
O'HARE INTERNATIONAL AIRPORT, CHICAGO, ILLINOIS.
"Ben, bisa lihat kamera sebentar?"
Ben melambai sekilas ke arah wartawan yang hendak mengambil fotonya.
Beberapa orang wartawan menguntit para personel The Rebellion yang didampingi team dan beberapa bodyguard mereka.
Kedatangan mereka di bandara telah ditunggu oleh ratusan penggemar yang rela berdesak-desakan di belakang garis kuning untuk membatasi jalan keluar band bergenre stoner metal itu dari bandara.
Ben, yang malam itu berpakaian seadanya dengan t-shirt hitam dan dibalut mantel tebal di luar serta celana jean warna biru dan sepatu sportynya melambai ke arah kerumunan penggemar yang meneriakkan namanya dan para personel lain.
Seorang wanita yang sepertinya adalah kru The Rebellion membisikkan sesuatu pada ke empat lelaki berambut panjang itu, sejurus kemudian ke empatnya melangkah menghampiri kerumunan penggemar untuk sekedar menyapa, memberi tanda tangan dan berfoto bersama.
"You're hot, Ben!" teriak seorang wanita di antara kerumunan penggemar.
"Owh .. thanks," sahut Ben seraya melambai ke arah wanita itu, pada saat yang bersamaan melayani permintaan foto selfi dari penggemar yang lain.
"I love you, Ben!"
Ben tersenyum. "I love you too!" sahutnya. Disambut pekikan kegirangan dari yang mengucapkan kata-kata itu.
Sesi sapa menyapa berakhir. The Rebellion dan team bergerak meninggalkan para penggemar mereka menuju sebuah bis mewah yang telah menunggu mereka di parkiran bandara.
"Marry, I need some beer, please!" seru Ben sembari menghempaskan badannya di atas sofa empuk di dalam bis.
"Me too!" Marcus menyahut.
"Marry, make it four!" Greg yang baru datang duduk di samping Ben, sementara Marcus dan Liam duduk di hadapan mereka.
"Okay, boys." Marry menyahut entah dari mana, namun sejurus kemudian wanita setengah baya itu muncul dengan empat botol bir yang telah terbuka tutupnya.
"Thank you, Marry," ucap Ben dengan manisnya.
"Sure, Ben." Setelah meletakkan botol di atas meja, Marry bergegas meninggalkan ke empat lelaki tampan itu.
Ben menyalakan rokoknya dan menghisapnya dalam-dalam.
***
WRIGLEY FIELD, CHICAGO. THE ROCK SHOW.
Festival musik rock/metal dari berbagai sub-genre berlangsung begitu meriah. Venue acara yang berada di sebuah lapangan baseball berkapasitas belasan ribu orang itu penuh sesak.
The Rebellion, malam ini tampil tepat setelah band metal kenamaan Amerika Serikat, Slipknot. Hiruk pikuk penonton menyambut kedatangan band stoner metal dari Manhattan itu ke atas panggung.
Ben, dengan rambut panjang terurai acak-acakan, t-shirt tanpa lengan berwarna hitam, celana jeans sobek-sobeknya dan gitar Gibson Les Paul-nya malam itu adalah magnet bagi ribuan mata yang menatap ke atas panggung. Lambaiannya ke arah penonton membuat semua yang berdiri di barisan depan berteriak histeris.
Sepanjang empat puluh menit waktu yang diberikan untuk The Rebellion, Ben mengacak-acak gitarnya dengan brutal, bergantian dengan Marcus yang mengimbangi cabikan tangan Ben yang memukau. Sementara Greg adalah pembetot bas berwajah dingin yang dengan santainya menuruti arah melodi kedua gitaris tampan itu. Di belakang sana, Liam bagai kesetanan menabuh drumnya dan menghasilkan bit-bit yang liar.
"Good night, Chicago!" ucap Ben mengakhiri penampilan The Rebellion malam itu. Seruan penonton bergemuruh hingga punggung keempatnya hilang di balik panggung.
__ADS_1
Keempat lelaki berambut panjang itu turun dari tangga belakang panggung dan menelusuri lorong menuju ke arah pintu yang terdapat papan menggantung di tengahnya bertuliskan nama band mereka.
Di dalam ruangan yang tidak begitu luas itu telah menunggu Jack, sang menejer, Marry sang asisten dan beberapa kru yang lain. Marry dengan cekatan membagikan botol bir pada Ben dan yang lainnya.
"Penampilan yang bagus, anak-anak!" seru Jack sembari mengangkat botol birnya.
"As always," sahut Marcus dengan sombongnya. Disambut dengan tawa semua orang yang ada di ruangan itu.
"Let's party, then?" celetuk Liam.
"Tentu .. tentu, pihak penyelenggara telah mempersiapkan pestanya di hotel." jawab Jack.
"O yeah!" pekik Liam kegirangan, lalu berhigh five dengan Marcus.
Ben hanya tersenyum tipis. Dalam pikirannya adalah dia ingin cepat-cepat pulang ke Manhattan, menculik Laras dan menghabiskan beberapa hari menghilang dengan gadis itu.
***
ROOFTOP BAR HOTEL ZACHARY, GALLAGHER WAY, CHICAGO.
Private party untuk semua band besar yang diundang di The Rock Show diadakan malam itu di sebuah bar di atap hotel mewah yang juga menjadi tempat mereka menginap.
Ben hanya duduk-duduk saja di meja bar, memperhatikan sekelilingnya yang penuh dengan orang-orang yang tengah menikmati minuman mereka. Tampak pula Corey Taylor, vokalis dari Slipknot yang malam itu melepas topeng badut menyeramkannya yang selalu dipakainya di atas panggung. Lelaki berumur empat puluhan tahun itu melambai ke arah Ben yang menyambutnya dengan mengangkat gelas sloki berisi whiskeynya.
Ada juga beberapa personel dari band System Of A Down yang tengah bersendau gurau di pojok ruangan.
"Ben, lihat siapa yang datang," ujar Liam yang duduk di sampingnya seraya menunjuk ke arah pintu masuk. Tampak seorang gadis berambut hitam dan berpakaian serba hitam tengah menengok kesana kemari seperti sedang mencari seseorang.
"Gadismu datang, Ben," goda Liam sembari terkekeh. Ben mengedikkan bahunya dan membalikkan badan lalu meminta bartender mengisi slokinya kembali.
"Ben ...." Suara panggilan itu membuat Ben memutar kedua bola matanya. Lelaki itu menoleh dan mencoba untuk tersenyum.
"Hi, Hailey," sapanya.
Hailey langsung mengambil tempat duduk di sebelah Ben dan menyunggingkan senyum lebarnya.
"Senangnya bisa bertemu denganmu lagi," ujar gadis itu. Liam berdehem sekali membuat Hailey menoleh ke arahnya. "Oh hi, Liam," sapanya kemudian.
"Hello, Hailey," sahut Liam sembari melirik Ben yang tampak acuh tak acuh. "Sepertinya aku akan bergabung dengan Marcus dan yang lainnya," ujarnya seraya turun dari kursi barnya dan bergegas meninggalkan Ben yang tengah memaki-makinya dalam hati.
Hailey memberi isyarat kepada bartender untuk memberinya satu gelas sloki dan menuang minuman yang sama dengan yang sedang Ben minum.
"Apa kabar, Ben?" tanya Hailey.
"Good." jawab Ben pendek tanpa menoleh kepada gadis itu.
Hailey menghela nafas dalam-dalam. "Bisa kau sekali saja bersikap ramah padaku?"
"What do you want from me?"
"Kau tahu aku menyukaimu bukan?"
"So?"
__ADS_1
"Ben .. lihat aku, apa aku terlihat buruk?" gerutu Hailey. Kemudian menenggak gelas slokinya.
"You're fine .. you're pretty," jawab Ben sembari meletakkan sikunya di atas meja bar.
"But I have girlfriend, sorry Hailey."
"I don't believe you," sangkal Hailey. Ben yang aku tahu adalah seseorang yang tidak pernah berkomitmen dengan wanita manapun.
"Terserah kau saja."
"Seriously?"
"Yep!"
Gadis itu kembali menenggak gelas slokinya. Menyuruh bartender mengisinya kembali, lalu mengulanginya hingga beberapa kali. Hawa hangat menjalar ke seluruh tubuhnya. Matanya menatap lelaki berambut pirang di sampingnya itu yang ketampanannya terlihat berkali-kali lipat malam ini.
"Kau tidak perlu berkomitmen denganku, Ben, aku hanya ingin perhatianmu sedikit saja, kau tidak tahu betapa aku tergila-gila padamu."
"Kau gila!" umpat Ben.
"You drive me crazy ...." Hailey mencoba meraih tangan Ben namun dengan segera lelaki itu menepisnya.
"You're drunk!" seru Ben. "You should go home."
"Please, Ben ...." Wajah Hailey tampak memelas. Gadis itu hendak berdiri, namun tubuhnya sedikit oleng. Secara refleks Ben menangkapnya dan membantunya kembali duduk di atas kursi.
"Aku akan menyuruh orang untuk mengantarmu pulang, okay?" kata Ben seraya melambai ke arah Jack yang tengah asyik mengobrol dengan beberapa orang.
"Hey, what happened?" tanya Jack ketika telah berada di dekat Ben dan Hailey.
"Kau bisa suruh seseorang untuk mengantarkannya pulang?" tanya Ben.
"No, no .. I'm okay .. Jack, I'm okay," sanggah Hailey seraya memandang ke arah Jack.
"Are you sure?" tanya Jack tak yakin.
"Absolutely." Senyum Hailey mengembang.
Ben menghela nafas berkali-kali. Berpikir keras bagaimana caranya menghindari gadis yang sangat agresif ini.
"Lihat, kau mengkhawatirkanku, Ben," ujar Hailey begitu Jack telah meninggalkan kembali mereka berdua.
"Tidak seperti yang kau pikirkan."
"Kau semakin membuatku penasaran."
Ben kembali menenggak gelas slokinya. "Hailey .. please, jangan ganggu aku."
"Santai saja sedikit Ben. Ayo kita minum dengan tenang, okay?"
Ben menggeleng pelan. Ditelungkupkannya kepalanya di meja bar. Badannya mulai terasa ringan. Terdengar sayup-sayup suara musik smooth jazz yang mengalun dengan syahdunya.
Langit Chicago begitu cerah malam itu.
__ADS_1