
Mia berdiri mematung di depan sebuah cafe di jalanan Brownsville yang cukup lengang. Pandangannya tertuju pada meja kosong di balik jendela kaca. Bayangan dirinya dan Brandon yang tengah duduk bercengkrama menikmati segelas cokelat panas terlintas di kepalanya. Hatinya sepi.
Dihelanya nafas dalam - dalam. Lalu dengan berat hati gadis itu melangkah pelan meninggalkan tempat itu.
.
.
Brandon Boyd, kau di mana? Aku ingin mentraktirmu makan malam. Kalau kau tidak sibuk.
Mia membaca kembali pesan yang dia kirim untuk Brandon setengah jam yang lalu. Belum nampak tanda - tanda sahabatnya itu membalas pesannya. Gadis itu melirik jam dinding di kamarnya. Menunjukkan pukul 20.30. Ditariknya nafas dalam - dalam. Lalu meletakkan ponselnya di atas nakas.
Gadis itu meringkuk seraya menarik selimut tebalnya. Berusaha memejamkan matanya, namun nihil. Bayangan wajah Ben Chevalier melintas tanpa permisi. Rasa nyeri kembali menghujam dadanya. Mia menutup wajahnya dengan selimut. Hembusan nafasnya terdengar berat.
What's wrong with me!
Ponsel di atas nakas bergetar. Dengan cepat disambarnya benda itu dan diperiksanya.
Lamia, maaf aku tadi lupa membawa ponselku. Aku baru pulang menonton film dengan Sarah.
Bibir Mia mengerucut membaca pesan dari Brandon.
Tentu saja, Brand, tentu saja! Mia menggeleng pelan, lalu meletakkan kembali ponsel ke atas nakas, tanpa berniat membalas pesan dari Brandon. Sejurus kemudian ditutupnya kembali wajahnya dengan selimut.
Suara sirine mobil polisi di jalanan terdengar memekakan telinga. Menjadi lagu pengantar tidurnya setiap malam.
***
LINDEN CENTER, BROOKLYN.
Mia melangkahkan kakinya keluar dari gedung utama. Langkahnya cepat meninggalkan halaman dan terhenti demi melihat sosok jangkung berdiri menyandarkan tubuhnya pada dinding di sisi pintu gerbang. Senyumnya mengembang.
"Brandon Boyd!" pekiknya seraya menghambur pada pria yang tengah menatapnya dengan senyum jahil yang tersungging di bibirnya. Entah kenapa Mia merasa sangat bahagia melihat sahabatnya itu.
"I miss you." Mia mengeratkan pelukannya pada Brandon yang terlihat kaget, namun wajahnya sumringah.
Brandon tergelak. "You miss me? Memangnya berapa lama kita tidak bertemu?"
"Aku tidak tahu, aku merasa kau jauh sekali sekarang."
Brandon mengacak puncak kepala Mia gemas.
"Apa tawaranmu mentraktirku makan malam masih berlaku?" tanya Brandon.
"Tentu saja."
__ADS_1
"Kau banyak uang sekarang?"
Mia meringis. "Rebellion menggajiku cukup banyak."
"Ouwh, senang sekali mendengarnya," ujar Brandon seraya meraih anak rambut Mia dan menyelipkannya ke belakang telinga gadis itu. Kemudian memperbaiki letak syal Mia yang mulai melonggar.
"So cute," ucapnya kemudian.
.
.
"See you, Nana."
Ben mencium lembut pipi Madame Rose dan melangkah keluar dari kamar neneknya itu. Menelusuri koridor yang lengang lalu turun melewati anak tangga menuju lobby. Beberapa perawat wanita yang berpapasan dengannya menyapa dengan antusias. Pria itu menyambut dengan ramah.
Keluar dari pintu utama, langkahnya terhenti ketika melihat Mia dari kejauhan tengah mengobrol dengan seorang pria. Ben memeperhatikan keduanya sejenak. Gadis itu terlihat gembira. Sesekali kepalan tangan mungilnya memukul pelan dada pria itu di sela - sela gelak tawanya.
Manis.
Tak terasa matanya mengikuti setiap gerak - gerik gadis berambut hitam panjang itu. Senyum simpulnya terbit. Hingga Mia dan pria itu hilang dari pandangan matanya, Ben masih saja tertegun.
***
"Wow, indah sekali," gumam Mia sembari memandang ke sekelilingnya. Lampu - lampu dari gedung pencakar langit di seberang dan samping sungai begitu memukau matanya. Brandon hanya tersenyum sembari sibuk mengunyah burgernya.
"Brand ...," panggilnya.
"Yeah?"
"Apa yang harus kulakukan?"
"Tentang apa?"
"Ben Chevalier. Apa menurutmu aku harus mengejarnya?"
Brandon mengurungkan niatnya untuk menggigit sisa burgernya. Selera makannya tiba - tiba saja menghilang.
"Kau sendiri yang bisa menjawabnya, Lamia." Brandon berucap getir.
"Aku takut." Mia menengadahkan wajahnya. "Takut dia akan menolakku."
Brandon mengikuti gerakan Mia menengadah ke langit yang gelap. Pandangan matanya kosong.
"Kalau kau mencium seorang wanita di bibir, apa yang kau pikirkan?" tanya Mia.
__ADS_1
"Hmmm .. aku menyukai wanita itu, mungkin."
"Menurutmu kenapa Ben menciumku?"
Brandon memijit dahinya pelan. "Lamia, why don't you just ask him?" Suaranya sedikit bergetar.
Belum sempat Mia menjawab, ponsel Brandon berdering. Pria itu segera merogoh saku celananya. "Yes, Baby?" ucapnya begitu telepon tersambung ke seberang. "Aku sedang bersama Lamia di Bridge Park." Brandon menoleh ke arah Mia yang juga tengah menoleh padanya.
"Ouwh, kau sudah ada di apartemenku? Okay, I'll be there soon."
Brandon menutup telponnya dan memasukkannya kembali ke dalam saku celananya.
"Sarah?" tanya Mia.
"Ya. Kuantar kau pulang dulu."
Mia menghela nafas kecewa. Dia masih ingin berlama - lama di tempat itu. Berkeluh kesah pada Brandon seperti biasanya. Namun dia sadar, sahabatnya itu kini tak sendiri lagi.
"Okay." Mia berucap lirih. Kemudian bangkit dari duduknya diikuti oleh Brandon.
"Come here." Brandon meraih tubuh mungil Mia dan mendekapnya erat. Pria itu memejamkan matanya. Menikmati hangatnya tubuh gadis yang begitu dicintainya itu. "Be strong," bisiknya sembari mengelus punggung Mia lembut.
Mia tersenyum kecil dalam dekapan Brandon. Energi hangat yang disalurkan sahabatnya itu begitu membuatnya nyaman dan tenang. Mia tidak akan menolak jika semalaman berada dalam pelukannya. Bahkan mungkin dia akan tertidur nyenyak.
"Come on."
Suara Brandon membuatnya terkesiap. Mia melepaskan pelukannya, lalu dengan kikuk membalikkan badan dan berjalan mendahului Brandon.
Kau kacau sekali, Lamia!
***
Brandon Charles Boyd.
__ADS_1