I Am Yours,Mr Chevalier!

I Am Yours,Mr Chevalier!
Part 64


__ADS_3

Laras membuka matanya ketika merasakan sesuatu menyentuh pipinya. Dengan pandangan yang masih buram dilihatnya Ben tengah memamerkan senyumnya memandangi wajah kusut khas bangun tidur Laras, sembari duduk di tepian ranjang, membawa sepotong sandwich bakar dan segelas susu putih.


"Aku membuatkanmu sarapan," ujar Ben seraya meletakkan nampan ke atas meja. Lalu mengambil piring berisi sandwich dan memberikannya pada Laras.


"Thanks," ucap Laras. Ah, Ben manis sekali membuatkannya sarapan.


"Senang melayanimu, Nona." Ben membungkuk memberi hormat kepada Laras, tentu saja hanya bercanda. Laras tertawa kecil dibuatnya. Dunia sudah terbalik, batinnya. Seorang Benjamin Chevalier, gitaris dari The Rebellion yang terkenal itu, membuatkan sarapan untuk gadis perantau dari Asia Tenggara yang tinggal di apartemen sempit, alias hidupnya pas-pasan, atau lebih kasarnya lagi, miskin. Memikirkan semua itu membuat Laras senyum-senyum sendiri.


"Ada yang lucu?" tanya Ben.


"Owh .. tidak .. sorry," jawab Laras gugup. Pandangannya di arahkan ke samping seraya menggigit sandwichnya. Kemudian gadis itu menyadari sesuatu.


"Emm .. Ben .. bukankah semalam aku tertidur di sofa?" tanya Laras kebingungan. Menyadari bahwa dirinya sekarang ini sedang berada di dalam kamar.


"Kau tidur sambil berjalan," jawab Ben.


"Seriously?"


"Nah .. aku bercanda." Ben terkekeh.


Laras mendengus kesal. "Lalu, bagaimana caranya aku bisa ada di sini?"


"Aku menggendongmu," jawab Ben dengan entengnya.


Mata Laras membulat. "Tunggu .. kau serius, Ben? Lalu, apa yang terjadi setelah itu, apa kau dan aku .. emm ...." Laras kebingungan menyusun kata-katanya.


"Malam terindah yang pernah aku lalui," sahut Ben, cengiran menggemaskannya terbit dari bibirnya. Wajah Laras seketika memerah. Tiba-tiba kepalanya berdenyut.


"Seriously?" Hanya itu yang keluar dari mulut Laras.


"Aku bercanda." Kali ini Ben tergelak. Entah bagaimana menggambarkan ekspresi kaget bercampur malu Laras yang menghasilkan mimik muka lucu gadis itu. "Tenang, Laras .. aku tidak seburuk itu."


Laras mendecak sebal.


"Tapi aku tidur di sebelahmu, memandangi wajah polosmu selama berjam-jam."


"Freak!" maki Laras. Ben kembali tergelak, berhasil mengerjai gadis penggerutu itu.

__ADS_1


"Okay Laras .. habiskan makanmu, lalu mandi dan kita pergi." Ben mengalihkan pandangannya ke dinding. "Jam satu aku ada rehersal, kalau aku terlambat Jack akan membunuhku," ujarnya seraya bangkit dari duduknya dan melangkah ke luar kamar.


Laras memandangi tubuh berbalut kemeja yang digulung di bagian lengannya itu hingga menghilang di balik pintu. Laras menghela nafas dalam-dalam, mencoba mengingat kata-kata yang diucapkan Ben semalam sebelum Laras terlelap. Samar-samar sepertinya Laras mendengar Ben mengucapkan "I love you" namun Laras tak begitu yakin. Laras tersenyum sendiri, mungkin dia yang terlalu mengharapkan kata-kata itu keluar dari mulut Ben, sampai-sampai dia berhalusinasi.


***


Ben memarkir mobilnya di halaman hotel tempat Laras dan Catherine menginap. Lelaki itu menoleh ke arah gadis di sebelahnya.


"Kau yakin akan pulang ke New York malam ini?" Ben berharap Laras tinggal sampai The Rebellion menyelesaikan rangkaian acara di Wichita, atau bahkan ikut sampai tour selesai.


"Tugas kuliah menumpuk, dan aku hanya memdapat ijin dua hari saja dari Larry."


Wajah Ben terlihat kecewa. " Laras ...."


" Ya?"


Badan Laras seperti tersetrum aliran listrik tegangan rendah ketika tiba-tiba Ben melu**t bibirnya tanpa bisa dihindari. Nafas Laras tersengal-sengal, namun sepertinya Ben belum ingin menghentikan aksinya.


Ben menyudahi ciumannya dengan satu gigitan lembut di bibir Laras. Direngkuhnya tubuh gadis itu seakan-akan tidak ingin dilepaskan.


Wajah Laras bersemu merah. Dibenamkannya kepala ke dada Ben. Menikmati aliran energi hangat yang disalurkan lelaki itu padanya. Pelukan perpisahan mereka berlangsung lima menit lamanya.


"You should go, Ben," ujar Laras seraya melepaskan pelukannya.


Ben melirik jam di pergelangan tangannya.


"I should, probably, yeah ...."


Laras menatap mata biru itu dalam-dalam.


"Thank you .. take care, Ben," ujarnya, kemudian membuka pintu mobil dan bersiap keluar.


"Laras!" panggil Ben.


"Ya." Laras menoleh.


Ben terdiam beberapa saat. " I .. ee .. emm .. call me," ujarnya terbata.

__ADS_1


Laras mengangguk. Kemudian menutup pintu mobil dan berjalan masuk ke lobby hotel. Ben menarik nafasnya dalam-dalam. Memandang punggung mungil itu dengan mata sayu.


***


Laras membuka pintu kamar hotelnya dan mendapati Catherine tengah duduk bersila di atas kasur dengan berbagai cemilan di pangkuannya. Matanya membulat melihat kedatangan Laras. Senyum jahilnya tersungging.


"Hiiii ...." Catherine melambaikan tangannya ke arah Laras. Gadis itu mendengus pelan. Sudah bisa ditebak sahabatnya itu akan menginterogasinya sebentar lagi.


Laras menghempaskan tubuhnya di samping Catherine, mengambil satu bungkus potatao chip dari pangkuannya.


Catherine berdehem. "Kau mau menceritakan padaku apa yang terjadi semalam?" Catherine menaik-naikkan alisnya.


"Tidak terjadi apa-apa," jawab Laras sembari mengunyah potato chipnya.


Catherine membalikkan badannya ke arah Laras. "No way!" pekiknya, disusul dengan anggukan Laras.


"Seriously? Kau bermalam dengan Benjamin Chevalier dan tidak memanfaatkan moment itu untuk bercinta dengannya? You're unbelievable, Laras," ujar Catherine.


Laras hanya meringis.


"Are you even normal?" tanya Catherine, Laras terbahak mendengarnya.


"I kissed him," bantah Laras.


"Wah .. sebuah kemajuan yang signifikan," sindir Catherine sembari bertepuk tangan. Laras meringis.


"Kenapa harus terburu-buru, aku ingin melihat apa Ben memang benar-benar suka padaku atau menganggapku sama seperti wanita yang dikencaninya," ujar Laras.


"Kau tidak bisa mendeteksinya? Laras .. Ben mengabaikan seorang Anita Wallis demi dirimu, apa itu tidak cukup jelas?"


Laras menghela nafas dalam-dalam. Menatap langit-langit kamar bercat putih itu.


"Menurutmu aku harus bagaimana?"


"Bercintalah dengannya," ujar Catherine dengan entengnya. Mata Laras membulat. Memukul kepala sahabatnya itu dengan bantal. Catherine mengaduh namun sejurus kemudian tawanya meledak.


***

__ADS_1


__ADS_2