
"Kapan kembali ke Manhattan?" Suara Jack di telepon. "Jadwal Rebellion minggu depan sangat padat, Ben, kau ingat?" sambungnya.
Ben menghela nafas pelan. "Ya, ya, aku tahu, aku akan kembali dalam satu atau dua hari, okay?"
"Tolong kau pastikan itu, Ben." Suara Jack di seberang kembali terdengar.
Ben mendecak. Setelah meyakinkan sang menejer, Ben menutup telponnya. Dilihatnya Laras yang masih tertidur dengan pulasnya di balik selimut tebalnya. Ben menaiki ranjang dan menelusup ke dalam selimut. Dipandanginya wajah Laras yang terlihat begitu damai.
"Jangan memandangiku seperti itu," ujar Laras yang merasakan hembusan nafas Ben menerpa wajahnya hangat, tanpa membuka matanya.
"Aku sedang menunggu kapan kau mendengkur," kekeh Ben.
"Tidak akan," gumam Laras sembari membalikkan badannya membelakangi Ben.
Ben merapatkan tubuhnya ke punggung Laras dan memeluknya dari belakang. Menciumi tengkuk gadis itu lembut.
"Aku dengar Jack menelponmu?" tanya Laras.
"Yeah, dia terlalu paranoid. Dia pikir aku lupa agenda Rebellion minggu depan."
"Jadi kapan kita kembali ke Manhattan?"
"Besok atau lusa mungkin .. kita bahkan belum bersenang-senang di kota ini," keluh Ben sembari meletakkan dahinya di punggung Laras.
Laras menghela nafas pelan. "Memangnya kau mau apa?"
"Pergi minum di club paling bergengsi di Portland, misalnya."
Laras terkekeh. "Hmmm .. terakhir kali kita minum di club, aku berakhir dengan rambut yang dijambak mantan pacarmu."
Ben terbahak, meraih kepala Laras dan menciuminya dengan gemas.
"It won't happen again, I promise," ujarnya.
Laras kembali membalikkan badannya, kali ini keduanya berhadap-hadapan. Punggung tangan Laras mengelus pipi Ben lembut.
"Aku masih merasa ini seperti mimpi, Ben."
Ben menaikkan kedua alisnya. "Why?"
"Benjamin Chevalier dan aku si gadis perantau yang biasa-biasa saja." Laras meringis.
Ben terbahak. Lalu menggeleng pelan. "Bulls*it, kau bahkan tidak mengenaliku ketika kita tidak sengaja bertabrakan di kampus waktu itu."
"Hei .. sudah aku bilang aku tahu siapa Ben Chevalier dan Rebellion. Hanya saja aku tidak tahu seperti apa wajah kalian," gerutu Laras protes. "Seperti .. misalnya aku bertemu dengan Anthony Kiedis dari Red Hot Chilli Pepper di jalan, mungkin aku juga tidak akan mengenalinya," terang Laras.
"Kau sungguh-sungguh tidak tahu kalau aku satu kampus denganmu?"
Laras menggeleng, lalu meringis. "Aku terlalu sibuk memikirkan cara bertahan hidup di New York."
Ben tersenyum. Dikecupnya bibir Laras lembut. "Kau punya aku sekarang."
"Tapi aku tidak ingin dicap gold digger," ujar Laras sembari mengelus dada telanjang Ben yang bergambar burung elang itu.
"No, you're not." Ben meraih tubuh Laras dan membawanya ke pelukannya. Dipagutnya bibir Laras lembut dan kemudian turun menelusuri leher gadis itu.
"Ben, kau mau apa?" tanya Laras sembari menahan dada Ben.
"Jangan selalu menanyakan sesuatu yang kau sudah tahu jawabannya." Ben tersenyum miring, diraihnya selimut untuk menutupi tubuh keduanya dan melanjutkan aktifitasnya tanpa mempedulikan lenguhan protes Laras.
...Foto ini diambil oleh Lady Magnifica😁...
***
"Apa rumah ini tidak pernah ditempati lagi?" tanya Laras pada Ben siang itu di meja makan, sembari menyantap makan siang.
__ADS_1
"Yeah, Brian, kau ingat, sopir yang menjemput kita di bandara, dia yang menjaga rumah ini, dan beberapa asisten rumah tangga tapi aku meliburkan mereka agar kita bisa berdua saja." Ben tersenyum jahil.
Laras mendesis. Dasar Ben, ada-ada saja akal bulusnya.
"Laras, I wanna meet a friend in a bar tonight," kata Ben sembari menyuapi dirinya sesendok brokoli.
"A friend?"
"Ya, Jonathan Rivers dari Dead Moon, kau pernah mendengarnya?"
Mata Laras membulat. "Dia temanmu?" tanya Laras tak percaya. Jonathan Rivers adalah pentolan band Dead Moon yang jauh lebih dulu dikenal di Amerika dan dunia tentunya, sebelum The Rebellion.
"Yep .. dulu kami teman SMA."
Laras mengangguk-angguk. "Cool!" sahut Laras.
"Tapi berjanjilah padaku kau tidak akan menyukai Jonathan." Ben memberi peringatan, wajahnya tampak serius.
Laras terbahak mendengarnya. Lalu mengibaskan telapak tangannya, menganggap ucapan Ben hanya angin lalu.
"Aku serius."
"Kenapa kau jadi insecure begini, Ben?" tanya Laras disela-sela tawanya.
"Sejak bertemu denganmu," jawab Ben.
Laras menghela nafas dalam-dalam. "Bukankah aku yang seharusnya takut kau berpaling? Lihat dirimu, Mr. Chevalier."
"Kau gadis langka, kau ingat pesan Monica, bukan? Aku harus menjagamu baik-baik."
Laras menepuk jidatnya. Binatang kali, langka! Ben terkekeh melihat ekspresi lucu Laras. Keduanya menghabiskan makan siang diselingi canda tawa yang hangat.
***
HOLOCENE BAR, BUCKMAN, PORTLAND.
Dengan menggandeng tangan Laras, Ben menghampiri Jonathan Rivers yang tengah duduk di sofa VIP, ditemani oleh seorang wanita dengan dandanan cukup seksi yang selalu menempel pada lelaki berambut cepak itu.
"How are you, Joe?" sapa Ben. Sepertinya lelaki yang juga penuh tattoo itu telah berada dibawah pengaruh alkohol. Diliriknya beberapa gelas cocktail yang telah kosong.
Jonathan mengalihkan pandangannya ke arah Laras, matanya menyipit.
"Gadis baru?" goda Jonathan sembari terkekeh.
"Ah, Laras, this is Joe .. Joe, this is Laras." Ben mengenalkan.
Jonathan atau Joe menyambut tangan Laras kemudian menciumnya layaknya seorang gentleman.
"You're pretty," puji Joe tanpa berkedip memandang ke arah Laras yang saat itu mengenakan mini dress sederhana berwarna cokelat, lengkap dengan stocking dan sepatu flat vintagenya. Tidak terkesan glamour atau seksi, namun Laras terlihat begitu manis.
Laras hanya tersenyum mendengar pujian Joe. Ah, hampir lupa jika lelaki di hadapannya ini juga seorang rock star yang biasanya hanya dilihatnya di televisi, majalah atau youtube.
Ben yang merasa risih dengan tatapan Joe terhadap Laras segera menarik Laras untuk duduk di sampingnya. Sementara Joe kembali duduk di samping wanita yang sejak tadi bersamanya, dan melambai memanggil seorang pelayan.
"Kau harus coba racikan cocktail baru di sini,"
ujar Joe. "Bawakan empat gelas lagi seperti yang tadi aku pesan, okay, manis," katanya pada pelayan wanita dengan bando kelinci di kepalanya, sembari menepuk bokongnya pelan.
Si pelayan cantik itu tersenyum manja. Namun matanya tak lepas memandang ke arah Ben. "Yes, Mr. Rivers," jawabnya, kemudian berlalu.
Ben terbahak melihat tingkah Joe yang tak pernah berubah dari dulu, selalu menggoda para wanita.
"Gadismu cantik sekali, Ben .. di mana kau mendapatkannya?" tanya Joe pelan, dan Laras yang tengah menyapu pandangannya berkeliling ruangan besar yang mulai ramai oleh pengunjung itu pun sepertinya tak mendengarnya, walaupun suara musik belum terlalu menghentak-hentak.
Ben tertawa lebar mendengar perkataan lelaki itu, tanpa berniat untuk menjawabnya.
"Aku mau juga yang seperti itu. Gadis asia yang petit," kekeh Joe sembari melirik Laras.
__ADS_1
Ben mengibaskan tangannya, tak ingin menimpali perkataan Joe. "Bagaimana kabar Dead Moon? Ada album baru?" tanya Ben mengalihkan pembicaraan.
"Naaah, kami tidak seproduktif Rebellion."
"Aku dengar drummermu dipecat?"
"Yeah, dia terlalu bermasalah."
"Hmmm," gumam Ben.
Pelayan cantik berbando kelinci kembali dengan membawa empat gelas besar cocktail. Setelah meletakkannya di atas meja, wanita itu tersenyum ke arah Ben dengan genitnya lalu kembali berlalu. Ben hanya menggeleng pelan.
"This is so good," ujar Joe. "Ah, Laras .. you should try this, you'll like it." Joe melongokkan kepalanya untuk berbicara dengan Laras yang terhalang badan Ben. Kemudian menyodorkan gelas berisi minuman berwarna biru itu kepada gadis itu. Melihat itu semua, Ben cepat-cepat menyambar gelas dari tangan Joe dan memberikannya pada Laras.
"Don't drink too much, baby." Ben berpesan.
Laras mengangguk. Ah, Ben kenapa jadi protektif begini. Dada Laras tiba-tiba berdesir. Ditambah lagi menyaksikan senyum Ben yang manis dan tatapannya yang lembut itu.
***
Malam semakin larut, suasana bar pun menjadi semakin ramai. Beberapa gelas telah dihabiskan Joe dan Ben, namun kedua lelaki bertattoo itu masih tampak bugar. Sementara Laras hanya menghabiskan satu gelas saja, itu pun sudah mampu membuat tubuhnya terasa begitu ringan.
"Babe, I gotta go to toilet, don't go anywhere, okay?" ujar Ben. Laras terkekeh. Memangnya mau pergi kemana, ada-ada saja Ben.
Ben beranjak dari duduknya dan melangkah menuju ke arah toilet yang dikhususkan untuk pengunjung VIP.
Joe yang melihat kesempatan untuk berbicara dengan Laras segera menggeser duduknya ke arah Laras tanpa mempedulikan wanita seksi yang duduk di sampingnya. Wanita itu sudah terlalu mabuk sepertinya, hingga tertelungkup di atas sofa.
Laras terkejut ketika mendapati Joe telah berada di sampingnya dan tersenyum ke arahnya. Untuk sesaat lelaki itu membuatnya takjub. Namun perasaan itu sirna ketika Joe menyunggingkan senyum nakalnya.
"Berapa Ben membayarmu?" tanya Joe yang membuat Laras terperangah.
"A-pa maksudmu?"
"Apa kau sedang berpura-pura? Ayolah .. berapa harga sewamu semalam?"
Dada Laras bergemuruh menahan amarah. Jadi dia pikir Laras adalah wanita sewaan Ben. Brengsek!
Joe mencoba meraih tangan Laras namun dengan segera gadis itu menepisnya.
"Wah wah, kau belum jinak rupanya," kekeh Joe semakin bersemangat.
"Tolong jaga ucapanmu, Mr. Rivers!" seru Laras sembari beranjak dari duduknya. Namun Joe segera menarik tangannya hingga Laras jatuh terduduk kembali di sofa.
Lelaki itu berusaha untuk mencium bibir Laras dengan paksa. Dengan sekuat tenaga gadis itu mendorong dada Joe yang semakin bernafsu mengincar bibir Laras.
"Ayolah, Ben tidak akan keberatan, dia bisa mencari yang lebih cantik lagi darimu malam ini."
Dorongan tubuh Joe begitu kuat hingga Laras mulai kehabisan tenaga, apalagi kepalanya mulai terasa pusing. Suara musik yang begitu keras membuat teriakannya tak dipedulikan oleh siapapun.
"Joe, apa yang kau lakukan, brengsek!" teriak Ben yang baru saja kembali dari toilet. Dicekalnya kerah baju Joe dan didorongnya tubuh lelaki itu dengan keras hingga terpelanting jatuh dari sofa.
"Laras, are you okay?" Ben memeriksa Laras yang tengah terisak. Kemudian memeluknya dan menenangkan kekasihnya itu. "It's okay, baby .. I'm here," ujarnya seraya mencium puncak kepala Laras.
Joe bangkit dan terbahak melihat adegan mesra antara Ben dan Laras.
"Hei, Ben .. aku ingin memakai gadis itu setelah kau selesai dengannya, okay?" ujar Joe seraya berjalan ke arah sofa dengan sempoyongan akibat pengaruh alkohol dan juga pukulan Ben.
"Kau bilang apa, brengsek!" Ben yang tersulut emosinya dengan perkataan Joe kembali menarik kerah baju lelaki itu dan satu pukulan mendarat tepat di sudut bibirnya. Membuat Joe tersungkur. Darah segar mengalir dari bibirnya yang pecah. Tak puas dengan satu pukulan, dihajarnya kembali lelaki itu dengan pukulan bertubi-tubi di perut, dada dan terakhir di hidungnya.
"Ben, sudah, hentikan!" teriak Laras sembari menahan tangan Ben.
Kekacauan itu membuat para pengunjung bar yang tengah menikmati musik di lantai dansa kini mengalihkan perhatian mereka ke arah meja VIP. Sementara para pelayan yang panik dengan kejadian itu segera memanggil penjaga untuk melerai.
"A-kan ku-ba-las kau, Ben!" ujar Joe terbata ketika dua orang security berbadan besar itu memapahnya pergi.
"Brengsek!" maki Ben masih dengan nafasnya yang memburu. Laras merengkuh Ben berusaha untuk meredakan amarah kekasihnya itu.
__ADS_1
"Let's get out of here ...." Ben membenarkan kemejanya yang berantakan dan menggandeng tangan Laras keluar dari club, diikuti dengan banyak pasang mata yang menatap mereka hingga keduanya tak terlihat lagi.
***