
"Aku punya waktu bebas selama seminggu sebelum berangkat tour."
Ben mengemudikan mobilnya melewati freeway exit kota New york. Laras mendecak, lalu bagaimana dengan kuliah dan juga pekerjaannya. Mungkin kuliah masih bisa ditolerir, tetapi bagaimana dengan dua pekerjaannya, ahh .. Laras menghela nafas dalam-dalam. Sudah pasti akan berakhir dengan pemecatan. Laras memijit dahinya.
"Rilex Laras .. just enjoy your life, will you?" ujar Ben yang melihat kegalauan di raut muka Laras.
"Enak sekali kau bilang begitu, ya mungkin aku akan menikmatinya saat ini, tapi apa yang sedang menungguku nanti adalah mimpi buruk .. aku pasti akan dipecat, geez!" pekik Laras.
Ben terbahak. "Kenapa memikirkan hal-hal yang tidak penting?"
Laras membulatkan matanya, tidak penting katanya. Dasar lelaki gila, makinya.
"Hey .. I'll take care of it okay, do you believe me? Now .. just enjoy your moment, Laras."
Ben menyentuh layar audio mobilenya. Lagu dari Francois Cabrel bergenre country yang romantis berjudul Je t'aimais je t'aime et je t'aimerais mengalun dengan lembutnya. Ben ikut menyanyikan lagu berbahasa Perancis itu dengan fasih. Laras terheran-heran.
"You speak french?" tanya Laras.
"Sedikit, nenek moyang keluargaku berasal dari Perancis, kau tahu Chevalier adalah nama Perancis."
Laras tersenyum. Dia teringat dengan Stephane, menejer di restauran tempatnya bekerja. Tampan, tapi genit. Tipikal pria Perancis mungkin, batin Laras.
"Kenapa tersenyum?" tanya Ben.
"No, nothing ...."
"Come on tell me!"
"Aku teringat menejer di restauran tempatku bekerja di akhir pekan. Namanya Stephane, dia orang Perancis, cukup tampan tapi genit, selalu saja menatapku dengan mata nakalnya," terang Laras.
"Apa kau ingin mengatakan kalau pria keturunan Perancis itu genit?"
Laras tergelak. "No, I didn't say that."
"Anyway, apa kau bilang tadi, dia selalu menatapmu dengan mata nakalnya?"
Laras mengangguk.
"Lain kali jika aku memergokinya sedang melakukan itu akan ku hajar dia!"
__ADS_1
"Hei kenapa bisa begitu? Kau tidak bisa menghajar seseorang hanya karena masalah sepele seperti itu," sungut Laras.
"Atau jangan-jangan kau menyukainya, pria Perancis yang romantis, oowhh," goda Ben sembari memperagakan seorang sastrawan yang tengah membaca puisi.
Laras mendecak. Lalu memanyunkan bibirnya.
"Hei Ben, aku tidak membawa pakaian ganti," ujar Laras tiba-tiba.Gadis itu menepuk jidatnya.
"Kau beli saja nanti waktu kita melewati sebuah swalayan," kata Ben dengan ringannya.
"What? Aku berusaha menghemat pengeluaran dengan tidak membeli baju baru selama beberapa bulan ini agar dapat membayar sewa apartemen," pekik Laras panik. Membayangkan tabungannya akan berkurang dan tidak bisa membayar uang sewa apartemennya.
"Oh My Gosh Laras .. I mean I'll pay for you," ujar Ben seraya mengacak rambutnya.
"Bilang dari tadi kek, bikin panik aja!" desis Laras dalam bahasa Indonesia.
"What did you say?" tanya Ben mengerenyitkan keningnya.
"Ah nothing." Laras hanya meringis.
***
Ben meraih dompetnya dan menarik sebuah kartu debit berwarna hitam.
"Apa kau juga mau membeli pakaian untuk ganti?" tanya Laras.
"Aku punya beberapa di bagasi," ujar Ben.
"Okay ...."
"Emh Laras .. kau pakai saja sebanyak yang kau mau," kata Ben sembari menunjuk kartu debit yang dipegang oleh Laras.
"Yes, Mister Crazy Rich Manhattan!" goda Laras seraya membuka pintu mobil.Ben terbahak. Kemudian mendorong sandaran kursi dengan punggungnya dan beristirahat sejenak.
Baru saja hendak terlelap, kaca mobilnya diketuk seseorang. Terlihat Laras tengah mencoba mengintip ke dalam kaca yang terlihat gelap dari luar. Ben menurunkan kaca mobilnya.
"Nomer pin?" kata Laras sembari meringis.
__ADS_1
"Ah damn," maki Ben pada dirinya sendiri. "It's 222***."
Laras mengacungkan jempolnya, lalu kembali masuk ke dalam swalayan. Ben tersenyum memandangi gadis itu dari jauh.
***
"Ben, hey .. wake up!"
Laras mengelus pipi Ben lembut. Lelaki itu dengan manisnya tertidur di kursi mobilnya.
Ben membuka mata pelan. Kemudian membenarkan sandaran kursinya.
"Ah kau sudah selesai berbelanja?" tanya Ben sembari merapikan rambut panjangnya ke belakang.
"Owh .. I'm so sorry, I took so long." Laras memasang muka penuh sesalnya.
"No problem," sahut Ben seraya memeriksa barang belanjaan Laras. "Cuma itu?" tanya Ben heran. Hanya satu buah tas kain berisi beberapa potong pakaian dan juga pakaian dalam.
"Memangnya aku butuh berapa banyak?" kata Laras sembari meletakan barangnya ke kursi tengah.
"Alright ...." Ben kembali memgemudikan mobilnya keluar dari pelataran parkir yang luas. Masuk ke dalam free way dan bergabung dengan mobil-mobil yang lain.
"Where exactly are we going?" tanya Laras yang menyadari mereka semakin jauh meninggalkan New York.
"To wherever our heart wants," jawab Ben dengan senyum jahilnya. Laras memutar bola matanya.
Ben melirik jam tangannya yang menunjukan pukul 8 malam.
"Kita akan menginap di Pennsylvania," kata Ben seraya melirik Laras. Bibirnya menyunggingkan senyum. Laras curiga Ben sedang memikirkan sesuatu yang kotor dalam otaknya.
"Aku tidak seburuk yang kau pikirkan," ujar Ben seperti mendengar isi kepala Laras.
Laras tersipu malu. Berusaha mengalihkan rasa canggungnya dengan menyentuh layar audio mobile dan mencari lagu yang mungkin di kenalnya.
Lagu rock klasik milik Eagle berjudul Hotel California menjadi pilihannya. Sepertinya cocok untuk didengarkan ketika melakukan road trip seperti ini.
"Good choice," puji Ben. Laras hanya terdiam dan menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. Ben mengelus kepala Laras dengan tangan kanannya. Gadis itu membiarkannya saja. Menutup matanya yang mulai terasa berat.
***
__ADS_1