
Malam itu langit Wichita begitu cerah.
"Wow, what was that?" tanya Ben, begitu keduanya menghentikan ciuman mereka, dan kembali ke posisi duduk masing-masing. Muka Laras telah merona merah di bawah sinar lampu taman yang redup. Gadis itu mengelus tengkuknya mencoba menghilangkan kegugupan yang melandanya.
Sementara senyum Ben tak henti-hentinya tersungging dari bibirnya.
"I'm .. sorry, it was .. embarrassing," ujar Laras terbata. Rasa malu menyerangnya tanpa ampun. Laras mengutuki diri sendiri dalam hati. "Aku pasti terlihat seperti seorang groupie yang agresif sekarang," sambungnya.
Ben terbahak. "Groupie favoritku ...."
"See?" Laras bersungut. Gadis itu mencondongkan badannya ke depan dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Damn .. I feel so embarrased now," ujarnya.
"It was nice." Ben menyentuh bahu Laras lembut. Gadis itu masih menyembunyikan wajahnya dibalik telapak tangannya.
"Oh, nooo ...." Kata-kata Ben membuat Laras melenguh panjang, lenguhan penuh penyesalan.
"Hey .. wanna see something cool?" tawar Ben, mencoba membuat suasana hati Laras menjadi normal kembali. Laras menoleh ke arah Ben. Lelaki itu masih memasang senyumnya, senyum manis yang jahil.
"What?" tanya Laras lirih.
Ben berdiri, kemudian meraih tangan Laras dan menggandengnya menuju ke arah parkiran mobil.
Ben membuka aplikasi google map di ponselnya kamudian mengemudikan mobilnya mengikuti petunjuk yang di arahkan layanan pemetaan web itu
***
FONTAINS AT WATERWALK, WICHITA, KANSAS.
"Wow!!" pekik Laras kegirangan ketika mendapati pemandangan menakjubkan di depannya. Sebuah pertunjukan light/water show yang spektakuler. Permainan air mancur berwarna-warni yang membentuk koreografi tumpang tindih dan terkadang menjulang tinggi bagaikan kembang api yang begitu memanjakan mata. Disertai alunan musik klasik yang senada dengan liukan air.
"This is awesome!" seru Laras sembari mengangkat kedua tangannya, merasakan percikan lembut air yang menyentuh wajahnya. Orang-orang di sekitar mereka, ada beberapa yang berpasangan juga tengah menikmati permainan air itu.
__ADS_1
"Kau suka?" tanya Ben, disambut dengan anggukkan mantap gadis itu.
"Ini benar-benar keren," ujar Laras dengan mata berbinar. Ben tersenyum, sepertinya gadis itu telah lupa dengan tragedi ciuman di taman beberapa saat lalu.
"You know what, I could stay here all night, watching this spectacular show," gumam Laras. Gadis itu melepas sepatunya, kemudian masuk ke dalam sebuah kolam kecil setinggi mata kaki dan berputar-putar layaknya anak kecil yang menggila ketika bertemu dengan kubangan air. Ben tergelak melihat tingkah Laras yang lucu.
"Hey, kau mau melihat show spectacular yang lain?" tanya Ben.
"Hmmm .. what?"
Ben mendekat ke arah Laras.Terdiam sebentar sembari menatap gadis itu lekat. Tanpa aba-aba lelaki itu mengeruk air dengan telapak tangannya, lalu melemparkannya ke arah Laras. Mengulangi kejahilannya itu hingga dua kali. Gadis itu membulatkan matanya dan membuka mulutnya tak percaya. Sementara Ben hanya tertawa-tawa melihat Laras yang shock. Mantel, baju dan rambutnya menjadi basah.
"Awas kau, Ben!" teriak Laras dengan kesalnya lalu membalas perbuatan Ben dengan hal yang sama. Namun lelaki itu dengan sigap menghindar, hanya membasahi sebagian kecil jaketnya. Ben semakin tergelak melihat ekspresi wajah kesal Laras yang menggemaskan.
"Ben, kemari kau, berandalan!"
***
Keduanya berada di sebuah restauran burger kecil di pinggir kota Wichita.
Ben memindah posisi duduknya di sebelah Laras, gadis itu tampak kedinginan, membuatnya semakin merasa bersalah. Dibukanya jaketnya lalu memakaikannya pada Laras.
"Aku tidak akan memaafkanmu!" gerutu Laras sembari menggigit burger ukuran jumbonya dan mengunyahnya dengan kasar.
"Bagaimana kalau kuberi kau satu ciuman di pipi, apa bisa meredam kemarahanmu?" Ben mendaratkan ciumannya di pipi Laras yang tak punya waktu untuk menghindar. Gadis itu mendecak.
"Kau ini!" gerutu Laras. Dengan lampu yang cukup terang di dalam restauran, pipi merah Laras terlihat jelas.
Ben meringis. Lelaki itu meletakkan kedua lengannya di atas meja, lalu memperhatikan aktifitas makan Laras dengan seksama. Membuat gadis itu merasa jengah, salah tingkah lebih tepatnya.
"Ada sisa makanan di sudut bibirmu," ujar Ben.
"Benarkah?" tanya Laras sembari mengusap sudut bibirnya.
__ADS_1
"Aku bercanda."
"Benjamin!" hardik Laras kesal.
Ben terkekeh. "Baiklah, aku akan berhenti menggodamu, makanlah dengan tenang, Nona," ujarnya seraya menyenderkan punggungnya ke belakang sofa. Meletakan kedua lengannya di belakang kepalanya.
Ponsel Ben bergetar, segera diraihnya benda itu dan memeriksanya. Nama Jack tertera di layar.
" Aku akan menginap di suatu tempat." Ben menjawab pertanyaan Jack di seberang sana.
"Ya, ya .. rehearsal jam 1 siang, aku tahu," ujarnya. Kemudian menutup sambungan telponnya.
Laras yang mendengar perkataan Ben mengerenyitkan dahinya. Menginap di suatu tempat?
"Kau berencana menginap di mana?" tanya Laras penuh selidik.
"You'll see ...." cengiran jahil Ben kembali menghiasi bibirnya. Laras melipat tangannya di dada, menyipitkan matanya dengan bibirnya yang manyun.
"Relax, princess, you'll be safe with me." Ben mencubit pipi Laras lembut. Lalu mengambil potongan burger di piring Laras yang tinggal sebagian dan memberikannya kepada gadis itu.
"Habiskan makananmu," ujarnya.
Laras menyambar burger dari tangan Ben dan mengunyahnya, namun matanya masih menatap Ben dengan penuh kecurigaan.
Ben mengangkat tangannya tanda menyerah, tak kuasa menghadapi tatapan tajam dari gadis asia berwajah imut yang mengalirkan energi hangat ketika berada di dekatnya itu.
***
Catatan Penulis :
Fontain ~ air mancur
Groupie ~ seseorang yang mecari keintiman emosional dan fisik dengan musisi atau selebriti lainnya.
__ADS_1