I Am Yours,Mr Chevalier!

I Am Yours,Mr Chevalier!
Part 51


__ADS_3

"What?"


Ben terbelalak tak percaya dengan apa yang baru saja disampaikan oleh menejernya, Jack. Keduanya berada di dalam tour bus Rebellion.


"Aku tidak bisa melakukannya, kau suruh Marcus saja, dia menyukai Hailey," ujar Ben.


"Kau frontman Rebellion, orang akan sangat menunggu-nunggu berita terbaru darimu, ini bagus sekali untuk penjualan album kita," bujuk Jack.


"Kenapa aku harus melakukan omong kosong ini?" Ben memukul meja di hadapannya dengan kesal.


"Ayolah, Ben .. kau hanya perlu terlihat jalan satu kali dengan Hailey, media mendapatkan foto kalian, gosip tersebar, ya sudah, kau tidak harus melanjutkan apapun dengan Hailey kalau kau tidak mau, tapi kalau kau mau, itu lebih bagus lagi," terang Ben.


Ben mendecak. Raut mukanya begitu suram. Hatinya sungguh keberatan melakukan gimmick murahan semacam itu. Diacaknya rambut panjangnya dengan frustrasi.


"What's wrong with you, Ben .. biasanya kau tidak bisa menolak wanita cantik, kenapa kau terlihat begitu tertekan?" tanya Jack sembari menaikkan satu alisnya.


Ben berkacak pinggang dan menarik nafas dalam-dalam. Pandangannya lurus dan kosong. Ya, ada apa dengan dirinya? Sejak dekat dengan Laras, dia seperti kehilangan gairah dengan wanita lain.


"Sekali ini saja Ben, pihak EMI dan Warner Bros menginginkan ini, mereka ingin kita memblow up Resistance sebelum masuk ke rumah produksi mereka, lagi pula Resistance punya banyak penggemar di seluruh US, meskipun saat ini mereka masih di bawah naungan indie label. Kalau kita melakukan ini, akan sangat bagus."


Ben menghempaskan tubuhnya ke atas sofa.


Disibakkannya rambut ke belakang. Lelaki itu sangat membenci strategi marketing yang melibatkan scandal seperti ini. Tetapi di dalam industri musik atau hiburan, hal seperti ini hampir tidak bisa dihindari.


"Where's my beer!" seru Ben seraya memberi isyarat kepada Jack dengan menggoyangkan telapak tangannya, agar lelaki berkulit pucat itu mengambilkannya sebotol bir.


Jack tersenyum puas. Akhirnya Ben luluh. Segera saja diambilnya satu botol bir dari dalam lemari pendingin dan menyodorkannya pada Ben.


Apa yang akan dipikirkan Laras nanti. Imagenya akan semakin buruk di hadapan gadis itu. Ben benar-benar dalam dilema yang besar.


***


BROKEN ENGLISH TACO PUB, CHICAGO.


Ben turun dari mobil mercy hitam yang mengantarnya dan masuk ke dalam restauran diikuti Hailey di belakangnya. Membenarkan letak kacamata hitamnya dan menutup kepala dengan hoodienya.


Beberapa orang wartawan mengikuti keduanya sembari memanggil-manggil nama Ben dan Hailey namun ditahan oleh dua orang penjaga keamanan yang berada di pintu restauran. Mereka pun rela menunggu di luar dan sesekali mengambil video Ben dan Hailey yang terlihat dari kaca jendela restauran. Nampak keduanya tengah duduk di meja mereka. Sesekali Hailey melambaikan tangan ke arah para wartawan itu.


"Wow .. aku tidak percaya bisa makan siang berdua dengan seorang Ben Chevalier," ujar Hailey sembari menggigit potongan pizza yang dipesannya.


Ben hanya tersenyum tipis. Diperhatikannya wajah gadis itu. Riasan emo di wajahnya membuat Hailey terlihat gahar.


"Kau senang?" tanya Ben acuh. Terlihat dengan jelas Ben tidak merasa nyaman. Hingga wajahnya terlihat tegang.


Hailey mendecak. "Hey ayolah Ben, santai saja, bukankah aku tidak terlalu buruk?" Hailey mengedip-ngedipkan matanya memasang tampang imutnya.


"Kau tahu, aku akan dapat masalah besar dengan melakukan ini semua." gerutu Ben.


Hailey terbahak. Dipandangnya wajah tampan Ben lekat-lekat.


"Hmm .. Ben yang aku tahu lewat media adalah seorang casanova, dikelilingi banyak wanita cantik, aku tidak percaya kencan denganku membuatmu tidak nyaman seperti ini, aku merasa aku tidak cukup cantik untukmu," ujar Hailey tiba-tiba. Wajahnya cemberut.


"Ha-ha." Ben berpura-pura mentertawakan perkataan Hailey.

__ADS_1


Hailey menyeruput minuman dinginnya. Berpikir sejenak. "Kau sedang jatuh cinta pada seseorang!" tebak Hailey. Ben nampak terkejut mendengarnya.


"Kau cerewet sekali ya," hardik Ben.


Hailey terkikik. "Siapa wanita yang beruntung itu?" tanya Hailey kemudian.


"Bukan urusanmu, Hailey," tukas Ben.


"Anita Wallis?" tebak Hailey kembali sembari menaik-naikkan alisnya.


"Look, Hailey .. you start to be so annoying, you know that?" Ben menaikkan sebelah alisnya dan memberi peringatan agar Hailey tak mengganggunya dengan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat pribadi.


"Fine," gerutu Hailey.


"Can we just finish the pizzas and get out of here?" Ben menyambar pizza di piringnya dan mulai menghabiskannya.


Hailey bersungut-sungut. Dalam hatinya dia semakin penasaran dengan sosok gitarist tampan di hadapannya ini. Dan tentu saja pesonanya yang sulit ditepis sejak pertama kali melihatnya di rehearsal kemarin.


***


GEDUNG NBC, NORTH COLUMBUS, CHICAGO.


"Ladies and Gentleman, The Rebellion!"


Suara Mark Villiard, pembawa acara menyerukan nama The Rebellion disusul kemunculan mereka. Disambut dengan tepuk tangan penonton yang memenuhi ruangan studio.


"Benjamin, Gregory, Marcus, and Liam, how are you doing?" sapa Mark mengawali interview.


"Absolutely good," jawab keempat lelaki yang kini telah duduk berjejer di atas sofa panjang berhadap-hadapan dengan sang pembawa acara.


"Just one venue, but it's gonna be a big concert," jawab Gregory.


"It's Vic Theartre, right?"


"Yeah, yeah." Keempatnya menjawab bersamaan.


"Aku dengar akan ada kolaborasi dengan band pendatang baru dari Chicago, Resistance, apa benar?"


"Yeah, and we're so exited about it," jawab Marcus, lalu melirik Ben sekilas.


"Okay, tentang album baru kalian, The Sun Kingdom Queen, apa kalian optimis akan mendapatkan sukses besar seperti dua abum sebelumnya?"


"Hmm .. ya itu harapan semua musisi yang sudah bersusah payah mengerjakan karya mereka tentunya akan sangat memuaskan jika mendapat sukses besar sebagai imbalannya. Tapi, hasilnya kita lihat saja nanti, dan ya, kami optimis," jawab Ben dengan senyumnya yang menawan.


"Okay, kita akan berbicara hal-hal yang ringan-ringan saja, aku rasa kalian bosan selalu ditanya tentang inspirasi musik, pengerjaan album dan semua hal teknis lainnya."


Keempat personel The Rebellion tertawa dengan celetukan Mark. Dan membenarkan perkataannya.


"Aku ingin bertanya pada kalian satu persatu, siapa yang paling kalian benci di antara personel Rebellion dan sebutkan alasannya."


Kembali keempatnya tertawa. Kemudian saling pandang dengan memicingkan mata mereka.


"Harus jujur atau kami bisa berbohong?" tanya Liam.

__ADS_1


"Harus jujur, kumohon, hanya untuk NBC," ujar Mark, membuat seisi studio dipenuhi suara tawa.


"Kuharap kau tidak dalam misi untuk membubarkan kami ya?" gurau Greg. Tawa penonton pecah kembali.


"Hmmm .. no, it's just for NBC," Mark setengah berbisik. Terdengar kembali seruan penonton.


"Okay we're ready," kata Marcus.


Mark menepuk telapak tangannya sekali. Kemudian menunjuk Liam.


"Start from you, Liam."


"Marcus," jawab Liam. Disambut kekehan Marcus. "He's a bad boy, a play boy .. it's like he wants to create collection on girls. And put them in his closet," sambungnya.


"And it bothers you, Liam?" tanya Mark.


"Yeah, absolutely," sahut Liam.


Studio penuh dengan gelak tawa. Marcus hanya menggeleng-gelengkan kepala sembari melipat lengannya di depan dada.


"How about you, Marcus?"


"Hmm .. Greg," jawab Marcus. "Dia terlalu serius, kalau kau berbicara dengannya, seperti kau sedang berbicara dengan seorang bos mafia yang sangat menjaga wibawanya di depan anak buahnya."


Greg terbahak. Begitupun para penonton.


"Kau sendiri Greg?" tanya Mark.


Greg berpikir sejenak. "Ben," jawabnya.


"Alasannya?" tanya Mark kembali.


"Do I really have to be honest?" Greg balik bertanya.


"Absolutely yeah!"


"Damn!" maki Greg, disambut tawa penonton.


Greg tertawa kecil sembari melihat Ben sekilas.


"Because .. we fell in love with the same girl," ujar Greg pelan.


"Uuuuufh .. cold war alert, ladies and gentlemen," gurau Mark, tawa penonton bergemuruh. Mark mengalihkan pandangan kepada Ben.


"And Ben, how about you?" tanyanya.


"Greg, of course," jawab Ben. "The reason is pretty much the same. But I'm gonna tell him to back off anyway," sahutnya dengan wajah santainya.


Greg kembali terbahak. "We'll see huh," guraunya, menunjuk muka Ben.


Mark, sang pembawa acara tergelak mendengar pertengkaran pura-pura keduanya.


"Ladies and gentlemen, sekali lagi, tepuk tangan untuk The Rebellion!" serunya. Teriakan dan gemuruh penonton kembali memenuhi ruang studio.

__ADS_1


"Enjoy, Chicago, boys," ucapnya. "I'm Mark Villiard, good night everybody!"


***


__ADS_2