
Laras membuka matanya perlahan.Kepalanya terasa berdenyut. Dan kulit kepalanya terasa sedikit nyeri. Dipandangnya sekeliling. Ruangan begitu gelap. Hanya ada cahaya dari lampu kota yang menyeruak masuk melalui jendela bertirai putih. Laras tertegun sesaat. Dimana ini? batinnya. Sepertinya dia tidak berada di kamarnya.
Tunggu, dadanya terasa sesak. Seperti ada sesuatu yang menindihnya. Laras membuka selimut tebal yang menutupi badannya dan terpekik ketika melihat sebuah tangan tengah melingkar di dadanya. Jantungnya berdegup kencang.
Oh tidak, apa dia dan Greg telah? Laras tidak berani menoleh ke sampingnya. Gadis itu mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi di club. Yang dia ingat hanya sampai pada Anita yang menjambak rambutnya.
"Uuggh," Laras melenguh, kepalanya kembali berdenyut.
"Hey, kau bangun? Jam berapa ini?"
Laras terkejut mendengar suara lelaki di sampingnya. Dia bukan Greg, itu suara,
"Ben?"
Laras menoleh, dilihatnya dalam bias cahaya remang-remang wajah Ben tengah tersenyum kepadanya.
"Hello sweety," ujar Ben dengan senyum jahilnya.
Laras menggeser tubuhnya memberi jarak sekitar setengah meter.
"Kenapa aku ada di sini? Kau tidak mengantarku ke apartemenku?" tanya Laras.
"Aku akan mengantarmu nanti siang, sekarang ayo kita lanjutkan tidur," jawab Ben seraya menarik Laras mendekat kembali padanya. Kemudian menarik selimut kembali menutupi tubuh mereka.
"Apa kau tidak punya kamar yang lain? Kenapa kita harus tidur satu ranjang?" tanya Laras.
"Aku tidak bisa berfikir tadi malam."
"Kau tidak melakukan hal-hal aneh bukan?"
Ben tergelak.
"Entahlah," godanya.
"Ben!!" Bentak Laras kesal. Semakin membuat Ben tergelak.
"Sepertinya tidak, Laras, kau sudah seperti mayat semalam, apa enaknya menyetubuhi wanita yang tidak bisa bereaksi," ujar Ben di sela-sela gelak tawanya.
__ADS_1
"Ben!!" teriak Laras kembali sembari memukul dada Ben pelan.
Ben menangkap pergelangan tangan Laras dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya.
"Atau mungkin kulakukan saja sekarang," ujar Ben seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Laras.
"Jangan kurang ajar!" seru Laras seraya melepaskan cekalan tangan Ben kemudian menarik sebuah bantal dan memukulkannya ke wajah Ben.
Laras membalikkan badannya memunggungi Ben, dan meletakkan sebuah guling di antara mereka. Terdengar suara Ben terkekeh.
"Laras?" panggil Ben ketika suasana mulai hening.
"Hmmm," sahut Laras yang sepertinya mulai akan terlelap.
"Apa kau menyukai Greg?" tanya Ben
Laras membuka matanya. Namun masih memunggungi Ben.
"Mungkin ... dia pria yang baik," jawab Laras.
Laras tersenyum mendengar perkataan Ben.
"I don't know .. I don't really know you."
"Try to get to know me then."
Laras terdiam. Suasana kembali hening. Hanya sesekali terdengar suara sirine mobil patroli polisi dari jalanan kota.
"Laras ...."panggil Ben.
"Yeah?"
"I've been to Bali, you know .. apa kau tinggal dekat sana?" tanya Ben.
"No .. I lived in Jogjakarta."
"Is it far from Bali?"
__ADS_1
"Tergantung, jika kau naik pesawat kau hanya butuh waktu satu jam, jika kau naik mobil maka kau butuh waktu 18-20 jam," jawab Laras.
"Ah I see."
Laras membalikkan badannya menghadap ke arah Ben yang mulai terlihat mengantuk.
"Ben ...."panggil Laras.
"Yes," jawab Ben seraya mengelus wajah Laras lembut. Matanya sedikit tertutup. Dada Laras kembali berdegup kencang.
"Hey I can feel your heartbeat, Laras .. are you nervous or something?" Suara Ben pelan, namun mampu membuat Laras merasa gugup.
"It's nothing," sahut Laras menutupi kegugugannya.
"Tadi sepertinya kau ingin menanyakan sesuatu." Ben membuka matanya,menatap Laras dalam remang cahaya.
Laras menelan ludahnya pelan untuk membasahi tenggorokannya.
"Jika Anita melihatku di kamarmu apa yang akan dia pikirkan?" tanya Laras pelan.
Ben terkekeh. Kemudian menopang samping kepalanya dengan kepalan tangannya.
"Mungkin kau tidak akan mempercayaiku kalau aku bilang padamu aku belum ada hubungan apa-apa dengannya, aku tidur dengannya satu kali setelah konser malam itu, aku pikir perasaanku masih sama terhadapnya, tapi ternyata tidak. Dan sekarang Anita salah paham dengan sikapku, aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskan padanya."
Laras tertegun. Namun hatinya begitu lega mendengar ungkapan Ben.
"Ben ...." panggil Laras kembali.
Ben mendekatkan wajahnya, mengamati wajah Laras hanya dari jarak beberapa centi saja.
"I'm sleepy," ucap Laras. Kemudian menguap beberapa kali.
"Ahh .." ujar Ben kecewa.
Diselimutinya tubuh Laras kemudian menengadahkan badannya sembari meletakan kedua telapak tangannya di bawah kepalanya. Memandang langit-langit kamarnya yang gelap.
***
__ADS_1