
THE PLAZA HOTEL,CENTRAL PARK
Anita membuka matanya perlahan. Sinar mentari yang menyeruak melewati jendela membuatnya silau. Wanita itu menyapu pandangan ke sekeliling ruangan. Dia ada di hotelnya. Ben tidak membawanya ke apartemennya di Big Apple. Sial, makinya dalam hati. Apa sekarang Ben sedang bersama gadis itu. Kepala Anita berdenyut.
"Sialan!!" maki Anita seraya bangkit dari ranjangnya. Diraihnya ponsel dan diutak atiknya sebentar.
"Hi, Anita .. kau baik-baik saja?" Suara Ben terdengar dari seberang.
"Where are you, Ben?" Nada suara Anita meninggi.
"I'm on my way to studio."
"See you there, honey!"
Anita menutup telponnya. Kemudian bergegas membersihkan dirinya di kamar mandi.
Beberapa saat kemudian wanita itu keluar dengan handuk melilit dadanya. Dipilih-pilihnya pakaian yang akan dikenakannya. Sebuah celana jean berwarna biru dipadukan dengan sweater hitam berlengan panjang. Kemudian memoles wajahnya sedikit dan mengenakan sepatu boot hak tingginya.
Anita memandangi penampilannya di depan cermin. Cantik dan sexy. Glamor dan elegan.
Mau bagaimanapun gadis pelayan restauran itu tidak layak bersaing dengannya untuk mendapatkan hati Ben. Anita tersenyum miring. Di sambarnya tas gucci berwarna hitam dan melangkah keluar dari kamar mewah itu.
***
Sembari menyetir, sesekali Ben melirik Laras yang duduk di kursi penumpang di sampingnya. Wajah gadis itu terlihat lelah.
"Apa kau masih pusing?" tanya Ben.
"Not really," jawab Laras sekenanya.
"Bisa temani aku makan bacon roll?" tanya Ben.
__ADS_1
Laras memandang Ben sekilas. Lalu mengedikkan bahunya. Ben tersenyum lalu menghentikan mobilnya di samping jalan Tudor City Park dekat apartemen Laras.
"Tunggu di sini, Nona," ujar Ben seraya menunjuk ke arah kursi panjang di bawah pohon rindang yang biasa mereka duduki sembari menikmati bacon roll.
Laras duduk di atas kursi. Sesekali dirapikannya cardigan yang menutupi tubuhnya. Udara dingin menerpa kakinya yang tidak tertutup stoking. Laras masih memakai pakaian yang dipakainya ke club semalam.
Taman tampak sepi. Dilihatnya Ben tengah kembali ke arahnya sembari membawa dua bungkus kertas bacon roll. Senyum manisnya mengembang.
"Thanks ...." ucap Laras sembari meraih bacon roll dari tangan Ben.
"Lihat,taman ini seperti milik kita sendiri," ujar Ben menyapu pandangan ke sekeliling. Tak nampak satu manusia pun kecuali mereka berdua.
Laras terkekeh.
"Kau pasti senang karena tidak akan di serbu oleh fans fanatikmu, terutama para wanita," ujar Laras.
"That's it!"
"Mmm .. kind of." Ben terkekeh. Kemudian menggigit bacon rollnya.
Laras memutar bola matanya.
"Casanova!" seru Laras.
"No I'm not!" bantah Ben.
"Yes, you are!"
Ben mengedikkan bahunya.
"Apa penilaianmu terhadapku seburuk itu, Laras?" tanya Ben.
Laras tergelak." Aku hanya mengamati tingkah lakumu saja," ujar Laras.
__ADS_1
"Kau hanya melihat kulit luarku saja, kau tidak benar-benar mengenalku."
"Oh benarkah?" goda Laras.
Ben memasukkan potongan terakhir bacon roll ke mulutnya." Damn, this shit is good," gumamnya. Kemudian menatap Laras lekat-lekat.
"Ketika aku benar-benar jatuh cinta pada seorang wanita, dan aku benar-benar yakin akan perasaanku padanya, dia akan jadi wanita yang paling berbahagia di dunia ...."
Sesaat Laras tertegun. Menatap mata biru Ben yang tampak serius. Namun sejurus kemudian gadis itu terbahak keras.
"Bullshit!!!" seru Laras di sela-sela tawanya.
Ben menggeleng. Kenapa dengan gadis ini, kenapa dia tidak menganggap serius ucapanku, batin Ben.
"Hey, hey Laras .. lihat aku, apa aku terlihat seperti mengatakan omong kosong?" Ben memegang kedua bahu Laras hingga posisi mereka berhadapan. Mata biru Ben menatap mata hitam Laras dengan tajam. Membuat gadis itu merinding. Tenggorokannya tercekat.
Ben mendekatkan bibirnya ke bibir Laras.Gadis itu menutup matanya.Kenapa setiap kali lelaki ini hendak menciumnya,Laras merasa seperti tak bisa menggerakkan badannya. Seperti terhipnotis dengan pesona Ben yang begitu luar biasa.
Dering ponsel Ben mengagetkan mereka. Laras buru-buru menarik wajahnya. Lalu dengan tersipu melempar pandang ke arah lain.
"Ben where are you? I'm in the studio right now!" Sayup-sayup Laras mendengar suara wanita dari ponsel Ben.
"Yeah, aku ada sedikit urusan sebentar," jawab Ben. Kemudian menutup telponnya. Dilihatnya Laras telah berdiri.
"Okay Ben,see you next time," ujar Laras. Gadis itu hendak melangkah pergi namun Ben menahan tangannya. Ben merengkuh tubuh gadis itu dan memeluknya dengan erat. Laras terkesiap dan dengan ragu membalas pelukan lelaki itu. Cukup lama Ben memeluknya. Menghangatkan tubuh Laras yang sedikit kedinginan.
"Kapan kita bisa bertemu lagi?" tanya Ben sembari melepaskan pelukannya. Laras tersenyum.
"Well you know where to find me," ujar Laras seraya berlalu dari hadapan Ben.
Ben menatap kepergian Laras dengan senyum kecilnya. Memandang tubuh mungil Laras yang mulai hilang di balik gedung-gedung Tudor City.
***
__ADS_1