebetulan kau di sini, aku dan Sue baru saja membicarakan sesuatu," ujar Madame Rose antusias.


"Ohya? Apa itu?" tanya Mia sembari menarik kursi dari bawah meja lalu duduk di depan kedua wanita itu.


"Sue akan berulang tahun besok," jawab Madame Rose sembari mengambil selembar roti dan mengolesinya dengan selai strawberry.


"Ohya? How nice, Sue," ujar Mia sembari memandang ke arah Sue, wanita berumur sekitar 70an yang mengecat rambutnya menjadi merah dan membuat penampilannya terlihat nyentrik.


"Yes, Mia .. aku ingin sekali merayakannya dengan membuat pesta kecil - kecilan. Dan aku butuh bantuanmu," kata Sue.


"Sure, how can I help you?" tanya Mia.


Sue memandang ke arah Madame Rose, wanita itu mengangguk.


"Aku ingin kau memainkan beberapa lagu untukku, aku ingin sekali mengajak John berdansa," jawab Sue malu - malu. John adalah pasien lansia di Linden Center, teman Madame Rose dan juga Sue. Bagaikan anak remaja, John dan Sue menaksir satu sama lain.


Mia tersenyum jahil. "Of course, Sue," ujarnya sembari mengelus lengan Sue lembut.


"Dengan Ben," celetuk Madame Rose. Mia mengerenyitkan dahinya seraya memandang ke arah wanita itu.


"Pardon?" tanya Mia.


"Kau dan Ben akan memainkan lagu untuk Sue." Madame Rose melanjutkan perkataannya.


Sue memegang lengan Madame Rose. "Itu ide bagus, tapi .. apa Ben tidak sibuk?"


Madame Rose terkekeh. "Aku bisa mengaturnya," ujarnya kemudian.


Mia melongo. Membawakan lagu bersama Ben? Oh Lord, mimpi apa aku semalam.


"Mia? Kau tidak keberatan, bukan?" tanya Madame Rose membuat gadis itu terkesiap.


"Emm .. aku .. tentu saja aku .. tidak keberatan," jawab Mia gugup.


"Perfect, aku akan mencatat list lagunya," ujar Sue penuh semangat.


Mia mengangguk. Kemudian berpamitan dengan kedua wanita lansia itu untuk melanjutkan kembali pekerjaannya.


Mia berjalan menelusuri koridor dengan langkah pelan. Pikirannya melayang entah kemana. Memikirkan akan se - nervous apa besok ketika berhadapan dengan Ben, memainkan lagu bersama gitaris tampan itu.


***


Mia tersenyum - senyum sendiri sembari menatap kertas yang berisi catatan list lagu yang Sue minta.


Luis Amstrong - What A Wonderful world


The Righteous Brothers - Unchained Melody


Dan Byrd - Boulevard


Bryan Adams - Everything I do I do it for you


Eric Clapton - Wonderful Tonight


Dan masih banyak lagu romantis oldis yang lain. Mia menepuk jidatnya pelan sembari terkekeh tanpa suara. Ada - ada saja permintaan nenek - nenek yang sedang jatuh cinta itu.


Mia menyuapi dirinya dengan sesendok mashed potato dan potongan daging serta brokoli. Sesekali menyapu pandangan berkeliling ruang kantin Linden Center yang sedikit lengang.


"Hi, Mia .. boleh duduk di sini?"

__ADS_1


Sebuah suara dari arah sampingnya mengagetkan gadis itu. Mia segera menoleh dan jantungnya seakan berhenti seketika.


"Mr. Chevalier," ucapnya lirih.


Tanpa menunggu jawaban Mia, Ben menarik kursi dan duduk di depan gadis itu seraya meletakkan satu cup kopi di atas meja. Mia berusaha menelan makanan yang dikunyahnya dengan susah payah.


"Rose menelponku, wanita tua itu merencanakan pesta ulang tahun untuk Sue, kau sudah dengar?" tanya Ben sembari terkekeh.


Mia mengangguk. Lalu menunjukan kertas catatan yang tadi dipegangnya pada Ben.


"That's it." Tawa Ben berderai. "Aku mencarimu untuk membicarakan ini." Ben menyeruput kopinya. "Kau tahu, aku harus berdebat dengan menejerku untuk membatalkan wawancara di Fuse TV besok demi memeriahkan pesta para nenek tua itu," kekehnya.


Mia hanya meringis mendengar penuturan Ben.


"Aku tidak bisa menolak permintaan Rose," sambung Ben, lalu meraih kertas catatan di atas meja dan memeriksanya sebentar. "Apa kau perlu untuk latihan terlebih dahulu?" tanya Ben.


"Emm .. sepertinya," sahut Mia.


"Okay, kau bisa datang ke rumahku sepulang kerja," ujar Ben dengan santainya. Namun sejurus kemudian pria itu meralat kata - katanya. "Emm .. sebaiknya aku saja yang datang ke rumahmu, kebetulan aku ada urusan di Brooklyn sore ini."


"Emm ...."


Mia mengurungkan niatnya untuk mengatakan sesuatu ketika melihat Ben telah beranjak dari duduknya.


"Ah, berapa nomer apartemenmu?" tanyanya.


"447." Jawaban itu meluncur begitu saja dari mulut Mia.


"Okay, see you this evening, then," ujar Ben seraya melangkah meninggalkan Mia. Namun beberapa saat kemudian langkahnya berhenti dan menoleh ke arah gadis itu.


"Emm .. Mia, apa kau punya gitar?" tanya Ben.


Mia segera mengangguk.


Mia memandang punggung Ben hingga lenyap di balik pintu. Lalu menyentuh dadanya yang berdebar tak karuan.


Ben Chevalier mau ke apartemenku? Apa ini mimpi? Ashley pasti akan histeris, aku juga sangat histeris saat ini. Oh Lord!


***


Mia berjalan mondar - mandir di dalam kamarnya seraya melirik ke arah jam dinding yang kini menunjukkan pukul 19.15. Ditariknya nafas dalam - dalam. Namun sejurus kemudian gadis itu memegangi perutnya yang terasa keram.


Suara bel pintu membuat dadanya semakin berdebar kencang.


Biar Ashley saja yang membukanya.


"O My God!"


Pekikan Ashley membuat keram di perut Mia semakin menjadi. Gadis itu berusaha menenangkan diri dengan mendudukkan dirinya di tepian ranjang. Telapak tangannya dia gerakan ke atas dan ke bawah seiring tarikan nafasnya.


Ashley menerobos ke kamarnya dan menatapnya dengan tatapan nanar.


"Lamia, slap me, please!" serunya. "Benjamin Chevalier is here!" pekiknya kemudian. "What did you do?" Ashley mengguncang tubuh Mia dengan kerasnya.


Mia meringis. Tepat dugaannya, Ashley akan histeris. "Aku .. akan latihan dengannya untuk .. acara besok di Linden Center," jawab Mia terbata.


Ashley menarik nafas dalam - dalam mencoba menenangkan dirinya. "Baiklah kalau begitu," ujarnya seraya berlalu dari kamar Mia.


Mia mengambil tas gitar dan biolanya lalu menyusul Ashley ke luar kamar. Di ruang tamu, dilihatnya Ashley tengah sibuk berfoto ria dengan Ben dan membuat video pendek.


"Hi, Mia," sapa Ben seraya meliriknya sekilas dan kembali sibuk melayani permintaan Ashley untuk berfoto.

__ADS_1


"Thank you, Ben," ujar Ashley girang.


"My pleasure," jawab Ben dengan ramah. Ashley beranjak meninggalkan ruang tamu dengan mulut masih berucap "O My God" berkali - kali.


"Sorry," ujar Mia lirih. "She's a fan of yours," sambungnya.


"Tidak apa - apa, sudah biasa," kekeh Ben. Lalu melirik ke arah tas gitar yang dibawa oleh Mia. "Itu gitarmu?"


"Emm, iya." Mia duduk menjaga jarak dengan Ben dan membuka tas gitarnya. Dikeluarkannya sebuah gitar akustik bermerk Taylor itu dan memberikannya pada Ben.


"It's a cheap guitar," ujar Mia sembari terkekeh.


"Tidak masalah, mahal atau murah, tergantung bagaimana kau memainkannya," sahut Ben membuat Mia tersenyum kecil.


He's so down to earth.


Mia mengeluarkan biola dari tasnya. Kemudian menyetemnya menyesuaikan dengan nada pada gitar yang kini tengah dipetik oleh Ben.


"What A Wonderful world?" tanya Ben merujuk pada judul lagu yang akan mereka mainkan pertama kali.


Mia mengangguk.


"Okay, kau sudah dengar lagunya, bukan? Emm .. kau hanya tinggal mengikuti nada keyboardnya untuk kau ganti dengan biola," ujar Ben memberi instruksi.


Kembali Mia mengangguk tanda mengerti. Ben memetik gitarnya membuat intro lagu, kemudian Mia mulai mengikutinya dengan gesekan biolanya.


"Untuk selanjutnya kau hanya tinggal mencuri - curi nada di sela - sela liriknya."


Mia tak bisa mengalihkan pandangannya dari pria tampan bermata biru di hadapannya ini, sembari menggesek bioalanya mengikuti petikan gitar Ben.


Sesekali pria berambut panjang itu menoleh ke arahnya sembari tersenyum, membuatnya buru - buru mengalihkan pandangannya ke arah jemari Ben.


.


"Okay, see you tomorrow, Mia," ujar Ben seraya beranjak dari duduknya.


"See you tomorrow, Mr. Chevalier," sahut Mia.


"Bye, Benjamin!"


Ashley berseru dari pintu kamarnya. Melambaikan tangan ke arah Ben.


"Owh, bye .. emm .. what was your name?" tanya Ben pada Ashley.


"It's Ashley," kekehnya.


"Alright, bye, Ashley," kata Ben seraya membuka pintu kemudian melangkah keluar.


Ashley menghambur ke arah Mia yang tengah merapikan biolanya. "O .. My .. God, I can't believe he was here," ucapnya sembari menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


Mia tersenyum, gadis itu mendunduk. Wajahnya terasa menghangat.


"I'm so happy for you, Lammy!" Ashley menyentuh dadanya dengan telapak tangannya.


"Kau ini bicara apa? Kami hanya latihan saja," ujar Mia berusaha menyembunyikan kegugupannya.


Ashley tersenyum jahil, memeriksa wajah Mia yang tertunduk, berpura - pura masih sibuk dengan biolanya.


"Look at you, you're blushing," godanya.


Mia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

__ADS_1


"Berhentilah menggodaku, Ash!" serunya seraya berlari kecil menuju kamarnya dan menutup pintunya rapat - rapat.


***


__ADS_2