I Am Yours,Mr Chevalier!

I Am Yours,Mr Chevalier!
Part 112


__ADS_3

For me and her to say: "We're in heaven now"


We're in heaven now


Falling from above, we're in heaven now


My wings will carry you away


Mia menghempaskan tubuhnya ke atas kasur sempitnya. Menatap langit - langit kamarnya yang remang. Penggalan lirik Icarus With You yang dinyanyikan oleh Ben siang tadi masih terngiang - ngiang dalam benaknya.


Untuk siapa lagu itu ditulisnya?


Gadis itu menghela nafas pelan. Tentu saja untuk mendiang isterinya.


Mia memejamkan matanya. Jemari kirinya digerak - gerakan seperti tengah menekan senar biola seiring dengan mengalunnya lagu Icarus With You dengan suara Ben yang berat, di dalam kepalanya.


Hatinya seakan tersayat. Memahami setiap kata dalam lirik lagu itu, yang sepertinya adalah buah dari kesakitan Ben selama ini. Ditinggal pergi oleh wanita yang sangat dicintainya. Hingga dengan mudah Mia bisa menghasilkan nada - nada curian di sepanjang lagu. Menciptakan melody singkat di intro, melody panjang di tengah lagu, hingga menutup akhir lagu dengan sangat manis.


Sepanjang latihan tadi siang di studio Rebellion, mata mereka saling bertemu sesekali. Saling melempar senyum, saling memberi tanda untuk menjaga harmonisasi permainan musik mereka.


Entahlah, Mia merasa momen itu sangat intim baginya. Dadanya penuh oleh gemuruh yang tanpa henti meluap - luap. Dia bisa dengan bebas mengagumi mata biru Ben yang indah, menelusuri setiap lekuk tubuh pria itu dengan sudut matanya, dan dengan nakal otaknya membayangkan jemarinya menyentuhi kulitnya.


Mia menutup wajahnya dengan bantal. Mencoba mengusir perasaan tak menentu yang sungguh menyiksanya. Perasaan tak menentu yang semakin hari terasa semakin mendalam, membuahkan sebuah kerinduan untuk selalu melihat sosok Ben yang begitu mempesona.


***


GREENWICH VILLAGE, MANHATTAN.


"Ah, Mia, Daren masih tidur. Kau bisa menunggunya di sini atau di taman belakang kalau kau mau." Jackelyn mengabarkan begitu Mia masuk ke ruang bermain Daren.


"Okay, menunggu di taman belakang terdengar bagus." Mia menyahut sembari menyandarkan biolanya di dinding.


"Biar kuantar."


Jackeyn membawa Mia ke taman belakang yang luas. Indah. Dengan salju tipis yang menempel di atas dedaunan. Hamparan bunga winter jasmine dan berbagai jenis bunga yang tetap mekar di musim dingin begitu menyejukkan matanya.

__ADS_1


"Kau mau aku buatkan minuman hangat?" tawar Jackelyn.


"Oh, tidak usah, Jacky, terimakasih," ucapnya seraya duduk di sebuah kursi taman kayu panjang berstruktur besi yang berada di samping pohon shumard oak yang daunnya mulai berguguran.


Mia merapatkan jaket tebalnya demi menghalau hawa dingin yang menggelitik. Gadis itu menyapu pandangan ke seluruh area taman, lalu berhenti pada sebuah arch berbentuk melengkung yang ditumbuhi tanaman rambat yang telah mengering, tertutup oleh salju tipis.


Terlihat seperti bekas arch pernikahan yang menjadi latar dari sebuah altar. Di mana biasanya sepasang pengantin mengucapkan janji suci pernikahan di hadapan seorang pastur.


Mungkin Ben dan mendiang isterinya menikah di sana.


Pernikahan yang sangat sakral dan indah, pastinya.


Mia menghela nafas dalam - dalam. Lalu tersenyum entah untuk apa. Gadis itu masih memandangi benda melengkung yang sepertinya penuh dengan kenangan indah, hingga dirasakannya ada seseorang telah duduk di sampingnya.


Jantung Mia seakan berhenti, demi melihat sosok berbalut sweater panjang berwarna hitam, duduk di sampingnya, membawa sebotol anggur dan dua gelas berkaki panjang, dan meletakkan benda - benda itu di tengah - tengah mereka.


"Hi," sapanya. Dengan lihai dituangkannya cairan merah dalam botol ke dalam gelas - gelas itu. Lalu menyodorkan salah satunya pada Mia. "Hangatkan badanmu." Dia berucap.


"Thanks," ujar Mia dengan suara serak. Meraih gelas dari tangan Ben.


"Emm .. jam lima sore."


"Hari senin aku ada urusan di Linden, jadi kau bisa sekalian ikut denganku."


Mia menelan ludahnya. Satu mobil dengannya lagi. "O - okay."


Ben meneguk anggurnya, lalu menoleh ke arah Mia.


"Kau tidak suka minum anggur?" tanyanya, melihat Mia hanya memilin - milin gelasnya.


"A - aku suka." Mia mulai menyeruput anggurnya. Lembut. Anggur mahal, sepertinya. Badannya terasa hangat. Diliriknya Ben sekilas. Pria itu begitu santai. Menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, lalu meluruskan lengan kirinya ke arah punggung Mia. Membuat gadis itu memajukkan punggungnya sedikit, demi menghalau rasa kikuk yang melandanya.


"Siapa nama lengkapmu, Mia?"


"Huh?" Mia tergagap. "Ouh, it's Lamia .. Lamia .. Anyelir Kusuma."

__ADS_1


"Hmmm .. Lamia, Lamia. Bukankah dalam mitologi Yunani, Lamia adalah anak Poseidon yang cantik, yang membuat Zeus jatuh cinta padanya dan dicemburui oleh Hera."


Mia menoleh ke arah Ben. Lalu mengangguk.


"Aku suka namamu, kupanggil kau Lamia saja, okay?" Ben tersenyum. Lalu meneguk anggurnya kembali.


Mia memejamkan matanya beberapa saat. Mencoba mengendalikan gemuruh di dalam dadanya.


"Kau tahu, Lamia?" Ben kembali menoleh ke arah Mia, pandangan matanya terlihat sayu, pipinya pun sedikit memerah.


Mia menatap Ben, namun tak kuasa untuk berlama - lama mengadu matanya dengan mata biru yang mempesona itu. Hingga akhirnya gadis itu menunduk dengan rasa gugup yang luar biasa.


"Kau mengingatkanku pada Ibunya Daren."


Mia terkejut mendengar penuturan Ben. Apa dia tidak salah dengar. Ini tidak seperti Ben yang dia kenal. Yang hanya berbicara tentang hal - hal biasa saja dengannya.


"Owhh," pekik Mia tertahan ketika menyadari Ben telah memindahkan botol dan gelas yang ada di tengah mereka ke lantai, dan kini pria itu hanya berjarak beberapa centi saja darinya.


Perlahan namun pasti, Ben mendekatkan wajahnya ke arahnya dan tanpa terpikirkan sama sekali olehnya, bibir pria itu telah menyentuh bibirnya dengan lembut.


Oh Ya Tuhan, apa yang terjadi? Ya Tuhan tolong aku, aku akan terkena serangan jantung sebentar lagi.


Mia memejamkan matanya. Menikmati sentuhan bibir Ben yang membuat sekujur tubuhnya terasa kaku. Hingga sebuah seruan menyadarkannya dan membuat Ben menghentikan ciumannya. Mengangkat kedua tangannya dengan sebal, lalu mengelus rambutnya dari dahi ke belakang kepalanya. Daren mengganggu aktifitasnya.


"Mia, comhe here!" seruan Daren kembali terdengar. Mia berusaha mengatur nafasnya dan mengendalikan dirinya agar tidak rubuh ketika berdiri nanti. Tubuhnya terasa lemas.


"Permisi, Mr. Chevalier .. emm .. Ben."


Mia segera beranjak meninggalkan Ben yang tertunduk seraya memegangi kepala dengan kedua tangannya. Lalu menghambur ke arah Daren yang tengah menunggunya di ambang pintu. Menyambut gadis itu dengan gembira.


Ben memandangi besi melengkung yang telah ditumbuhi tanaman rambat yang mengering. Wedding Arch tempat di mana dia dan Laras mengucapkan janji suci pernikahan yang sudah tiga tahun ini dibiarkannya saja, melalui banyaknya musim yang datang silih berganti.


Ben meremas wajahnya pelan.


"I'm sorry, Laras .. I'm so sorry, Baby."

__ADS_1


***


__ADS_2