I Am Yours,Mr Chevalier!

I Am Yours,Mr Chevalier!
Part 24


__ADS_3

"Kau berhenti bekerja dari rumah nenek Benjamin?" Catherine mengulang perkataan Laras sembari memasukan potongan hotdog ke mulutnya. Keduanya tengah duduk di sebuah cafe yang berada di kawasan Tudor City dekat apartemen Laras.


"Yep!" sahut Laras sembari menyeruput kopinya.


"Kenapa, Laras? Bukankah kau sangat membutuhkan pekerjaan itu?" tanya Catherine.


Laras menggeleng pelan. Kemudian menopang dagunya dengan sebelah tangannya. Memandang ke arah jalanan yang ramai.


"Apa .. ada hubungannya dengan Ben?" tanya Catherine penuh selidik.


"Kurang lebih seperti itu," jawab Laras.


"Ceritakan padaku, Laras, apa itu sesuatu yang buruk?"


Laras kembali menggeleng. "Bukan sesuatu yang buruk. Aku hanya .. hmmm .. bagaimana ya aku menceritakannya."


Catherine meneliti raut wajah Laras yang berubah muram.


"Kau menyukai Ben," tebak Catherine.


Laras mengedikkan bahunya. Lalau mengela nafas dalam-dalam.


"Aku sadar posisiku .. aku sadar siapa Benjamin, dan sebaiknya aku melupakan perasaan konyolku itu." Laras terkekeh.


"Hey .. apapun bisa terjadi di dunia ini, Laras,


aku yakin Ben juga menyukaimu."


Laras tergelak. "Menyukaiku tetapi berkencan dengan banyak wanita, kau bercanda, Cath."


"Lihat saja nanti, dia pasti akan mengejarmu,


Laras .. kau percaya saja padaku."

__ADS_1


"Kau menjadi peramal sekarang?" goda Laras.


Catherine tertawa. Diteguknya segelas jus yang ada di depannya. "Hey lihat itu..!" seru Catherine seraya menunjuk ke arah sebuah papan reklame besar yang terletak di depan sebuah gedung swalayan yang ada di seberang mereka.


Laras pun menoleh. Catherine senyum-senyum sendiri melihat ekspresi wajah Laras yang sedikit kaget.


The Rebellion New Album Intimate Showcase


on saturday, february 20 2020 at Hammerstein Ballroom, New York City.


Poster besar The Rebellion terpampang dengan jelasnya. Wajah Ben yang tampan itu kembali menggelitik hatinya.


"Lihat, bahkan alam semesta memberimu tanda," ujar Catherine senang.


Laras terbahak. Sahabatnya ini sudah seperti seorang ahli Law Of Attraction saja.


"Yang aku pikirkan adalah bagaimana caranya aku membayar tagihan sewa apartemen bulan ini," ujar Laras di sela-sela tawa renyahnya.


"Aku sedang menunggu agen penyalur kerja mengabariku."


Catherine mengangguk-angguk.


"Laras, aku berpikir kau terlalu bekerja keras, bersenang-senanglah sesekali. Bagaimana kalau kita menonton Rebellion akhir pekan ini?"


"Kau bercanda bukan? Kau lihat berapa harga tiketnya?" Laras menunjuk papan reklame.


"300 dollar, pffft," sambungnya.


"Aku belikan tiketnya, okay .. kau mau?" tanya Catherine.


Laras memanyunkan bibirnya. Berpikir sejenak.


"I don't know," ujarnya kemudian.

__ADS_1


"Ayolah, hanya menonton konser, anggap saja Ben tidak ada," pinta Catherine.


"Okay, we'll see," jawab Laras pada akhirnya.


Catherine menepuk-nepuk wajah sahabatnya itu pelan. Kemudian tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang rapi.


***


Sidney menerobos masuk ke kamar Ben dan menindih tubuh lelaki yang tengah terlelap dalam tidurnya itu. Ben mengerjapkan matanya dan berusaha mencerna apa yang terjadi.


"Ah, Sid," ujarnya seraya memicingkan mata birunya.


"Hey sleepy head, jam berapa ini?" Sidney terlihat gemas memandangi wajah bangun tidur Ben yang seksi.


"Kenapa kau datang pagi-pagi sekali, aku masih mengantuk," ujar Ben seraya mendorong tubuh wanita itu pelan. Kemudian membalikkan badan ke samping dan menarik kembali selimutnya. Sidney mendengus kesal.


"Ben .. ini jam 11 siang, kau berjanji menemaniku belanja hari ini," gerutunya dengan wajah cemberut. Menemani belanja artinya Ben harus membayari semua yang akan dibeli wanita itu.


"Tidak bisakah kita tunda besok?" tanya Ben dengan mata terpejam. Seolah-olah enggan membukanya.


"Lihat aku sudah berdandan rapi."


"Buka saja bajumu dan masuklah ke selimut,"


ujar Ben sekenanya. Wanita ini benar-benar merepotkan, pikirnya.


"Kau menyebalkan sekali, Ben!" hardik wanita itu kesal.


Ben bisa saja bangun dan menuruti permintaan Sidney. Hanya saja dia tidak punya gairah untuk melakukan apapun hari ini. Lelah karena pengerjaan album barunya yang baru saja diselesaikannya, dan juga wajah Laras yang tiba-tiba terlintas dalam benaknya. Ben merindukan gadis itu.


Terdengar suara pintu kamarnya dibanting dengan keras. Rupanya Sidney pergi dengan kekesalannya. Ben hanya mengedikkan bahunya. Tak berniat mengejar wanita itu. Rasa kantuknya tiba-tiba menghilang. Langkah kakinya gontai menuju ke kamar mandi.


***

__ADS_1


__ADS_2