
"Coba tebak."
Brandon menghempaskan tubuhnya di atas kursi empuk memanjang, duduk di antara Will dan Graham. Sementara Mia tengah sibuk menyetem biolanya. Ketiganya kini melihat ke arah pemuda bertato daun di lengan kanannya itu.
Brandon memperlihatkan layar ponselnya pada ketiga rekannya itu.
"Email dari The Meadow Music And Art Festival, kita lolos!" serunya.
"Wow!" pekik Will dan Graham secara bersamaan.
Senyum Mia mengembang. The Meadow Music And Art Festival adalah salah satu festival musik tahunan terbesar di Amerika. Diselenggarakan di sebuah stadion besar bernama Citi Field di Queens, New York. Banyak nama - nama band atau soloist terkenal yang menjadi line upnya. Untuk band - band baru seperti The Funeralopolis ini, biasanya hanya membawakan dua lagu cover dan satu lagu sendiri. Namun itu adalah kesempatan untuk mereka memperkenalkan diri pada khalayak.
"Kita punya waktu satu setengah bulan untuk latihan," gumam Mia.
"Mereka meminta kita untuk mengirimkan satu single, itu artinya kita harus merekam lagu kita segera," ujar Brandon. Lalu memandang ke arah Mia.
"Behind Blue Eyes sudah selesai aku aransemen, aku ingin mendengar versimu, Brand," ujar Mia.
Brandon menghela nafas pelan. Dadanya tiba - tiba terasa nyeri mendengar judul lagu yang Mia tulis itu. Namun sebisa mungkin dia tak memperlihatkannya. Hanya Will yang sekilas menangkap perubahan raut wajahnya.
"Brand?" panggil Mia.
"Ah ya, aku akan mengikuti aransemenmu saja Lammy," jawab Brandon sekenanya, sembari meraih gitar elektriknya.
"Okay." Mia meletakkan biolanya dan mengambil sebuah gitar akustik yang tergeletak tak jauh darinya.
Mia memulai intro lagu dengan sebuah genjrengan sederhana. Lalu membangun dasar lagu hingga bisa dimengerti ketiga rekannya, akan seperti apa gambaran lagu secara utuh nantinya.
.
.
Mia menggulir feed instagram di layar ponselnya. Kemudian mencari akun resmi Meadow Music And Art Festival. Entah kenapa dia penasaran dengan line up yang akan tampil di ajang bergengsi itu. Dan entah kenapa pula, dia berharap The Rebellion ada di dalam deretan band - band besar yang akan tampil di sana.
Dan benar saja, nama The Rebellion bertengger di antara beberapa band besar di dalam sebuah postingan teaser dari akun festival itu. Senyum Mia mengembang.
Tentu saja, The Funeralopolis tidak akan berbagi panggung dengan The Rebellion, karena sudah pasti bandnya akan dipisahkan di panggung lain yang lebih kecil yang dikhususkan untuk band - band yang belum punya nama. Namun melihat nama The Rebellion saja cukup membuat hatinya senang. Dan Mia tidak tahu apa alasannya.
Mia meletakkan ponsel di atas kasurnya sembarang. Ditatapnya langit - langit lusuh kamarnya. Wajah tampan Ben tiba - tiba muncul dalam benaknya tanpa permisi. Otaknya mulai memikirkan hal - hal aneh yang tak mampu ditepisnya.
__ADS_1
"What the hell!" makinya pada diri sendiri. Sejurus kemudian gadis itu mentertawakan dirinya sendiri. Lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Menepuk - nepuk dahinya demi menyadarkan dirinya dari pikiran - pikiran konyolnya itu.
Ya, sangat - sangat konyol.
***
"Hi, Rose, kubawakan yogurt pesananmu."
Madame Rose menoleh ke arah pintu kamarnya, di mana Mia tengah berjalan ke arahnya sembari membawa nampan berisi satu kaleng yogurt berukuran sedang. Mata wanita itu berbinar.
"Terimakasih, Mia, maaf merepotkanmu," ucapnya.
"Awhh, jangan katakan itu, Rose, itu sudah tugasku."
Mia membuka tutup kaleng yogurt bermerk Elle itu lalu menyodorkannya pada Madame Rose.
"Bagaimana kursus Daren?" tanya Madame Rose sembari menyuapi dirinya sendiri.
"Daren sangat pintar, dia selalu minta lagu baru setiap kali bertemu," jawab Mia sumringah. "Hari rabu kemarin dia memaksa ayahnya menjemputku karena dia tidak sabar menanti hari jum'at untuk belajar," kekeh Mia.
"Benarkah?" Mata Madame Rose membulat. "Jadi kau dijemput oleh Ben?"
"Aku senang anak itu mulai membuka diri," gumam Madame Rose lirih, Mia nyaris tak mendengarnya. Gadis itu memandang Madame Rose seakan meminta wanita itu mengulang perkataannya.
Madame Rose mengibaskan tangannya. "Lupakan saja," kekehnya. Mia tersenyum. Lalu mengambil tisyu dan mengelap sisa yogurt yang menempel di sudut bibir wanita itu. Keduanya berbincang dengan hangat seperti biasanya. Sesekali diselingi gelak tawa akibat saling melempar lelucon.
***
"Okay, Daren, sampai jumpa minggu depan ya," ucap Mia mengakhiri pertemuannya dengan Daren.
Daren memeluk Mia dengan erat. "See you, Mia."
Mia mengusap puncak kepala Daren lembut, bocah itu meringis memperlihatkan gigi - gigi mungilnya yang menggemaskan. Jackelyn, sang pengasuh, menuntun Daren keluar dari ruangan itu.
Mia menyambar tas biolanya lalu menyusul keluar. Langkahnya terhenti ketika tiba - tiba wajah Marcus menyembul di hadapannya dan menyunggingkan senyum lebarnya.
"Hi, Mia," sapa Marcus seraya menopang badannya ke dinding dengan tangannya.
"Owh, hi, Mr. Schneider," sahut Mia gugup.
__ADS_1
"Kau sudah selesai? Mau kuantar?"
"Tidak usah, terimakasih." Mia membungkuk kecil lalu melanjutkan langkahnya melewati Marcus. Bukan Marcus namanya kalau menyerah begitu saja. Pria itu mengikuti Mia dan mensejajarkan langkahnya dengan gadis itu.
"Ayolah, Mia," bujuknya.
"Sungguh, tidak perlu, terimakasih."
"Please ...."
Mia menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Gadis itu benar - benar kebingungan bagaimana cara menolak lelaki yang kini kembali menghadang di depannya itu.
"Hei, Marc .. kau tidak dengar dia bilang apa?"
Ben yang tiba - tiba muncul di antara mereka menyeletuk. Marcus mendecak kesal.
"Kau mengganggu saja!" gerutu Marcus.
Mia memandang ke arah Ben yang tengah terkekeh melihat Marcus dengan wajah kesalnya. Tangannya memegang segelas minuman berwarna merah yang sepertinya anggur. Sorot mata Ben terlihat sayu. Namun dia tidak sedingin biasanya.
"Mia, kau pulang saja, jangan pedulikan si brengsek ini," kekeh Ben sembari menunjuk Marcus yang langsung menepisnya. Direbutnya gelas anggur di tangan Ben dan bersungut meninggalkan keduanya.
"Permisi, Mr. Chevalier," pamit Mia sembari mengangguk kecil.
"Emm .. Mia."
Mia menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Ben.
"You look good," ucap Ben tanpa dinyana - nyana. Ucapan Ben barusan membuatnya terperangah. Apa dia tidak salah dengar. Apakah Ben tidak menyadari ucapannya karena pengaruh alkohol.
Ben menarik sudut bibirnya membentuk senyuman miring. Kemudian meninggalkan Mia begitu saja.
Untuk beberapa saat gadis itu termenung. Memikirkan kata - kata Ben yang tak terduga itu. Ben tidak seperti Ben yang biasanya. Pria berwajah dingin dengan senyum mahalnya.
Suara gelak tawa Marcus dan Ben yang terdengar dari ruangan di ujung koridor membuat Mia terkesiap. Gadis itu pun bergegas melanjutkan langkahnya menuju ruang tamu dan mencapai pintu utama.
Mia meninggalkan rumah itu dengan perasaan tak menentu.
***
__ADS_1