I Am Yours,Mr Chevalier!

I Am Yours,Mr Chevalier!
Part 93


__ADS_3

Dengan ragu Mia menekan bel pintu rumah mewah bercat merah muda di hadapannya itu beberapa kali. Sesekali di benarkannya tas biola yang menempel di punggungnya. Lalu mengusap sisa - sisa salju yang menempel di mantelnya.


Seorang wanita berseragam asisten rumah tangga membukakan pintu untuknya. Seperti telah menunggu kedatangannya, wanita itu mempersilahkan Mia masuk. Kemudian mengantarkan gadis itu ke sebuah ruangan yang mirip dengan kelas di sebuah pre school.


Seorang bocah laki - laki berambut panjang kecokelatan tengah sibuk menyusun balok - balok kecil yang berwarna - warni. Di sebelahnya ada seorang wanita afro - amerika yang menemani.


"Ah, Miss Kusuma?" tanya wanita itu begitu menyadari kehadiran Mia.


"Yes," jawab Mia seraya menyandarkan tas biolanya ke dinding dan menyalami wanita itu.


"Aku Jackelyn." Wanita bernama Jackelyn itu menyambut uluran tangan Mia. "Okay, akan kutinggalkan kau bersama Daren, jika perlu sesuatu, kau pencet saja tombol transmiter itu ya," ujar wanita itu sembari menunjuk ke arah benda bulat berwarna merah dengan tiga tombol di tengahnya, yang tertempel di dinding.


Mia mengangguk tanda mengerti. Begitu wanita itu meninggalkannya berdua dengan bocah laki - laki yang masih sibuk dengan mainan baloknya itu, Mia segera menghampiri si pemilik tubuh mungil itu.


"Hi, you must be Daren," Mia berjongkok di depan Daren yang menatapnya heran.


"I'm Mia, I'm your violin teacher." Mia mengulurkan tangannya. Mendengar kata violin, mata Daren tidak lagi menunjukkan keheranan. Dengan segera disambutnya tangan Mia.


"Kau sudah punya biolanya?"


"Yash." Dengan penuh semangat Daren beranjak dari duduknya dan mengambil biola kecil berukuran 1/8 berwarna cokelat tua yang ada di stand biola. Lengkap dengan bow nya.


"Wow, great, Daren." Mia mengambil biola dari tangan kecil Daren dan memeriksanya.


Stradivarius.


Mia menelan ludahnya. Sebuah merk mahal yang tidak mungkin bisa terbeli olehnya. Sekeras apapun dia bekerja.


"Okay, Daren .. are you ready?" tanya Mia sembari menyerahkan biola kecil itu pada Daren. Kemudian mengambil biolanya sendiri.


"Daren, berdiri di depanku ya," perintah Mia. Daren mengangguk. Kemudian berjalan ke arahnya.


"Letakkan biolamu seperti ini," Mia membimbing tangan Daren meletakkan ujung biolanya di atas bahu dekat dengan lehernya. Meletakkan dagunya di atas chinrest . Kemudian menekuk lengan bocah laki - laki itu untuk menyentuhkan jemari mungil Daren ke atas senar yang berjumlah empat baris itu.


"This is called a bow," terang Mia sembari menangkat alat penggesek biola dengan panjang sekitar 30 cm itu. Kemudian menunjukkan pada Daren bagaimana cara memegang alat itu dengan benar.


"Letakkan ujung bow mu di atas senar, Daren."


Daren mengikuti instruksi Mia dengan patuh.


"Dari senar paling atas, G, lalu D ... A dan E, kau bisa mencobanya, Daren."

__ADS_1


Dengan sabar Mia menerangkan dan membimbing Daren pelajaran dasar bermain biola. Bocah laki - laki tampan itu cepat mengikuti. Ya tentu saja, siapa juga bapaknya. Pastilah darah musisi mengalir deras dalam tubuhnya.


***


Mia menekan tombol transmiter untuk memanggil baby sitter Daren. Pelajaran hari itu telah selesai.


"Mia, wwhen will we meeth againz?" tanya Daren dengan suara cadelnya.


"Next friday, Daren. Jangan lupa berlatih terus ya," ujar Mia seraya mengelus pipi cubbynya.


Tak lama kemudian, baby sitter Daren muncul.


"Kau sudah selesai, Miss Kusuma?" tanya Jackelyn.


"Emm .. yes," jawab Mia seraya memasukkan biola ke tasnya, kemudian menggendongnya di punggung.


"See you next week, Daren." Mia melambaikan tangannya ke arah Daren.


"See ya, Mia," sahutnya seraya menyambut lambaian tangan Mia.


Setelah berpamitan pada Jackelyn, Mia melangkahkan kakinya keluar dari ruang bermain Daren. Menelusuri lorong panjang menuju ruang tamu. Di mana dia berpapasan dengan Ben yang baru saja masuk ke dalam rumah. Dadanya berdegup kencang, bukan, bukan apa - apa, hanya karena pria di hadapannya ini adalah frontman The Rebelion, yang dahulu hanya bisa dilihatnya di televisi, media sosial dan media lainnya.


"Owh, hi .. emmm ...." Ben berpikir sejenak.


"Mia," sahut Mia.


"Ah, ya Mia, maaf aku tidak bisa mengingat namamu." Ben mengelus tengkuknya, canggung. "Kau sudah selesai dengan Daren?" tanyanya kemudian.


"Ya, Daren anak yang pintar, dia cepat menangkap pelajaran yang kuberikan."


Ben hanya mengangguk.


"Permisi," kata Mia berpamitan. Hendak menarik handle pintu, dan ..


"Mia, apa kau pernah main di Bar Belly, Brooklyn?" tanya Ben.


Mia menoleh. "Emm .. ya, why?"


"Tidak apa - apa," jawab Ben membuat Mia mengerenyitkan dahinya. "Sampai jumpa lagi," ujarnya kemudian seraya berlalu dari hadapan gadis itu.


Mia mengedikkan bahunya, kemudian menarik handle pintu dan melangkah keluar dari rumah besar itu.

__ADS_1


***


"Kau mengajar biola anak Ben Chevalier?" Brandon berseru ketika Mia selesai menceritakan pekerjaan barunya.


Hari ini jadwal Funeralopolis latihan, seperti biasa, keempatnya berada di rumah Will.


"Bagaimana bisa?" tanya Will. Pemuda incaran teman seapartemen Mia, Ashley itu tengah sibuk menyetem basnya.


"Long story." kekeh Mia sembari meneguk segelas cokelat panas yang dibuat oleh ibunya Will.


"Hei, ini kesempatan bagus, kau bisa meminta bantuan Ben untuk mengenalkan kita pada para produser musik." Graham menyeletuk.


"Oh, tidak, tidak .. aku tidak berani," sahut Mia dengan cepat.


"Yeah, why not?" Brandon dan Will berujar bersamaan.


Mia menggeleng. "Aku hanya berbicara satu atau dua kali dengannya, akan aneh kalau tiba - tiba meminta hal seperti ini padanya."


Will menatap Mia beberapa saat. Kemudian senyumnya menggembang.


"Ben Chevalier duda, bukan?" tanya Will, membuat ketiga sahabatnya itu mengerenyitkan dahi mereka, heran. "Kau cukup cantik, Lammy .. kalau kau tahu maksudku." Will menaik - naikkan kedua alisnya.


"Owh, hentikan, Will!" Kini Brandon yang berseru. Mendeteksi ide gila yang ada di kepala pemuda berambut ikal panjang itu.


"Gila!" Mia ikut berseru. Kemudian beranjak dari duduknya, lalu duduk kembali di sebelah Brandon.


Will dan Graham memandang keduanya dengan tatapan jahil.


"You both .. are dating?" tanya Will seraya bergantian menunjuk pada Mia dan Brandon. Pipi keduanya terlihat memerah.


"Oh, no, no .. we're not!" seru keduanya bersamaan. Disambut oleh kekehan Will dan Graham.


Mia mendengus kesal. "Kita mulai latihannya?" serunya seraya menyambar biola yang tergeletak di lantai. Tanpa mempedulikan tatapan - tatapan curiga dari kedua pemuda itu.


***



Brandon Boyd.


Foto diambil dari vocalist American alternative rock band, Incubus. Namanya Brandon Boyd juga😁

__ADS_1


__ADS_2