
Ben keluar dari gedung NBC bersama tiga personel The Rebellion yang lain setelah usai melakukan interview di stasiun TV bergengsi yang beralamat di Brooklyn. Di luar gedung telah menunggu beberapa wartawan yang sudah berjam - jam menantikan kemunculan mereka.
Para wartawan pun menyambut keempatnya dengan berbagai pertanyaan seputar kembalinya band stoner rock itu ke jagad industri musik Amerika.
"Apa yang membuat Rebellion tiba - tiba mengakhiri masa hiatus?"
"Apa itu berhubungan dengan pulihnya kesehatan mentalmu, Ben?"
"Apa kau sudah berdamai dengan dirimu sendiri, Ben, kau sudah menerima kepergian istrimu?"
Ben mengepalkan kedua tangannya erat. Berusaha menahan emosinya yang meluap. Memang mulut wartawan tak ubahnya pisau belati yang mampu menghujam jantungnya.
"Rebellion kembali karena memang harus kembali. Tidak ada alasan apapun yang mendasarinya, okay?"
Ben membenarkan letak kaca mata hitamnya lalu masuk ke dalam mobilnya. Diikuti oleh ketiga personel yang lainnya. Para wartawan masih berusaha untuk menahan mereka masuk ke mobil hingga akhirnya Gregory berhasil menutup pintu dan mobil pun melaju.
"Kau baik - baik saja, Ben?" tanya Liam di sebelah Ben yang tengah mengemudi.
"Tidak. Aku ingin sekali memukul wajah mereka satu persatu," kekehnya. "Kalian lapar?" tanyanya kemudian mengalihkan pembicaraan.
"O yeah," sahut Marcus seraya mengelus perut ratanya.
"Some Indonesian food, maybe?" tawar Ben.
"That would be nice," sahut Marcus kembali, yang langsung disetujui oleh Liam dan Gregory.
Ben mengemudikan mobilnya menuju area 6th Avenue yang dipenuhi pertokoan kecil di sepanjang jalan.
.
.
Nak, sibuk nggak hari ini? Bantuin Om di toko ya, Tantemu sama Debby lagi keluar kota.
Begitu membaca pesan dari Om Surya, Mia langsung bergegas ke 6th Avenue.
__ADS_1
Toko kelontong Pamannya ini tidak terlalu besar. Dibagi menjadi dua bagian. Satu bagian dibuat seperti mini market yang menyediakan bahan - bahan makanan dan bumbu - bumbu khas Indonesia, dan sebagian kecil yang lain yaitu di bagian depan, dijadikan kedai makan kecil yang juga menyajikan masakan khas Indonesia dan hanya ada beberapa meja saja.
Mungkin warung Indonesia Om Surya adalah satu - satunya yang ada di sekitaran Brooklyn dan Manhattan. Banyak orang Indonesia yang bermukim di kedua county dan sekitarnya yang menjadi langganan di sana. Tak hanya orang - orang Indonesia, beberapa selebriti juga terkadang muncul dan makan di kedai.
Dulu sebelum Mia pindah untuk tinggal sendiri dan mendapat pekerjaan tetap di Linden Center, setiap harinya gadis itu membantu Pamannya mengurus toko. Kini hanya sesekali saja Mia membantu Om Surya, jika pria paruh baya itu membutuhkan tenaganya.
Rencananya hari ini, hari minggu, Mia hanya ingin beristirahat saja di apartemennya. Namun dia tidak bisa menolak jika Pamannya meminta bantuannya. Bagaimanapun, Om Surya sudah sangat berjasa dalam hidupnya. Dan dia adalah satu - satunya keluarga yang dimiliki Mia sekarang.
"Ah, Mr. Chevalier, sudah lama sekali."
Mia yang tengah berada di meja kasir dan memasukkan barang belanjaan seorang pembeli, menoleh ke arah suara Pamannya terdengar. Jantungnya berdegup kencang ketika mendapati ada empat pria berambut panjang yang tengah berdiri di depan pintu masuk. Salah satu dari mereka adalah Ben Chevalier. Pria berambut pirang itu menoleh ke arahnya, raut wajahnya sedikit menunjukkan rasa keterkejutan. Namun segera menutupi dengan wajah datarnya.
"Hi, Mia, kau bekerja di sini?" tanya Ben, mencoba bersikap ramah. Tentu saja hal itu sukses membuat dahi Om Surya mengerenyit.
"Kau kenal keponakanku?" tanya Om Surya. Membuat Mia mengurungkan niatnya untuk menjawab pertanyaan Ben.
"Emmh .. Mia adalah guru les biola anakku."
"Owh, I see ...."
Om Surya mempersilahkan ke empat pria itu duduk. Mia mengangguk ke arah Marcus yang sejak tadi melemparkan senyum padanya. Membuat gadis itu merasa canggung.
"Kami mau makan nasi goreng, Mr. Kusuma." Suara Ben membuat Mia melirik ke arah pria itu sekilas. Kedua mata mereka bertemu. Hanya dua detik lamanya, dan Mia buru - buru memalingkan wajahnya.
"Terima kasih," ucap Mia ramah pada seorang pembeli yang telah selesai membayar barang belanjaannya.
Dua puluh menit kemudian Om Surya memanggilnya ke dapur.
"Om kenal Ben Chevalier?" tanya Mia begitu dia berada di dapur membantu Pamannya menyiapkan empat piring nasi goreng pesanan para personel The Rebellion.
"Dia dulu sering makan di sini sama istrinya, orang Indonesia juga."
"Oowh," gumam Mia.
"Tapi sejak istrinya meninggal udah nggak pernah ke sini lagi," ujar Om Surya. "Kamu anter pesenan mereka ya," perintahnya kemudian.
__ADS_1
Mia mengangguk. Kemudian menyambar nampan besar dan meletakkan empat piring berisi nasi goreng lengkap dengan topingnya yaitu suwiran ayam dan kerupuk udang.
"Biar kubantu," ujar Marcus sembari meraih nampan yang dibawa oleh Mia. Liam dan Greg hanya mendesis pelan. Sementara Ben acuh tak acuh dan sibuk dengan ponselnya.
"Silahkan," ucap gadis itu.
Om Surya menyusul dengan membawa empat gelas minuman susu jahe.
"Compliment untuk The Rebellion," ujar Om Surya.
"Owh, how nice, thanks, Mr Kusuma." Senyum Ben mengembang. Tertangkap oleh mata Mia, yang kini sudah kembali berdiri di belakang meja kasir.
Ya Tuhan, manis sekali.
Om Surya tersenyum. Lalu meninggalkan keempatnya dan kembali menuju dapur.
"Jahe dan susu, perpaduan yang sedikit aneh, bukan?" celetuk Marcus sembari mengecap - ngecap seteguk minuman berwarna putih itu.
"Bagus untuk menghangatkan tubuh di musim dingin," ujar Ben sembari menyuapi dirinya sesendok nasi goreng. "Mmm .. rasa nasi gorengnya tidak berubah, masih seenak dulu," gumamnya.
Laras yang mengajaknya pertama kali ke tempat ini. Tiga tahun yang lalu.
Ada kedai Indonesia di Brooklyn, temani aku makan di sana, aku ingin makan nasi goreng.
Ben tersenyum mengingat rengekan Laras waktu itu, memaksanya menemaninya ke kedai ini. Tepat di kursi yang sedang didudukinya kini, tiga tahun yang lalu, memandang wajah menggemaskan Laras dihadapannya yang dengan lahap menyantap nasi goreng porsi jumbonya.
"Ben, Ben, hellooo?" Suara Liam membuat Ben terkesiap.
"Ya?" jawabnya gugup. Dilihatnya piring ketiga sahabatnya itu telah kosong. Lalu memandang ke arah Marcus yang tengah berbincang dengan Mia di meja kasir.
"Aku sudah selesai." Ben meletakkan sendok dan garpunya di atas piring yang masih terlihat penuh itu dan beranjak dari duduknya. Marcus mengisyaratkan padanya kalau dia sudah membayar billnya.
Om Surya tergopoh - gopoh menghampiri Ben dan mengucapkan terimakasih.
"See you, Mr. Kusuma," ucap Ben. Kemudian memandang sekilas ke arah Mia yang juga tengah memandang ke arahnya. Pria itu hanya mengangguk pelan, disambut senyum tipis gadis itu.
__ADS_1
"Sampai jumpa, Mia, senang berbicara denganmu," ujar Marcus dengan senyum lebarnya. Mia melambai kecil. Namun pandangan mata gadis itu tertuju pada punggung Ben yang terlihat dari balik pintu kaca toko, mulai menjauh.
***