
LINDEN CENTER, PANTI LANSIA DAN PUSAT REHABILITASI, BROOKLYN, NEW YORK. NOVEMBER, 2024.
"Mia, kau antar makan siang ke kamar Rose Chevalier, dia sedang tidak enak badan, jadi tidak bisa bergabung makan siang bersama yang lainnya." Chante, wanita keturunan afro-american yang bertubuh tambun, melambai ke arah Mia yang baru saja muncul dari pintu dapur. Gadis berambut panjang hitam dan berwajah asia tenggara itu mengangguk.
Mia Mendorong meja beroda yang penuh dengan menu makan siang, keluar dari dapur panti yang luas dan bersih. Gadis itu berjalan menelusuri lorong-lorong panjang berkarpet merah yang di kanan kirinya terdapat pintu-pintu kamar layaknya hotel berbintang.
Sesampainya di depan kamar yang paling ujung, dilihatnya pintu kamar sedikit terbuka. Mia mengetuk pintu berwarna silver itu pelan.
"Masuk." Suara seorang wanita yang sepertinya telah lanjut usia terdengar dari dalam kamar. Gadis itu segera membuka pintu lebar-lebar dan mendorong mejanya masuk ke kamar yang luas dan rapi dengan desain minimalis itu.
"Hi, Rose, aku membawakanmu makan siang." Mia mendorong meja ke arah Madame Rose yang tengah berada di atas ranjang, menyandarkan punggungnya ke headboard, dengan sebuah buku yang tengah dia baca di tangannya. Wanita itu melepaskan kacamatanya dan menutup bukunya. Kemudian tersenyum pada Mia.
"Ah, Mia, kau baik sekali," ujar Madame Rose dengan ramah. Gadis itu tersenyum sembari menyiapkan piring Madame Rose dan mengisinya dengan beberapa menu.
"Kau mau aku menemanimu makan, Rose?" tanya Mia sembari menyodorkan piring kepada Madame Rose.
"Tidak usah, Mia, cucuku akan datang sebentar lagi."
"Baiklah, Rose, kalau begitu aku permisi dulu, aku akan kesini lagi setelah kau selesai menghabiskan makan siangmu." Mia mengelus punggung tangan Madame Rose lembut, lalu beranjak keluar dari kamar itu.
"Ah, Mia ...," panggil Madame Rose ketika gadis itu hampir saja menghilang dari balik pintu.
"Yes, Rose?" Mia menyembulkan kepalanya.
"Semoga betah bekerja di sini," ujar Madame Rose.
"Thanks." Senyum Mia mengembang. Kalau saja semua pasien rumah lansia ini seramah dan sebaik Rose Chevalier.
"Ah, cucuku sudah datang," ujar Madame Rose girang ketika seorang pria berambut panjang pirang yang diikat sembarang, muncul dari samping Mia. Pria itu memandang Mia sekilas kemudian mengangguk. Untuk kemudian masuk ke dalam kamar dan disambut oleh Madame Rose yang memeluknya dengan erat.
Wajah pria itu familiar sekali, tapi siapa ya?
Mia memutar otaknya, mencoba mengingat-ingat sosok wajah yang baru saja dilihatnya itu. Cucu Madame Rose.
Gadis itu mengedikkan bahunya, setelah dirasa tidak berhasil mengingat siapa pemuda berambut pirang dan bermata biru itu. Langkahnya cepat menuju ke ruang makan yang terletak di ujung lorong. Melanjutkan pekerjaannya mengurus segala keperluan pasien panti dengan segala kerewelan mereka.
***
BROWNSVILLE, BROOKLYN, NEW YORK.
__ADS_1
Mia menghempaskan badannya di sofa panjang ruang tamu apartemen sempitnya.
Dilepaskannya mantel dan syal tebalnya kemudian dilemparkannya sembarang. Kakinya yang masih terbungkus boot hangatnya dia luruskan ke atas meja.
"Hari yang melelahkan, ya?" celetuk Ashley, teman berbagi apartemennya, yang tengah melintas menuju dapur.
"Para lansia itu benar-benar membuatku gila," kekeh Mia, namun dalam hatinya dia tidak serius mengucapkan itu. Satu minggu bekerja di Linden Center sebagai tukang bersih-bersih dan pengantar makanan serta kebutuhan pasien lainnya, Mia tidak mendapati kendala yang berarti, hanya saja harus ekstra sabar melayani kemauan para lansia yang terkadang membuat gadis itu sedikit kewalahan.
"Kau main nanti malam?" Ashley berseru dari arah dapur.
"Yep," sahut Mia.
"Aku mau menontonmu, dan menonton Will tentunya," kekeh Ashley. Will, teman satu band Mia yang sudah ditaksir Ashley sejak lama.
Mia terbahak. "Ya, ya, tentu saja," sahutnya.
"Kau sendiri? Bagaimana hubunganmu dengan Brandon?" tanya Ashley, gadis itu kini telah duduk di samping Mia, dengan satu gelas orange juice di tangannya.
"Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Brandon," sanggah Mia.
"Yang benar saja, kalian terlihat sangat cocok."
"He's my bestfriend, Ash .. I don't date a bestfriend," gurau Mia.
"Tidak ada hukum yang melarang itu, Mia."
Mia menggeleng. "I'm gonna go to sleep, see you tonight, then?" ujar Mia seraya bangkit dari sofa dan melangkah menuju kamarnya.
"Okayyy ...." Ashley berseru. Memutar kedua bola matanya. Mia selalu saja menghindar jika diajak mengobrol tentang laki-laki dan percintaan.
***
BAR BELLY, 14 B ORCHAD ST, BROOKLYN, NEW YORK CITY.
Mia melangkah masuk ke ruang tunggu di balik panggung kecil di dalam bar. Diletakkannya tas biolanya berjejer dengan beberapa gitar yang tertata rapi di dinding. Dilihatnya Brandon dan Will tengah mengobrol, bersama dengan Graham, drummer mereka.
"Akhirnya kau datang juga," ujar Brandon begitu melihat kedatangan Mia. Nampak kelegaan terpancar di wajahnya.
Gadis itu meringis. "Aku ketiduran," jelasnya.
__ADS_1
"Lets go."
Keempatnya menyambar alat musik masing-masing dan keluar dari ruangan itu dan berjalan menuju atas panggung. Suasana bar mulai ramai. Tepuk tangan dari pengunjung bar menyambut kedatangan mereka.
Mia memasukkan kabel biolanya ke dalam ampli dan mengetes suaranya dengan memetik satu persatu dawainya. Digeseknya bow di atas string biolanya. Setelah dirasa beres, Mia menghadap ke arah mic dan berdehem beberapa kali, mencoba melicinkan tenggorokannya.
"Hi, Bar Belly, emm .. we are Funeralopolis, and we are here for you tonight."
Alunan gitar Brandon terdengar memainkan intro lagu cover milik Janis Joplin, Summertime yang populer tahun 1969. Funeralopolis adalah band bergenre rock heavy blues, dengan sentuhan biola Mia yang membuat jenis musik mereka terdengar berbeda.
"Summertime and the living is easy
Fish are jumping and the cotton is high
Oh, your daddy's rich and your ma is good-looking
So hush, little baby, don't you cry ...."
Mia tersenyum dan melambai ke arah Ashley yang baru saja masuk ke dalam bar. Teman satu apartemennya itu menyambut lambaian tangan Mia dengan girang.
Malam itu Bar Belly pecah oleh penampilan Funeralopolis yang menghanyutkan. Band reguler itu mendapatkan banyak tips dari pengunjung bar.
***
Di pojok ruangan bar, seorang pria dengan hoodie hitamnya, menikmati penampilan band lokal Brooklyn itu dengan seksama, sembari menikmati sebotol whiskey yang kini hanya tinggal setengahnya saja.
***
Hi, aku kembali lagi, temen-temenku tersayang, seneng banget akhirnya bisa update.
Pada kangen gak sih sama aku dan Ben? 🤣
Apapun alur ceritanya nanti, just enjoy it yaa.
Love y'all.
Catatan :
Bow - Alat gesek biola
__ADS_1