
BROOKLYN BRIDGE PARK, BROOKLYN.
Mia berlarian menghampiri Brandon yang tengah duduk menunggunya di sebuah kursi kayu memanjang di bawah pohon Ailanthus atau yang biasa di sebut The Tree Of Heaven yang tumbuh subur di beberapa area taman.
Gadis itu menyerahkan salah satu bungkus taco pada Brandon dari dua yang baru saja dibelinya dari penjual taco keliling dalam mobil vannya, yang terparkir tak jauh dari mereka.
"Nice view, huh?" ujar Mia sembari memandang ke arah jembatan Brooklyn yang membentang di hadapan mereka. Sementara beberapa anak kecil di sekitarnya tengah bermain bola di atas rerumputan yang mengering.
"Yep!" sahut Brandon seraya menggigit taconya. Pandangannya lurus ke depan.
"Hei, kau terlihat murung." Mia mendorong bahu Brandon pelan.
"I broke up with Sarah."
"No way!" pekik Mia, lalu membulatkan kedua matanya, memandang sahabatnya itu tak percaya. "Why?"
Brandon menggeleng. "It doesn't matter anymore." Bibirnya menyunggingkan senyum kecil.
"Oowh, Brand .. so sorry to hear that." Mia mengelus punggung Brandon lembut.
"Aku tidak apa - apa. Sebaliknya, aku merasa lega. Aku sudah memutuskan sesuatu."
Mia mengerenyit. "Memutuskan sesuatu?"
"Ya, aku akan mengejar gadis yang selama ini aku sukai. Aku akan menyatakan perasaanku padanya."
"Wow, that's great, Brand."
Brandon menyelesaikan satu gigitan terakhir taconya kemudian mengambil sebotol air mineral yang ada di sebelahnya lalu meneguknya.
Pria itu menarik nafasnya dalam - dalam. Mengganti posisi duduknya menghadap ke arah Mia.
"Lamia," panggilnya lembut.
"Yeah?" Mia terkejut melihat wajah Brandon yang tampak tegang dan serius. Pipi pria itu bersemu merah.
"I .. want to .. emm .. say, that I .. ee ...."
"Ouch!!"
Mia terpekik ketika satu buah bola yang entah dari mana datangnya menghantam pelipisnya dengan cukup keras. Gadis itu meringis sembari mengelus pelipisnya yang terasa nyeri.
"Hey, be careful, okay?" Brandon berseru sembari melempar bola ke arah dua orang anak yang berdiri tak jauh dari mereka.
"Sorry ...." Salah satu dari anak itu berseru seraya menangkap bola yang dilempar oleh Brandon. Kemudian melanjutkan aktifitas mereka bermain bola kembali.
"Kau tidak apa - apa? Biar kuperiksa." Brandon meraih telapak tangan Mia yang tengah menutupi pelipisnya. Ada memar di sana. Gadis itu masih meringis kesakitan.
"Ouuch!" pekiknya ketika jemari Brandon mengelus pelipisnya yang mulai memerah.
"Sorry," ujarnya cemas. "Kita ke apartemenmu saja ya, mungkin aku bisa mengompresnya dengan ice cubes."
Mia hanya mengangguk sembari terus menutupi pelipisnya dengan telapak tangannya. Kemudian mengikuti Brandon yang menggandengnya ke parkiran mobil.
.
.
"Oouch, sakit!"
"Tahan, Lamia!"
Brandon mengusap dengan hati - hati memar di pelipis Mia dengan beberapa potong es batu yang telah dibungkus dengan handuk.
Wajah keduanya begitu dekat. Hingga tak elak pandangan mata Mia tertuju pada bibir tipis Brandon yang sedikit terbuka. Lalu turun menjelajahi leher Brandon yang kokoh. Dadanya berdegup kencang. Membuatnya berusaha keras untuk mengatur nafasnya yang sedikit memburu.
Brandon melirik Mia yang tampak gugup. Wajah gadis itu tertunduk. Perlahan diangkatnya dagu Mia dan dengan slow motion Brandon sedikit demi sedikit memiringkan dan mendekatkan wajahnya hendak menyentuhkan bibirnya pada bibir mungil di depannya itu.
Suara pintu apartemen yang dibuka dari luar mengagetkan keduanya hingga tak sengaja tangan kanan Brandon yang masih menempelkan handuk basah di pelipis Mia menekannya hingga gadis itu mengaduh kesakitan.
"Oops, sorry," ujar Brandon gugup. Mia mengelus pelan pelipisnya yang terasa nyeri kembali.
"Hi, Brand," sapa Ashley yang baru saja masuk ke dalam ruangan. "Lammy, apa yang terjadi?". Gadis itu melongok ke arah Mia yang tengah meringis kesakitan.
__ADS_1
"Sedikit memar di pelipis. Terkena lemparan bola di Brooklyn Bridge Park." Mia terkekeh.
"Uuffh." Ashley bergidig melihat pelipis Mia yang sedikit membiru. "Are you gonna be okay?"
"Yeah."
Ashley melangkah menuju kamarnya dan menutup pintunya rapat - rapat. Kini tinggallah Brandon dan Mia yang terlihat canggung satu sama lain. Duduk bersebelahan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
***
GREENWICH VILLAGE, MANHATTAN.
"Putar tuning pegsnya ke bawah, Daren, kau bisa?"
Mia membantu Daren menyetem senar biolanya yang mengendur. Bocah itu dengan antusias memperhatikan instruksi yang diarahkan oleh Mia. Kemudian mencobanya sendiri.
"Voila!" seru Mia senang begitu bunyi senar biola telah kembali ke kunci dasarnya.
"Mia, my vibrato ish gettingh better," kata Daren dengan suara cadelnya.
"O yeah? Show me, Daren. Play Allegretto in vibrato, please."
Daren segera menggesek nada pertamanya di kunci D open string sebagai permulaan. Ketika jemarinya menekan salah satu senar, bocah itu menggerak - gerakan telapak tangannya ke depan dan belakang, menghasilkan suara vibrato yang sempurna. Mia terperangah melihat betapa cepatnya Daren belajar.
"Bravo, Daren!"
Mia bertepuk tangan begitu Daren menyelesaikan lagunya. Bocah itu meringis senang.
"Can I give you a hug?" tanya Mia seraya merentangkan kedua tangannya, bersiap memeluk Daren. Bocah tampan itu menyambutnya dengan senang hati.
.
.
"See you, Mia."
Daren yang digandeng Jackelyn sang baby sitter melambai ke arah Mia dan melangkah mengikuti langkah wanita keturunan afro - america itu keluar dari ruangan itu.
Terdengar suara Daren menyapa Ben dari luar ruangan. Mia yang tengah merapikan peralatan biolanya segera mempercepat gerakannya memasukkan biola ke dalam soft casenya. Kemudian menggendong alat musik kesayangannya itu dan melangkah cepat ke arah pintu. Ketika tiba - tiba sosok Ben muncul dari balik pintu dengan senyum lebarnya.
"Hai, kuantar pulang ya?" tawarnya.
"Emm .. tidak .. usah, aku ...."
"Aku ingin makan makanan Indonesia di kedai Mr. Kusuma," ujar Ben seraya meraih tangan Mia dan menggandeng gadis itu. Tanpa bisa menolak Mia pun mengikuti langkah Ben menelusuri koridor hingga akhirnya sampai di luar rumah.
Ben melepas gandengan tangannya untuk membukakan pintu mobil pada Mia. Dengan ragu - ragu gadis itu pun masuk ke dalam mobil.
Sejurus kemudian keduanya telah berada di dalam mobil dan menelusuri jalanan Manhattan yang ramai, menuju Brooklyn Bridge yang merupakan jembatan penghubung antara Manhattan dan Brooklyn.
.
.
Dari dalam toko, Om Surya memperhatikan Mia yang baru saja turun dari mobil range rover hitam, diikuti dengan Ben Chevalier yang melangkah di belakang keponakannya itu. Kening pria paruh baya itu mengerenyit.
"Om," sapa Mia begitu masuk ke dalam toko dan mencium punggung tangan pamannya itu. Pria itu mengelus puncak kepala Mia.
"Hi, Mr. Kusuma, how are you." Ben menjabat tangan Om Surya dengan erat.
"Aku baik, Mr. Chevalier. Silahkan, silahkan." Om Surya mempersilahkan Ben duduk di satu meja kosong yang terdapat dua kursi saling berhadapan.
Toko yang merangkap kedai kecil itu tampak ramai oleh pengunjung yang sebagian besar berwajah Asia
Tenggara.
"Biar aku aja Om." Mia mengambil buku menu dari tangan Om Surya kemudian menghampiri Ben yang telah duduk dan tersenyum kepadanya.
"Kau mau pesan apa?" tanya Mia sembari menyerahkan buku menu pada Ben.
"Any suggestion?"
"Sup Mie Ayam."
__ADS_1
"What's that?"
"Emm .. Chicken Noodle Soup."
Ben berpikir sebentar. "Okay," ujarnya kemudian. "Apa kau akan duduk di sini bersamaku?"
"Aku akan membantu Pamanku dulu."
"Okay."
Mia melangkah masuk ke dalam ruang dapur menghampiri Om Surya yang telah memakai celemeknya.
"Sup Mie Ayam, Om," ujarnya.
"Kamu pacaran sama Benjamin Chevalier?" Om Surya menyahut perkataannya dengan topik lain. "Dari dulu Om pikir kamu deket sama Brandon."
"Ih, enggak Om, aku nggak pacaran sama Ben, sama Brandon juga sahabatan aja."
Om Surya terkekeh sembari memasukkan segenggam mie kuning ke dalam air mendidih.
"Terus kenapa kesininya bareng sama Ben tuh?" goda Om Surya.
Mia mendecak. "Tadi abis ngajar anaknya, Om. Terus kata Ben dia pingin makan makanan Indonesia di sini, ya udah dia nawarin aku ikut, sejalan inih kan."
"Oowh, gituuu ...." Om Surya manggut - manggut dengan senyum jahil yang masih tersungging di bibirnya.
"Biar aku yang anter," kata Mia begitu Om Surya selesai meracik Sup Mie Ayam di dalam mangkuk.
"Lam, jangan lupa hot teanya nih."
Mia mengambil nampan dan meletakkan semangkuk Sup Mie Ayam dan secangkir hot tea ke atasnya.
.
.
"Hmmm .. this is good, lebih enak dari .. nasi goreng," ujar Ben setelah selesai mengunyah mienya. Pengucapan nasi goreng dengan logat Amerikanya yang lucu membuat Mia terkekeh. "What's the name again? In Indonesian?"
"Sup Mie Ayam."
"Sup Mie Ayam," ulang Ben dengan logat bulenya yang menggemaskan. "Sup is soup, definitely," kekehnya. "So Mie means chicken, and Ayam means noodle? Is that correct?"
Mia berusaha menahan tawanya. "Kau terbalik."
"Owh, damn!" makinya seraya terbahak. "Kau tidak makan sesuatu?" tanya Ben kemudian.
"Emm .. aku belum terlalu lapar."
"I see."
Ben melanjutkan makannya dalam diam. Mia pun tak mau menginterupsi hingga pria tampan itu selesai makan.
"Dulu aku sering makan di sini," ujar Ben setelah menyeruput teh panasnya.
"Dengan Laras. Aku tahu, Pamanku pernah menceritakannya."
Kau ingin bernostalgia lagi, Ben? Baiklah, akan sampai mana?
Ben tersenyum kecut. "Sorry."
"It's okay. You don't have to say sorry. Dia wanita yang sangat penting dalam hidupmu. Aku mengerti itu."
Ben menatap Mia dengan sedikit rasa terkejut. Entah apa maksud perkataan gadis itu. Mungkinkah Mia sedang menyindirnya? Raut mukanya terlihat datar.
"Kuantar kau pulang." Ben beranjak dari duduknya.
"Tidak usah, Ben. Aku akan membantu Pamanku. Sepertinya tokonya mulai ramai."
"Owh, okay."
Ben melangkah ke arah meja kasir di mana Om Surya tengah melayani pembeli. Mereka berbicara sebentar kemudian Ben menoleh ke arah Mia dan melambaikan tangannya. Gadis itu hanya mengangguk. Kemudian tanpa mempedulikan kepergian Ben, dia membereskan meja dan melangkah masuk menuju ruang dapur.
***
__ADS_1