I Am Yours,Mr Chevalier!

I Am Yours,Mr Chevalier!
Part 36


__ADS_3

Ben membuka pintu studio pelan. Dilihatnya Anita tengah duduk di sofa. Melihat kedatangannya, wanita itu menghambur ke arahnya. Greg yang tengah berada di ruang musik bersama Marcus dan Liam memandang ke arah Ben dan Anita dari jendela kaca.


"Aku ingin bicara denganmu, Ben," ujar Anita dengan manjanya.


"Bisa kau tunggu sampai aku selesai rehearsal?" kata Ben mengacuhkan pelukan Anita.


Anita merengut. Ben mengelus kepala wanita itu sekilas. Lalu masuk ke dalam ruang studio.


"How's Laras?" tanya Greg. Ben yang tengah mengambil gitarnya menoleh.


"She's fine, aku baru saja mengantarnya pulang," jawab Ben seraya menyelempangkan gitarnya. Mengutak-atik pedal gitarnya sebentar.


"Semalam kau membawa Laras ke apartemenmu?" tanya Greg penuh selidik.


"Yeah, is there any problem?" Ben memandang Greg lekat-lekat. Greg terdiam. Dia sadar tak berhak untuk memarahi Ben.


"Don't worry .. I did nothing bad to her."


Ben seakan tahu yang dipikirkan Greg.


Ben menyalakan amplifiernya dan mengetes suara gitarnya.


"Marcus, kau sudah menemukan rythm melody untuk lagu The Sun Kingdom Queen?" tanya Ben kepada Marcus.


Marcus mengalunkan sebait nada. Cukup berat dan mendekati rythm.


"That's good," ujar Ben. Kedua gitaris itu kemudian mempraktekan nada masing-masing. Saling mencocokkan dalam menghasilkan perpaduan nada yang harmonis. Keempat lelaki berambut panjang itu kemudian tenggelam dalam peran masing-masing.


***


"Ben, aku akan kembali ke Los Angeles nanti malam," kata Anita sembari menggenggam tangan Ben. Keduanya tengah berada di sebuah cafe yang berada di dekat Plaza Hotel tempat Anita menginap.


"Owh .. okay," jawab Ben datar.

__ADS_1


"But I need your help, Ben," kata Anita pelan.


Ben memandang Anita. "What is it?" tanya Ben.


"Aku sedang dalam masalah finansial,ini benar-benar membuatku stres, aku kekurangan dana untuk membayar sewa apartemenku. Bisakah kau membantuku, Ben?" Wajah cantik Anita memelas. Membuat Ben merasa kasihan.


"Kau butuh berapa?" tanya Ben.


Mata Anita berbinar. "$120.000 .. jika kau tidak keberatan," jawab Anita.


"Yeah sure .. akan aku suruh orang untuk mentansfernya ke rekeningmu nanti," ujar Ben.


"Thank you honey .. you're the best, I love you so much Ben." Anita menghambur ke pelukan Ben dan menciumi pipi lelaki itu. Ben berusaha menghindar. Dia hanya ingin Anita cepat kembali ke Los Angeles.


"Bisa kita kembali bersama Ben? Kau masih mencintaiku bukan?" tanya Anita. Menatap Ben lekat-lekat. Wajah Ben terlihat gugup. Anita begitu percaya diri kalau Ben masih mempunyai perasaan yang sama terhadapnya.


"You don't have to answer now, honey," kata Anita sembari mengelus lengan bertattoo Ben lembut. Ben benar-benar bingung harus menjawab apa. Anita memang sudah salah paham menafsirkan sikapnya. Dan itu adalah salahnya sendiri.


***


"Sedang apa di sini?" tanya Laras. Berusaha bersikap biasa saja, walaupun dalam hati rasanya ingin berteriak kegirangan.


"Melihatmu," ujar Ben masih dengan senyum nakalnya.


"Apa kau tidak ada pekerjaan yang lain?" tanya Laras sembari terus melangkah. Sementara orang-orang yang dilewatinya semua memandang ke arahnya dan juga Ben. Beberapa wanita saling berbisik. Pastilah mereka menganggap Laras seperti Claire, teman kencan Ben. Seorang gold digger.


"Lihat, kau membuat orang-orang berpikir aku adalah teman kencanmu, kau membuat reputasiku menjadi buruk," ujar Laras setengah berbisik.


Ben tergelak. "Kenapa kau mempedulikan mereka?"


"Aku tidak suka orang berpikir yang tidak-tidak terhadapku."


"Ah screw them, come on!"

__ADS_1


Ben menarik tangan Laras dan membawa gadis itu ke tempat parkir mobilnya.


"Emh Ben, kau mau apa?" tanya Laras sembari melepaskan genggaman tangan Ben di lengannya.


Ben membuka pintu mobilnya untuk Laras.


"Masuklah." suruhnya.


"Kau mau mengajakku ke mana? Aku harus bekerja sebentar lagi," ujar Laras.


"Masuk, Laras!" seru Ben seraya mendorong tubuh Laras pelan. Setelah gadis itu masuk, Ben menutup pintu dan berlarian ke sisi kanan mobil.


"Ben .. jawab!"


"Jalan-jalan ke Hudson Park, anggap saja ini kencan kedua kita," kata Ben sembari mengemudikan mobilnya keluar dari area parkir kampus.


"Tidak bisa begitu, aku harus berangkat kerja satu jam lagi," protes Laras. Ben hanya tersenyum, membuat Laras jengkel.


"Larry tidak akan keberatan, biar aku yang urus," ujar Ben.


"Mana bisa begitu, aku ...."


"Bisa kau sekali ini saja tidak banyak protes?"


Laras menghela nafas dalam-dalam. Seenak-enaknya saja lelaki ini membawanya, batinnya. Ben memperhatikan sekilas wajah kesal Laras yang menggemaskan itu.


"What?" tanya Laras ketika memergoki Ben tengah mencuri pandang ke arahnya.


"Kau terlihat menggemaskan," jawab Ben.


Laras mendecak. Kedua tangannya dilipat di depan dadanya. Pandangan matanya dilemparkan ke luar jendela. Jalanan menuju Hudson Park memang indah, apalagi di musim semi begini, pepohonan begitu rindang dengan daun yang berwarna warni.


***

__ADS_1


__ADS_2