
Laras membuka mata perlahan, silau sinar matahari yang menyeruak dari balik tirai membuatnya memicingkan mata. Kepalanya sedikit berdenyut. Disapukan pandangan ke seluruh ruangan. Laras tak melihat Ben. Namun barang-barangnya masih ada di atas meja. Kemana dia? Laras membatin.
Laras hendak bangun namun badannya terasa lemas. Suara cacing-cacing yang meronta di perutnya mulai terdengar. Gadis itu melihat ke arah jam dinding. Pukul dua belas siang. Laras membulatkan matanya.Dia tidur selama itu.
Laras mencoba mengingat kejadian semalam. Namun ingatannya hanya sampai pada Ben yang tengah bermain gitar di atas panggung.
Ditariknya kembali selimut tebalnya. Lalu kembali memejamkan mata. Laras merasa lapar, tapi terlalu malas untuk bangun. Gadis itu menguap berkali-kali.
Pintu kamar dibuka dari luar. Mata Laras berbinar melihat siapa yang datang. Ben dengan t-shirt putih lengan panjang dan celana jean serta rambut panjang acak-acakannya tersenyum melihat Laras yang telah terbangun.
"Bonjour, Mademoiselle," sapa Ben dengan logat Per ancis-Amerika yang dibuat-buat.
Laras terkekeh mendengarnya. Lucu sekali, batinnya.
"Kenapa kau tidak membangunkanku, lihat jam berapa ini?" gerutu Laras.
"Relax, Laras .. we're on vacation, just enjoy it."
Ben naik ke atas ranjang. Memberikan sebuah kotak berisi makanan yang dibawanya.
"Apa ini?" tanya Laras sembari membuka kotak berisi lipatan roti tebal berisi potongan daging sapi tipis dan campuran bawang, tomat dan bahan lainnya serta dilapisi keju. Aromanya benar-benar menggugah selera.
"It's called Philly Cheese Steak .. kau belum bisa dikatakan telah menginjakan kakimu di Philadelphia kalau belum mencoba ini," gurau Ben.
Laras yang memang sangat lapar segera saja menggigit sepotong.
"Emh .. this is so good," ujar Laras dengan mulut yang penuh makanan.
Ben terkekeh. Memperhatikan aktifitas makan Laras dengan seksama.
"Aku minta maaf telah membuatmu mabuk semalam," ucap Ben, seraya menyodorkan sekaleng coke kepada Laras.
"O gosh .. apa aku melakukan hal-hal bodoh semalam?" pekik Laras.
"Emmm .. not really." Ben mengelus hidungnya dengan jari telunjuknya. Berpura-pura seakan-akan tidak mengingat tingkah laku Laras semalam seraya menyunggingkan senyum jahilnya.
__ADS_1
"Ben!!" seru Laras kesal. "Did I?" tanya Laras kembali.
"Tidak Laras .. hanya saja kau mengatakan hal-hal yang tidak pernah kau katakan sebelumnya, dan bahasa tubuhmu juga berbeda," jawab Ben.
"Like what?" tanya Laras penasaran.
"Like .. you said I love you Ben, and don't go, don't leave me, lalu kau menangis, memelukku dengan erat, menciumku dengan panas .. dan ...."
"Huh .. are you serious?" pekik Laras kembali.
Ben tergelak. Kemudian mengangguk dengan serius.
"Oh no!" Laras menutup wajahnya dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya masih memegang makanan. "Aku sangat malu sekarang ini," ujarnya.
"It's okay, Laras. Anyway, I was so happy you did all those things to me," kata Ben sembari beranjak dari ranjang dan menyambar sebungkus rokok yang ada di meja.
"Aku akan ada di luar kalau kau butuh sesuatu." ujar Ben sembari membuka pintu dan melangkah keluar kamar.
Laras menarik nafas dalam-dalam. Gadis itu merasa benar-benar malu. Tak henti-hentinya dia mengutuki dirinya sendiri dalam hati.
***
Laras merentangkan kedua tangannya dan menarik nafas dalam-dalam. Memghirup udara musim semi yang segar.
"Oh I like Pennsylvania," serunya kembali.
Ben yang tengah berbaring terlentang di atas rumput tak jauh darinya terbahak. Sesekali mengambil foto Laras secara diam-diam dengan kamera saku yang dikalungkan di lehernya.
Laras berjalan mendekati Ben. Kemudian ikut berbaring di samping lelaki itu. Keduanya menatap langit yang begitu cerah. Menikmati suasana sore di padang rumput luas yang tak jauh dari tempat mereka menginap.
"Ben," panggil Laras.
"Yeah?" sahut Ben.
__ADS_1
"Thank you for taking me to this nice road trip."
"The pleasure is mine."
Laras tersenyum. Menoleh ke arah Ben yang juga tengah menoleh ke arahnya. Pandangan mereka bertemu. Keduanya saling menatap lama tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Secara tiba-tiba Ben mengambil foto wajah Laras dengan kameranya.
"Kau curang!" gerutu Laras kesal.
Ben tergelak. "Lihat ekspresi wajahmu, Laras,
menggemaskan bukan?" Ditunjukannya foto yang baru saja diambilnya kepada Laras.
"Delete that, please, I look so stupid." pinta Laras.
"No way!" seru Ben.
Laras mendecak. Lalu menghela nafas pelan.
"Hey, let's take a selfie, just for memory," ujar Ben sembari mendekatkan kepalanya ke arah Laras. Gadis itu tersenyum ketika Ben mengambil gambar mereka berdua.
Di luar dugaan, Ben mencium pipi Laras dan mengambil gambarnya sekali lagi. Hasilnya,
ekspresi wajah Laras tampak lucu karena terkejut.
"Sorry Laras, just for fun," ujar Ben dengan muka tak bersalahnya. Laras mendengus kesal.
"Let's go back to the motel," ajak Ben seraya berdiri dan meraih tangan Laras untuk membantu gadis itu bangkit.
"Apa kita akan menginap di sini lagi malam ini?" tanya Laras sembari mensejajarkan langkahnya di samping Ben.
Ben berpikir sejenak. Kemudian tersenyum dan menoleh ke arah Laras.
"Are you ready for a night trip with me?"
__ADS_1
***