I Am Yours,Mr Chevalier!

I Am Yours,Mr Chevalier!
Part 125


__ADS_3

Mia berdiri mematung melihat Brandon yang berjalan ke sana kemari sembari menghisap rokoknya dengan kasar. Di tangannya ada gelas berisi cairan kuning kecokelatan yang sesekali diteguknya. Malam semakin larut, namun sayup - sayup masih terdengar suara musik yang menghentak - hentak dari dalam stadion.


"Brand ...," panggilnya.


Brandon menoleh. Menarik nafas, lega sepertinya. Namun sejurus kemudian pria itu terduduk, wajahnya kembali muram. Mengangkat kedua tangannya, pasrah.


Mia melangkah mendekati Brandon dan mengambil kursi untuk duduk di sampingnya.


"Did I tell you that I love you?" Brandon terkekeh.


"Kau sudah mengatakannya berkali - kali, bukan?"


Brandon menoleh ke arah Mia. "Did I?"


Mia mengangguk. "I'm not stupid, Silly!"


Brandon tergelak. Diteguknya kembali sisa Bruichladdich dalam gelasnya. "Well, you got me (Aku ketahuan)."


Mia menarik nafas pelan. "You know, it's weird. We're best friend, I have never thought you would fall in love with me. It's just .. so weird, Brand, you know what I mean?"


"Yeah."


"Aku butuh waktu untuk memproses semua ini. Gosh, banyak sekali kejutan akhir - akhir ini. Memang bukan sesuatu yang buruk. Tapi cukup rumit menurutku."


Brandon tersenyum kecut. Disambarnya botol Bruichladdich yang masih tersisa sedikit, mengisi gelasnya kembali lalu disodorkannya pada Mia. Gadis itu meraih gelas di tangan Brandon kemudian dengan susah payah meneguk dan menelan cairan berkadar alkohol tinggi itu.


"Apa yang kau bicarakan dengan Ben Chevalier?" tanya Brandon, tanpa menoleh pada Mia.


"Hmmmmm .. I don't have to answer that."


"Are you both officially girlfriend boyfriend, you know, stuff like that?"


"Brand, please."


"Okay, okay." Brandon mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.


"I need time, Brand, I need time, Geez!" Mia memberikan gelas yang sedang dipegangnya pada Brandon. Kemudian dengan kedua telapak tangannya dia meraup wajahnya dengan kasar.


"Kau tahu, Lamia, aku akan mengatakan ini sekali saja padamu, jadi dengar baik - baik." Brandon memposisikan duduknya menghadap ke arah Mia.


"Look at me!" pinta Brandon sembari menangkup kedua pipi Mia. "Aku, jatuh cinta padamu. Dan aku, adalah lelaki yang rela melakukan apa saja untuk membuatmu bahagia. Kau, ambil saja waktu sebanyak yang kau butuhkan. Aku yakin, suatu saat kau akan memantapkan hatimu. Kau, akan berada di sini." Brandon menepuk dadanya tiga kali. "Di pelukanku."

__ADS_1


Mia tercengang mendengar kata - kata Brandon. Dipandanginya wajah pria yang selama ini menjadi sahabat sekaligus orang yang selalu dia andalkan dalam setiap kesulitan. Sudut mata gadis itu mengembun.


"Well, we should go to sleep now, my head feels heavy, damn!" makinya sembari terkekeh, kemudian melangkah menuju satu tenda yang masih kosong.


"Ayo, Lamia!" serunya pada Mia yang masih terpekur diam di kursinya.


Mia beranjak dari duduknya dan menghampiri Brandon. Pria itu menyibakkan kain yang difungsikan sebagai pintu tenda.


"Good night, Lamia." Brandon mengecup pipi Mia lembut. Lalu berbalik menuju tenda satunya di mana William dan Bryan tengah tertidur.


Mia masuk ke dalam tenda, merebahkan tubuhnya di atas kasur tiup yang empuk, lalu menyelimuti dirinya dengan selimut seadanya yang dibawanya dari rumah.


Matanya terpejam, namun tidak dengan pikirannya. Adegan ciumannya dengan Ben di dalam bus tergambar jelas dalam ingatannya.


Yes, Ben.


Lalu bayangan wajah Brandon dengan mata sayunya yang menatapnya dengan segala macam rasa yang tercampur di sana, kini menari - nari di benaknya. Pelukannya yang hangat, senyumnya yang manis, dan segalanya tentang dia.


Aku yakin, suatu saat kau akan memantapkan hatimu. Kau, akan berada di sini. Di pelukanku.


Yes, Ben.


Aku yakin, suatu saat kau akan memantapkan hatimu. Kau, akan berada di sini. Di pelukanku.


Yes, Ben.


Aku yakin, suatu saat kau akan memantapkan hatimu. Kau, akan berada di sini. Di pelukanku.


"Aaaarrghhh!"


Mia berteriak kencang demi mengusir suara - suara yang silih berganti meneror otaknya. Gadis itu memegangi kepalanya yang terasa pening dengan erat.


"Lammy, you okay?" tanya Brandon dari tenda sebelah.


"I'm fine!"


***


STUDIO REBELLION, TIME WARNER CENTER, MANHATTAN.


Ben masih berkutat dengan gitarnya di dalam ruang musik yang penuh dengan kabel berserakan dan peralatan lainnya. Memainkan riff - riff lagu dari album ke tiga Rebellion yang sudah sekitar tiga tahun lebih ini tak dijamahnya. Adalah lagu berjudul The Sun Kingdom Queen yang dahulu ditulisnya untuk Laras, yang selama ini tak ingin didengar atau pun dimainkannya, kini Ben mencoba memberanikan diri untuk menguliknya kembali sedikit demi sedikit.

__ADS_1


Pintu ruangan yang terbuat dari kaca terbuka. Greg muncul dengan dua buah botol bir yang telah terbuka penutupnya. Ben menghentikan permainan gitarnya dan menyambar botol di tangan Greg.


"Aku mendengarmu memainkan lagu yang sudah lama kau kubur, Ben," ujarnya sembari duduk bersila di lantai, mensejajarkan diri dengan Ben.


"Yeah, sedikit."


"What happened?"


Ben terbahak. Lalu meneguk botol birnya. "Trying to move on."


"Hmmmm." Greg bergumam. "Apa ada sesuatu yang ingin kau ceritakan padaku?" pancingnya.


"Well ...." Ben menghela nafasnya pelan. Kemudian menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


"Apa ada hubungannya dengan wanita?" desak Greg.


"Hmmm .. maybe."


Greg mendecak. "Come on, tell me!"


"It's Lamia." Ben menggeleng pelan. "Aku menjadikannya pacarku, apa aku sudah gila?"


"Pffh .. it's so predictable."


"Yeah. I don't know."


"She seems to be a nice girl, Ben. Jangan lukai dia."


Ben kembali menggeleng. "I know," sahutnya. "Apa kau pikir aku terlalu cepat? Aku bahkan belum terlalu yakin dengan perasaanku."


"Wow, kau harus mempertanggung jawabkan itu, Ben."


Ben terkekeh. "Aku pikir aku bisa mencobanya. She's lovely, right? Maybe it's easy to fall in love with her."


"This is bad, Ben. You're playing with a girl's heart."


Semua yang dikatakan Greg benar adanya. Greg yang paling waras di antara personel Rebellion yang lain. Dia selalu bisa menganalisa masalah dengan benar. Dan dia juga seorang pendengar dan pemberi solusi yang baik.


Ben meneguk birnya hingga tak tersisa satu tetes pun dari botolnya.


***

__ADS_1


__ADS_2