
HUDSON RIVER PARK
Memandang gedung-gedung pencakar langit Manhattan dari Hudson Park adalah sebuah pemandangan yang menyegarkan mata. Matahari yang tidak terlalu panas dan udara siang yang hangat adalah cuaca yang tepat untuk berjalan-jalan. Taman pun terlihat lengang, hanya ada beberapa orang yang tengah berjalan-jalan dengan anjingnya, atau sekedar jogging.
Ben menghampiri Laras yang tengah duduk di atas kursi panjang di bawah pohon dan menyodorkan sebungkus burritos padanya.
"Dimana kau membelinya?" tanya Laras sembari memperhatikan burritos hangat yang begitu menggugah selera makannya itu.
"Over there ...." Ben menunjuk ke arah sebuah mini van bertuliskan Taco Bell Truck yang terparkir sekitar 200 meter dari tempat mereka.
"Kenapa kau selalu membeli junk food seperti ini? Apa kau tidak takut akan menjadi obesitas dan semua penggemarmu akan meninggalkanmu?" ujar Laras. Membuat Ben terbahak. Gadis ini lucu sekali, batinnya.
"Asal kau tahu, Nona, mereka menyukai musikku, bukan tubuhku." Ben membela diri.
"Ah yaa tentu saja, sampai-sampai para wanita rela berebut untuk tidur denganmu." Mata Laras membulat sempurna.
"Apa kau cemburu?" goda Ben sembari menyenggol bahu Laras dengan bahunya.
Laras tergelak. "Cemburu? Buang-buang waktu saja," ujar Laras seraya menggigit potongan burritosnya.
"Kau yakin?" tanya Ben. Memasang wajah tak percayanya.
"What?" kata Laras mengacuhkan Ben.
"Damn .. berarti memang benar ternyata kau tidak menyukaiku," ujar Ben berpura-pura memasang wajah sedihnya.
Laras mendesis. Dasar Casanova, makinya dalam hati. Ben tergelak melihat reaksi Laras yang mulai gugup.
"Kau menyukaiku atau tidak?" tanya Ben,
memiringkan wajahnya, menatap wajah
Laras yang sedikit tertunduk.
"Kau lelaki yang sangat menyebalkan,
__ADS_1
sepertinya butuh waktu 100 tahun
untuk mencoba menyukaimu."
Ben kembali terbahak mendengar guyonan Laras. Laras memperhatikan Ben yang masih tertawa. Sejurus kemudian pandangan mereka bertemu. Suasana menjadi hening.
"Nice weather huh?" ujar Ben mencairkan suasana.
"Yep!" sahut Laras sedikit terkesiap. Kemudian menyandarkan punggungnya di kursi.
"Laras," panggil Ben. Lelaki itu meletakan tangannya melintang di belakang punggung Laras.
"Hmm," sahut Laras seraya menghabiskan potongan terakhir burritosnya.
"Apa kau memang menganggapku lelaki yang sangat buruk?" tanya Ben. Wajahnya tampak serius. Dia terlihat begitu tampan, dengan anak rambut yang berjatuhan di pipinya dan menari-nari tertiup angin. Ya Tuhan, Ben .. hentikan, pekik Laras dalam hati.
"Entahlah, apa defisini baik dan buruk?" Laras balik bertanya.
Ben tersenyum kecil. Merapikan rambut Laras yang menutupi sebagian wajahnya. Wajah gadis itu merona merah.
"Apa kau akan percaya jika aku bilang aku menyukaimu?" tanya Ben. Membuat dada Laras berdegup kencang. Kini Laras benar-benar tertegun. Tenggorokannya tercekat.
"Aku tidak becanda .. aku ...."
"Hey Ben .. smile to the camera!"
Seruan itu membuat Ben dan Laras menoleh ke asal suara. Tiga orang berjaket hitam dengan kamera di tangan mereka berjalan mendekat sembari mengambil foto tanpa ijin.
"Sorry guys .. but it's not the right time," ujar Ben seraya mendorong mereka menjauh.
"We love your songs, Ben .. you guys are awesome." Salah satu dari mereka masih berusaha mendekat.
"Thank you, I appreciate that, but could you please leave .. I need some privacy here." Ben berusaha berkata sopan. Walaupun hatinya begitu kesal. Wartawan memang kadang-kadang sangat menjengkelkan.
"One more picture Ben, with your girlfriend."
Salah satu dari mereka kembali mengambil foto tanpa ijin.
__ADS_1
"Alright that's enough, don't get any closer or I'll fuckin' punch you in the face!" ancam Ben geram. Kemudian meraih tangan Laras dan melangkah menuju mobilnya.
Ketiga wartawan itu terus saja mengambil foto Ben dan Laras dari jauh. Hingga keduanya masuk ke dalam mobil.
"Pasti hidupmu sangat tertekan ya," ujar Laras. Gadis itu terkikik.
"Sometimes yeah," sahut Ben seraya mengemudikan mobilnya keluar dari area Hudson Park.
"Apa kau benar-benar akan memukul wartawan-wartawan malang itu jika mereka nekat?"
"Definitely yeah," ujar Ben.
"Kau sungguh mengerikan," gumam Laras.
Ben terbahak. "Do you think so?"
"Apa kau pernah berpikir bahwa itu cara mereka mencari nafkah untuk keluarga mereka?" tanya Laras.
"Setiap pekerjaan ada resikonya, Nona!" sangkal Ben.
Laras memanyunkan bibirnya. Rupanya gadis itu merasa kalah berargumen. Ben tersenyum puas.
"Kemana kita sekarang?" tanya Ben. Mendadak dia tidak punya ide kemana akan mengajak Laras berkencan. Bukan berkencan, hanya sekedar berjalan-jalan, ujarnya dalam hati.
Laras melirik jam tangannya. Jam masuk kerjanya sudah lewat dua jam. Tidak mungkin juga Laras masuk kerja. Gadis itu menghela nafas pelan.
Ben mengambil ponselnya di dashboard, lalu mematikannya.
"Matikan ponselmu!" ujar Ben.
Laras memandang Ben heran.
"Matikan ponselmu, Laras!" ulang Ben.
Laras meraih ponsel yang ada di dalam tasnya, kemudian mematikannya. Wajahnya tampak bingung.
"Let's get lost!" seru Ben seraya membanting stirnya dan mengemudikan mobilnya dengan kencang menuju jalur keluar New York City.
__ADS_1
Tak dipedulikannya wajah bingung Laras yang menatapnya dengan heran.
***