
Laras menghempaskan badannya di ranjang sempitnya, mata gadis itu menerawang ke langit-langit kamarnya. Disentuhnya bibir merahnya itu dan mengelusnya pelan. Apakah barusan dia telah melakukan adegan ciuman yang sesungguhnya dengan seorang Benjamin Chevalier, lelaki yang begitu digandrungi para wanita itu, batinnya.
Laras tersenyum tipis, hatinya terasa berbunga-bunga. Bayangan wajah Ben yang tampan dan selengean itu kini memenuhi kepalanya.
Apa yang harus dilakukannya sekarang?menikmati setiap momen yang akan dilaluinya bersamaan dengan semakin suburnya perasaannya kepada Ben? Atau tetap pada pendirian semula yaitu menyimpan rapat perasaannya atau membuangnya jauh-jauh.
Laras menghela nafas dalam-dalam. Sejujurnya gadis itu begitu takut memupuk perasaannya terhadap lelaki itu karena resikonya terlalu tinggi. Dia adalah Benjamin Chevalier, dia mungkin menginginkannya sekarang, tapi begitu dia merasa bosan maka bukan tidak mungkin dia akan mencampakan Laras begitu saja. Hati Laras menciut.
"Jangan terlalu percaya diri Laras, mungkin saja ciuman itu tidak berarti apa-apa untuk Ben," gumamnya pelan kepada diri sendiri.
Laras menarik selimutnya, memikirkan semua itu membuat otaknya lelah. Matanya pun terpejam. Beberapa saat kemudian terdengar hembusan nafasnya yang pelan dan teratur.
Menandakan kalau gadis itu telah terbuai di alam mimpi.
***
"Lihat apa yang aku dapatkan!" seru Catherine sembari menggoyang-goyangkan dua kertas persegi panjang berwarna biru yang dipegangnya. Keduanya tengah duduk di tempat favorit mereka di kampus. Halaman kampus tepatnya di kursi memanjang di bawah pohon oak.
Laras mendekatkan wajahnya, memeriksa kertas yang Dibawa Catherine. Konser The Rebellion. Laras tersenyum tipis.
"Kau benar-benar membelinya, Cath," ujar Laras.
"Yep." sahut Catherine.
"Semalam Ben menciumku," kata Laras tiba-tiba. Mata abu-abu Catherine membulat.
Gadis itu kemudian menutup mulutnya yang terperangah dengan kedua telapak tangannya.
"Are you serious?" tanyanya kemudian.
Laras mengangguk.
"Apa kalian pacaran sekarang?"
Laras tergelak. "Apa secepat itu?"
"Why not?"
Catherine mengedikkan bahunya. Laras memandang lurus ke depan.
"Entahlah, Cath .. aku tidak yakin dengan diriku sendiri, aku terlalu takut, lagipula mungkin untuk Ben itu hal yang biasa."
"Ah Laras .. kau selalu saja terlalu banyak pertimbangan, kenapa kau tidak bisa menikmati hidupmu dengan tenang?"
"Menurutmu begitu?" tanya Laras sembari memandang sahabatnya itu.
"Yeah, kau terlalu tegang, Laras..cobalah untuk bersantai dan terima saja apapun yang datang dalam hidupmu," ujar Catherine.
Laras memanyunkan bibirnya. Kemudian mengangguk-angguk menyetujui perkataan Catherine.
***
Laras menyambar ponselnya yang berdering sejak tadi. Gadis itu baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di kepalanya. Laras memeriksa ponselnya dan nama Maya tertera di layar.
__ADS_1
"Hey, May," sapa Laras setelah menggeser tombol merah ke atas.
"Ras, lagi dimana?" Tanya Maya dari seberang.
"Di apartemen, gimana May?"
"Ada yang mau aku omongin sih, bisa ketemu kapan?"
"Aku ntar pulang kerja sekitar jam 1 malem, paling besok pagi di kampus. Ada apaan sih May, serius banget."
"Tentang kerjaan, ya udah besok aja ngobrolinnya ya."
"Siaappp," Laras menutup telponnya. Setiap Maya telpon pasti selalu ada kabar baik, Laras tersenyum. Dikeringkannya rambut panjangnya dengan hairdryer butut miliknya.
Setelah itu dikenakannya seragam kerja berdesain french maid namun tak terlalu vulgar lengkap dengan stoking putihnya. Kemudian menutupnya dengan mantel panjangnya.
Gadis itu menyambar tasnya lalu bergegas keluar dari apartemennya.
Jalanan di Tudor City tampak lengang. Laras melintas di Tudor City Park dan melirik kursi panjang di mana Ben mentraktirnya bacon roll pada waktu itu. Bayangan wajah Ben menari-nari di benaknya. Laras tersenyum simpul. Ah, senyuman lelaki itu benar-benar membuatnya kacau. Ada rindu yang menyeruak dalam dadanya.
Laras berjalan dengan cepat menuju tempat kerjanya di McFadden's Saloon yang hanya 15 menit berjalan kaki dari apartemennya.
"Kau buru-buru sekali, Nona."
Sebuah suara mengagetkannya, terdengar dari arah sampingnya, Laras menoleh, terkejut. Ben? Lelaki berambut panjang dengan kaca mata hitamnya itu tersenyum lebar ke arahnya. Memiringkan kepalanya untuk meneliti wajah Laras yang bersemu merah, akibat dari dadanya yang berdesir.
"Kenapa kau selalu ada di sekitar sini?" tanya Laras dengan polosnya.
Ben terbahak, membuka kacamata hitamnya,
Rambutnya diikat sembarang. Laras suka sekali melihat penampilan Ben yang terlihat asal namun seksi.
"Alasan yang sama, aku dalam perjalanan ke studio, dan aku melihatmu, lalu berhenti dan menemuimu," jawab Ben dengan entengnya.
"Ada yang bisa aku bantu?" Laras berhenti dan menghadap ke arah Ben. Mata mereka saling bertemu.
"Tidak, aku hanya ingin melihatmu saja," goda Ben dengan senyum jahilnya.
"Kau iseng sekali," gerutu Laras.
"Punya waktu untuk bacon roll mungkin?"
Ben menunjuk ke arah mini van yang terparkir
tak jauh dari mereka. Laras melirik jam tangannya, masih ada waktu 30 menit.
"Okay," jawab Laras.
"Alright .. kau duduk dulu di situ, akan ku ambilkan bacon roll spesial untukmu. "kata Ben seraya menunjuk kursi panjang yang sama seperti waktu itu. Lalu melangkah ke arah mini van bertuliskan "Burger Van" itu.
Laras duduk di atas kursi, memeperhatikan Ben yang tengah berbicara dengan salah seorang penjual di mini van itu. Ben menoleh ke arahnya lalu berbicara kembali dengan si penjual dan keduanya tertawa. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Laras curiga ada hubungannya dengannya.
Tak lama Ben kembali dengan dua bungkus bacon roll di tangannya. Menyerahkan salah satunya kepada Laras.
__ADS_1
"Apa tidak ada wartawan yang menguntit?" tanya Laras setelah mengucapkan terimakasih.
Ben tergelak. "Tunggu saja sampai foto-foto kita ada di headline sebuah majalah entertainment."
Laras merengut. Ben suka sekali menggoda gadis itu. Ekspresinya sungguh menggemaskan. Gadis mungil yang begitu manis dengan rambut hitamnya yang tergerai.
"Kau cantik sekali dengan seragam french maidmu," kata Ben sembari memajukan dagunya dan melirik paha Laras yang terbungkus stoking tipis.
"Dasar lelaki mesum!" maki Laras sembari menurunkan roknya yang sedikit tersibak.
Dirapatkannya mantel untuk menutup bagian depan tubuhnya. Ben terbahak. Digigitnya sepotong bacon roll sembari memperhatikan sisanya.
"Hmm .. aku tidak tahu bacon roll di tempat ini akan seenak ini, apalagi ditemani dengan seorang gadis dari negeri tropical." Ben kembali tersenyum dengan jahilnya. "Sepertinya aku akan sering mampir ke sini untuk mengajaknya makan junk food ini," kata Ben.
Giliran Laras tergelak. Humornya boleh juga, batinnya.
"Kau perayu ulung!" seru Laras sembari mengintimidasi Ben dengan tatapan matanya yang tajam.
"Owh please, jangan menatapku seperti itu, Laras .. aku bisa terkena serangan jantung,"
gurau Ben.
Laras mendecak. Menghabiskan potongan terakhir makanannya. Kemudian mengambil botol minuman yang ada di tasnya. Meneguk isinya hingga tenggorokannya terasa sejuk.
Laras menyodorkan botol itu kepada Ben.
"Terimakasih, Nona," ucap Ben seraya mengambil botol dari tangan Laras dan meneguk isinya.
"Akhir pekan ini datanglah ke Hammerstein Ballroom, Rebellion mengadakan konser di sana, akan aku urus backstage pass untukmu."
"Owh, kebetulan temanku membelikanku tiketnya."
Ben menaikkan alisnya. "Teman?" tanya Ben penasaran. Lelaki atau perempuan? tanyanya dalam hati.
"Iya, Cath sahabatku, dia memaksaku untuk menemaninya menonton kalian."
"Owh .. okay." Ben terkekeh dalam hati dan juga lega.
Laras melirik kembali jam tangannya. Sepertinya sudah waktunya dia bergegas ke tempat kerjanya.
"Ben, I gotta go to work," ujar Laras seraya berdiri dari duduknya.
"Alright then, when will I see you like this again?" tanya Ben yang masih duduk dan mendongak ke arah Laras.
Kali ini Laras yang menyunggingkan senyum jahilnya tanpa menjawab pertanyaan Ben.
"Bye, Ben," ujar Laras seraya berlalu meninggalkan Ben dengan wajah memelasnya.
"Laras .. hey!" panggil Ben, namun gadis itu hanya menoleh dan melambaikan tangannya.
Ben mengangkat kedua tangannya dan menengadahkannya, heran dengan sikap aneh gadis itu. Akhirnya dia hanya bisa memandangi punggung Laras yang mulai menjauh.
__ADS_1
***