I Am Yours,Mr Chevalier!

I Am Yours,Mr Chevalier!
Part 87


__ADS_3

Laras memeriksa layar ponselnya. Hari ini tanggal 29 juli dan sudah hampir dua minggu Ben tidak bisa dihubungi. Gadis itu benar-benar frustasi dibuatnya. Beberapa kali datang ke apartemen Ben atau ke studio Rebellion di Time Warner Center, untuk mencari informasi tentang Ben, namun nihil.


Rosita berkata kalau Ben belum kembali dari Eropa, dan studio Rebellion kosong.


Laras memandang layar ponselnya lama, berpikir untuk menghubungi Greg, untuk menanyakan kabar tentang Ben. Nanum hati Laras dihinggapi oleh keraguan.


Laras menarik nafas dalam-dalam. Berpikir beberapa saat, kemudian jemarinya mulai mencari nomer telepon Greg dan dengan satu gerakan jari telunjuknya, dipencetnya tombol virtual telepon yang menghubungkannya dengan nomer Greg.


"Hi, Laras .. senang kau menelpon. Ada yang bisa aku bantu?" Suara Greg di seberang sana.


"Emm .. hi, Greg .. I .. I .. ee .. I'm sorry to bother you, I was .. wondering if .. I mean .. I ..would like to know .. emm ...." Laras terbata.


"Ben sedang keluar, tapi aku tidak tahu dia kemana, jalan-jalan sepertinya .. emm, kami berada di Berlin sekarang," jawab Greg yang langsung tahu alasan Laras menelponnya.


"Owh, I see .. emm .. is he alright?" tanya Laras, dadanya berdegup kencang.


"Yeah, kurasa begitu .. sedikit pendiam sekarang, but he's fine," kekeh Greg.


"Okay .. it's good to know. Thank you, Greg."


"Kau baik-baik saja, Laras?"


"Ah, yaa .. aku baik-baik saja."


"Great."


Laras menghela nafas pelan. "Okay, Greg, I gotta hung up, see you," ucap Laras, kemudian menutup telponnya setelah Greg mengatakan see you padanya.


Laras melempar telponnya sembarang. Kemudian menyandarkan punggungnya di sofa dan memejamkan matanya.


Apa kau tidak merindukanku, Ben?


Hati Laras terasa perih. Ben benar-benar menyiksanya dengan perasaan bersalah ini. Apa Ben benar-benar kecewa terhadapnya.


Laras menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ingin rasanya menumpahkan segara rasa yang berkecamuk di dalam hatinya. Ini benar-benar menyiksanya.


Disambarnya kertas print tiket pesawat yang terletak di atas meja di hadapannya. Diperhatikannya sebentar. Kemudian dengan langkah gontai Laras berjalan menuju kamarnya. Mengambil satu buah koper besar kemudian diletakannya di lantai, membukanya dan mengisinya dengan baju-baju miliknya.


***


BERLIN, GERMANY.


Greg berjalan mendekati Ben yang tengah duduk sembari meluruskan kakinya ke atas meja. Mata lelaki itu terpejam.


Merasakan kehadiran seseorang, Ben membuka matanya. Dilihatnya Greg tersenyum seraya menyodorkan padanya satu botol bir yang telah terbuka.


"Lihat dirimu," kekeh Greg sembari duduk di sebelah Ben.


Ben meraih botol bir dari tangan Greg. Lalu menenggaknya hingga habis setengahnya.

__ADS_1


"Laras menelponku," kata Greg yang membuat Ben membuka matanya lebar-lebar.


"Ohya?" tanya Ben berusaha menyembunyikan keterkejutannya. "Apa katanya?"


"Menanyakan kabarmu."


"Hanya itu?"


"Uh - huh."


Ben memalingkan wajahnya dari tatapan penuh selidik Greg.


"Apa kalian baik-baik saja?" tanya Greg.


"Yeah," jawab Ben dengan malas.


"Kau yakin? Laras terdengar putus asa."


"Hmmm ...."


Ben tak menanggapi ucapan Greg. Ditenggaknya isi botol birnya hingga tak tersisa. Kemudian memejamkan matanya kembali sembari sesekali menghisap rokok di jemarinya dan menghembuskan asapnya pelan.


***


JOHN F KENNEDY AIRPORT, QUEENS, NEW YORK CITY, SABTU, 1 AGUSTUS 2020.


Safe flight, b*tch. I'm gonna miss you.


Satu pesan dari Catherine muncul di layar ponselnya. Laras tersenyum membacanya.


Kemudian dibalasnya pesan dari sahabatnya itu dengan emotican cium.


Laras kembali menatap ke arah pintu masuk ruang tunggu, satu sosok berambut panjang pirang muncul. Dada Laras berdebar kencang.


Sekilas dia pikir lelaki itu adalah Ben, namun Laras harus menelan kekecewaan ketika mengetahui bahwa dia bukan lelaki yang menjungkir balikkan perasaannya dalam kurun waktu sebulan ini.


Laras kembali menghela nafas dengan berat.


Ben, aku rindu. Kau membuatku gila.


Laras tersadar dari lamunannya ketika suara operator memanggil para penumpang untuk masuk ke pesawat. Gadis itu bangkit dari kursinya, menyeret koper besarnya menuju lorong penghubung antara ruang tunggu dan pintu pesawat. Sekali lagi gadis itu menoleh ke arah pintu. Berharap di detik-detik terakhir Ben akan muncul, berlarian ke arahnya dengan senyum lebarnya yang begitu manis itu. Nihil. Laras merasakan matanya pegal dan memanas.


Dengan gontai Laras kembali menyeret kopernya dan bergabung dengan para penumpang lain menuju pintu pesawat.


***


"Cathy!"


Satu panggilan membuat Catherine menghentikan langkahnya untuk keluar dari gerbang kampus. Mata biru gadis itu membulat. Kemudian senyumnya terbit ke arah Ben yang tengah berjalan mendekatinya.

__ADS_1


"Hi, Ben," sapanya.


Ben menjabat tangan Catherine. "Kau sendirian?" tanya Ben sembari menatap ke sekeliling gadis itu. Sepi.


"Mmm .. ya." Catherine mengetahui arah pembicaraan Ben, dia pasti mencari Laras.


"Ada sesuatu yang harus aku kerjakan." ujarnya kemudian. "Kau sendiri? Apa yang kau lakukan di sini, bukankah ini liburan musim panas?" tanya Catherine memancing.


"Aku tidak menemukan Laras di apartemennya, dan juga di tempat kerjanya, aku berpikir mungkin dia sedang berada di sini."


Catherine mengerenyitkan dahinya. "Laras tidak mengabarimu?"


"About what?"


"Dia pulang ke Indonesia dua hari yang lalu."


Oh, ****!


Ben teringat tiket pesawat yang dia berikan pada Laras. Yang rencananya dia juga akan ikut ke Indonesia bersama dengan gadis itu, jika Laras menerima lamarannya. Ben ingin berkenalan dengan keluarga Laras.


"Okay, Cath, thanks for the info, I gotta go." Ben menyentuh bahu Catherine sekilas, kemudian bergegas melangkahkan kakinya menuju ke parkiran kampus.


Catherine menatap kepergian Ben dengan heran. Lalu mengedikkan bahunya dan kembali melangkah keluar pelataran Columbia.


***


YOGYAKARTA, INDONESIA.


Laras masih meringkuk di atas kasurnya siang itu, di rumahnya di Kota Gede. Jet lag membuatnya tidak bisa tidur semalaman. Jam lima pagi Laras baru bisa memejamkan matanya.


"Ras, bangun, makan dulu, nak." Sang ibu mengelus pipi Laras lembut. Gadis itu membuka matanya dengan berat.


"Bentar, Bu .. aku masih ngantuk banget." Laras hanya memutar posisi tidurnya.


"Makan dulu, nanti boleh lanjut tidur lagi," kata ibunya lagi.


Dengan malas Laras kembali membuka matanya dan perlahan bangkit dari pembaringannya. Sang ibu yang duduk di tepian ranjangnya tersenyum.


Laras menyeret langkahnya ke ruang makan, memeriksa hidangan yang telah tersedia di meja makan.


"Ras, Ibu mau ke kampus sebentar ya, ada urusan," ujar sang ibu yang telah berpakaian rapi.


"Oke, bu .. Hara mana?" tanya Laras sembari menyuapi dirinya sendiri dengan sesendok nasi dan suwiran ayam goreng. Laras menanyakan Hara, adik lelakinya.


"Lagi keluar tadi." Sang ibu mencium pipi Laras dan berpamitan.


Suasana rumah terasa sepi. Laras menarik nafas dalam-dalam. Wajah Ben kembali memenuhi pikirannya. Kini Ben benar-benar terasa jauh di ujung dunia yang lain. Hati Laras kosong. Apakah Ben tidak akan memaafkannya, atau dia hanya butuh waktu sendiri. Berbagai pertanyaan muncul dalam benaknya.


Ben, datanglah kemari.

__ADS_1


__ADS_2