I Am Yours,Mr Chevalier!

I Am Yours,Mr Chevalier!
Part 91


__ADS_3

"Okay, okay, akan kumainkan sebuah lagu untuk kalian."


Mia berusaha menenangkan para lansia di waktu makan siang, yang secara kompak menyuruh gadis itu memainkan grand piano yang terpampang dengan gagahnya di pojok ruangan berdesain chic itu. Mia memandang Madame Rose sekilas dan sedikit membesarkan matanya. Gadis itu yakin wanita itu yang telah memprovokasi teman-temannya. Madame Rose hanya terkekeh seakan tanpa dosa.


"Aku akan memainkan Chopin untuk kalian, jangan protes," ujar Mia sembari meletakkan pantatnya di atas kursi empuk tanpa sandaran yang ada di depan piano.


Mia melirik sekilas beberapa suster jaga sembari memutar bola matanya. Para suster hanya terbahak saja. Memang kelakuan para lansia ini tak ada bedanya dengan balita.


Lagu klasik dari Frederic Chopin berjudul Spring Waltz mengalun dengan indahnya akibat sentuhan-sentuhan jemari Mia yang dengan lihainya menekan tuts - tuts hitam putih itu dengan penuh penjiwaan.


Menit ke 5 : 12, lagu berakhir. Tepuk tangan menggema. Mia tersenyum malu-malu seraya mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Di sana, di sebelah para suster jaga, berdiri seorang pria dengan kemeja hitam berbalut mantel tebal, melipat kedua lengannya di dada dan menyandarkan punggungnya di dinding.


"Hahh, Benjiii!!" seru seorang wanita lansia yang menyadari kehadiran pria itu. Sehingga teman-temannya yang lain secara serentak menoleh ke arahnya. Seketika ruangan menjadi riuh. Para nenek ini tak ubahnya wanita-wanita muda yang histeris ketika bertemu dengan idolanya.


"Hei, kalian jangan menggoda cucuku," kekeh Madame Rose. "Cepat kemari, nak." Wanita itu melambai ke arah Ben yang tengah berjalan ke arahnya, sembari mengulurkan tangannya untuk disentuh para wanita lanjut usia itu.


Hingga akhirnya tiba di hadapan meja Madame Rose, mencium pipi wanita itu lalu menarik kursi dan kemudian duduk di atasnya.


"Nana, kau sudah siap?" tanya Ben.


"Beri aku beberapa menit untuk menghabiskan makan siangku." Madame Rose menunjuk ke arah piringnya. Ada beberapa potong kentang dan sayur brokoli yang masih tersisa.


"Owh, okay, sorry." Senyum kecil Ben terbit.


Mata Madame Rose menangkap pergerakan tubuh Mia yang hendak meninggalkan ruangan itu.


"Mia, kemari!" panggilnya, dan seketika memaksa gadis itu menoleh. "Ayo, sini." Madame Rose melambai ke arah Mia yang tampak ragu.


"Kau membutuhkan sesuatu, Rose?" tanya Mia begitu sampai di hadapan wanita itu. Diliriknya Ben sekilas, pria itu acuh.


"Mia, perkenalkan ini Benjamin, cucuku, yang aku ceritakan kemarin, seorang gitaris hebat."


"Nana!" protes Ben. Madame Rose menyentuh lengan Ben, menyuruh cucunya itu diam.


"Ben, ini Mia, gadis ini yang mengurus segala kebutuhanku di sini, dan kau tahu, dia juga seorang musisi," ucap Madame Rose membuat Mia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.


"Kau bermain cukup bagus tadi." Ben menatap sekilas ke arah Mia, dengan wajah dinginnya dan hanya tersenyum sekilas saja.


"Thanks," sahut Mia dengan canggungnya.


"Kau sudah selesai, Nana? Daren sudah menunggu." Ben beranjak dari duduknya, dan berjalan menuju ke belakang neneknya itu bersiap untuk mendorong kursi roda yang didudukinya.


"Aah, Daren lelaki kecilku, aku tidak sabar untuk bertemu dengannya," ujar Madame Rose girang begitu mendengar nama Daren.


"See you later, Mia," ucap wanita itu seraya menggenggam sekilas jemari Mia.

__ADS_1


Ben memandang sekilas ke arah gadis itu kemudian mengangguk kecil. Lalu mendorong kursi roda melewatinya begitu saja. Melewati para nenek yang kembali heboh dan berebut memegangi lengan Ben.


***


Rose Chevalier, cucunya .. Benjamin .. Chevalier, gitaris hebat, hmmm.


Mia mengaduk-aduk makan siangnya tanpa berniat untuk menyantapnya. Pikirannya melayang pada cucu Madame Rose yang dingin itu.


Disambarnya ponsel yang tergeletak di samping piringnya, kemudian mengutak atiknya sebentar. Jari telunjuknya menekan logo bulat berwarna hijau kuning merah dan lingkaran biru di tengahnya itu. Kemudian diketiknya nama Benjamin Chevalier.


Mata Laras membulat dan bibirnya melongo ketika membaca hasil di mesin pencari.


Cinderella abad Modern, Benjamin Chevalier, frontman The Rebellion, dan asisten rumah tangganya,Tunggadewi Larasati Soetodjo - 2020.


The Rebellion, merilis album ke tiga mereka The Sun Kingdom Queen - 2020.


Benjamin Chevalier dari The Rebellion dan Anita Wallis, cinta lama bersemi kembali -2020.


Benjamin Chevalier, berseteru dengan rekan satu bandnya, Gregory Miller, perihal wanita - 2020.


Tour Amerika dan Eropa The Rebellion mendulang sukses -2020.


Benjamin Chevalier dan Hailey The Resistance, terlihat makan siang bersama - 2020.


Pernikahan diam-diam Benjamin Chevalier dengan wanita asal Indonesia - 2020.


Koma tiga bulan setelah melahirkan, Laras Soetodjo Chevalier, menghembuskan nafas terakhirnya di Bethany Medical Clinic - 2021.


Duka mendalam frontman The Rebellion, Benjamin Chevalier - 2021.


Benjamin Chevalier, melakukan rehabilitasi narkoba di Linden Center, Brooklyn, New York City - 2023.


The Rebellion menyatakan diri hiatus Sementara waktu, menejer Jack White mengatakan sampai waktu yang belum bisa ditentukan - 2023.


Mia menghentikan jarinya yang terus saja menggulir layar sentuh ponselnya ke bawah.


"Pantas saja wajahnya tidak asing," gumamnya.


"Wajah siapa yang tidak asing?"


Mia menoleh ke arah asal suara. Chante, rekan kerjanya, telah duduk di sampingnya sembari mencondongkan kepalanya mengintip layar ponsel Mia.


"Aaah, Benjamin Chevalier," kekehnya. "Kau mencari tahu tentang si tampan cucu Rose Chevalier ya?" godanya.


"Aku hanya penasaran saja, aku melihatnya beberapa kali di sini, dan wajahnya sangat tidak asing," ujar Mia sembari menutup layar ponselnya.

__ADS_1


"Tentu saja wajahnya tidak asing, dia itu Ben dari The Rebellion." Chante terkekeh. "He did rehab here a year ago, I think he's clean now, hope so," terang Chante kemudian.


Mia mengangguk-angguk. Gadis itu memaklumi, Ben telah mengalami kejadian terburuk dalam hidupnya. Kehilangan seseorang yang paling penting dalam hidupnya. Mia tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang dicintai. Dia pun mengalaminya, berkali - kali. Ayahnya, ibunya dan terakhir, neneknya. Perlu waktu yang tidak sebentar untuk memulihkan diri.


***


Lagu The Rebellion berjudul The Sun Kingdom Queen mengalun dalam kamar sempitnya. Mia duduk bersandar di headboard kasurnya dengan jemari kanannya memegang bolpoin dan sebuah buku tulis di tangan kirinya.


Sesekali dipandanginya langit-langit kamar, sembari menggigit - gigit ujung bolpoinnya, pertanda gadis itu tengah berpikir.


Behind Blue Eyes


Tiga kata dia torehkan di atas kertas. Memandang langit - langit kamar, berpikir sejenak, kemudian berkutat dengan bolpoin dan kertas kembali.


Stranger man with his sad eyes


Cold as snow in the winter


A face without smile


With a heart shrouded in misery


"Wah, wah, penulis lagu kita sedang beraksi," ujar Ashley yang tiba - tiba menerobos ke kamarnya dan menjatuhkan badannya di samping Mia.


"Behind blue eyes .. hmmm ..." Ashley melongok ke arah buku yang berada di pangkuan Mia.


"Hey, don't you know how to knock the door?" sindir Mia sebal. Gadis berambut cokelat itu hanya meringis.


"Who's this blue eyes guy, setahuku Brandon tidak bermata biru." Ashley memanyunkan bibirnya.


Mia mendecak. "Kau mau tahu saja," sungutnya.


"Bukan Brandon? Lalu siapa? Ayo Lammy, katakan padaku!" Lammy, panggilan akrab teman - teman Mia, dari nama Lamia.


Mia mengecilkan volume musik dari ponselnya. "Hanya seorang pria yang kulihat satu atau dua kali."


"Ooow .. kau penggemar rahasianya ya?" tuduh Ashley seraya menaik - naikkan alisnya.


"Nooo ...," sanggahnya cepat. "Aku hanya terinspirasi membuat lagu tentangnya. Itu saja!"


"Hmmm .. mysterious guy," gumam Ashley seraya memeluk guling di sampingnya.


Mia hanya menggeleng.


Ya, kenapa dia tertarik menulis lagu tentang Benjamin Chevalier? Mengenalnya secara dekat saja tidak.

__ADS_1


***


Siap - siap dikeroyok akuuuu ... kabur ah🏃‍♀😂😂


__ADS_2