I Am Yours,Mr Chevalier!

I Am Yours,Mr Chevalier!
Part 115


__ADS_3

Perlahan Mia membuka mata dan dilihatnya Brandon masih terlelap di sofa tak tauh dari ranjangnya. Gadis itu tersenyum. Kemudian beranjak dari tempat tidurnya dan menghampiri pria yang begitu nyenyak dalam tidurnya itu.


Mia berjongkok di hadapan wajah Brandon dan memandangi wajah tampan sahabatnya itu.


"Brandon, Brandon Charles Boyd," panggilnya lirih dengan suara yang dibuat - buat seperti anak kecil.


Mia terkekeh pelan ketika dilihatnya Brandon hanya menggeliat sebentar dan kembali terlelap.


Ponsel Brandon yang tergeletak di lantai bergetar. Nama Sarah terpampang di layar benda persegi empat itu. Mia mengguncang tubuh Brandon pelan hingga pria itu perlahan membuka matanya.


"Hei," sapanya seraya mengucek kedua matanya.


"Pacarmu menelpon." Mia menggoyang - goyangkan ponsel di tangannya.


"Hmm .. biarkan saja, akan kutelpon dia nanti."


Brandon tak berniat menjawab telepon Sarah. Disambarnya ponsel dari tangan Mia dan diletakannya sembarang.


"I gotta go to work." Mia berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.


"Aku akan mengantarmu," kata Brandon seraya bangkit dari sofa dan mengambil jaket yang tersampir di sisi ranjang Mia. "Kutunggu di ruang tamu."


Mia mengedikkan bahunya. Memandang sekilas punggung Brandon yang menghilang di balik pintu kamar.


.


.


"How do you feel now?" tanya Brandon sembari mengemudikan mobilnya di jalanan Brooklyn yang telah ramai pagi itu.


Mia tertunduk seraya tersenyum malu.


"Aku konyol sekali semalam."


Brandon terkekeh. Kemudian menggeleng pelan. Tak ditanggapinya perkataan Mia barusan. Matanya kembali fokus ke jalan.


Ponsel di dashboard milik Brandon bergetar. Nama Sarah tertera di layar. Pria itu segera meraih ponselnya.


"Yeah?" sahutnya. "Mmm .. aku sedang mengantar Lamia ke Linden," lanjutnya sembari melirik ke arah Mia. "Sorry, Sarah, aku tak bisa menjemputmu. Kita ketemu di tempat kerja ya. Bye."


Brandon meletakkan ponselnya kembali di dashboard. Mia menghela nafas pelan, lalu menoleh ke arah Brandon dengan perasaan bersalah.


"Aku merasa tidak enak pada Sarah."


"Why?"


"Seharusnya dia adalah prioritasmu sekarang."


"She's gonna be okay."


"Tapi aku ...."


"Hei, dengar, kau dan aku berteman jauh sebelum dia bertemu denganku, okay? Dia harus terima itu."


Mia tersenyum.


Beruntungnya aku memilikimu, Brand, apa jadinya aku di negeri orang ini kalau tidak ada dirimu.


"Kau masih prioritasku."


Brandon meraih jemari Mia dan mengecup punggung tangannya dengan gemas, membuat gadis itu merasa terharu. Refleks dia memeluk Brandon erat dari samping. Mencium pipinya sebagai ungkapan terimakasih yang teramat banyak.


"Hei, biarkan aku menyetir dengan aman, okay?"


"Sorry." Mia tergelak. Lalu segera melepaskan pelukannya. Dan kembali duduk manis di kursi penumpang. Bibirnya terus menyunggingkan senyum bahagia.

__ADS_1


***


"Come here."


Ben merentangkan kedua tangannya. Memberi isyarat pada Laras untuk mendekat ke pelukannya.


Wanita cantik bergaun putih itu menggeleng. Dia hanya duduk di tepian ranjang sembari menatap Ben dengan wajah iba.


"Why, Laras?"


"Why, Ben?"


Ben mengerenyitkan dahinya. "What's the matter, Baby?


"What should I do, Ben? To make you understand?"


Ben mengangkat kedua bahunya. "Understand what?"


"That life must go on."


"Not again!" Ben menggerutu. Ditangkupnya wajah dengan kedua telapak tangannya. Kemudian meremasnya sebal.


"Aku tidak ada di sini lagi, Ben .. berbahagialah!"


"Aku tidak mau mendengarnya, Laras!"


***


Mia duduk dengan tenang di dalam kereta bawah tanah yang mengantarnya dari stasiun dekat Linden Center menuju ke Brownsville. Suasana di dalam kereta cukup lengang. Hanya ada beberapa orang yang tengah sibuk menatap layar ponsel mereka masing - masing. Begitu pun dengan Mia.


Satu notifikasi email muncul di layar ponselnya.


Mia, aku kirimkan lagu kedua untuk kau pelajari terlebih dahulu. Kuberi kau waktu satu minggu untuk mengenalinya. Setelah itu akan kukabari kapan kau bisa datang rehearsal di studio.


Ben


file yang ada di di akhir surat eletronik itu. Sebuah file lagu berjudul Decameron.


Beberapa detik kemudian file sudah selesai dia unduh. Mia merogoh headsets dari tasnya dan memasangkannya pada ponselnya. Penasaran seperti apa lagu yang dikirim oleh Ben tersebut.


Decameron


I can hear the music


Sweet tunes that caress my soul


Music begging for music


It woes my soul ...so...


It enchants me...


...feeding my hunger


But I'm hungry for more


*S**o much more*...


Food for the poets thought


Ink for the thirsty pen


Lust for the ravaging whore


Bringing on her final encore

__ADS_1


Show me the notes to the music


Show me the words that I can't find


Write me a poem that touches me


And play this song as you write...


Mia termenung. Kagum. Lagu yang satu ini terdengar berbeda. Bukan stoner. Lebih kepada metal cassic doom, jika Mia boleh menggambarkannya. Ben memang luar biasa dalam mengaransemen sebuah lagu. Gadis itu tersenyum miris. Hatinya terasa sakit mengingat pria yang disukainya itu kini benar - benar terasa berada di luar jangkauannya.


Next stop, Brownsville Station.


Suara pengumuman di dalam kereta membuyarkan lamunannya. Segera dibereskannya ponsel dan headsets untuk dimasukkan kembali ke dalam tasnya. Lalu berdiri dan mendekat pada pintu keluar.


Kereta berhenti di stasiun Brownsville. Mia segera melangkahkan kakinya keluar dari kereta dan menaiki tangga keluar stasiun bawah tanah.


***


KEDIAMAN WILLIAM, STUDIO FUNERALOPOLIS.


"Kemana Brandon, kenapa dia terlambat?" ujar Bryan sang drummer heran. "Kau tahu kemana dia, Lammy?"


Mia yang tengah sibuk dengan biolanya hanya mengedikkan bahu. Setelah mengantarkannya berangkat kerja, Brandon tak menghubunginya lagi hingga sekarang.


"Mungkin sibuk dengan pacar barunya." Will terkekeh.


Pintu studio terbuka, Brandon muncul diikuti dengan seorang wanita cantik berambut pendek, yang tak lain adalah pacarnya, Sarah.


"Sorry, guys, I'm late," ujarnya seraya meletakkan tas gitar yang digendongnya ke lantai. " Oouwh, this is Sarah." Brandon memperkenalkan Sarah pada Bryan dan Will. "Sarah, those two guys are William, and Bryan. Mmm .. and that's Lamia, you've met her already."


"Hello, everybody. Hi, Lamia, nice to meet you again."


Sarah menyapa dengan ramah.


Mia tersenyum dan melambai ke arah Sarah. Lalu kembali sibuk dengan biolanya.


Sarah mengambil posisi duduk berdekatan dengan Brandon yang mulai mempersiapkan gitar dan peralatannya. Pria itu sesekali melirik Mia yang acuh tak acuh. Wajah gadis itu tampak murung. Ingin rasanya mendekapnya dan menciumi puncak kepalanya. Membiarkannya menangis di dadanya dan membuat pakaiannya basah oleh air matanya.


"Dua lagu cover. Any idea?" tanya Will.


"Seperti biasa, Summertime, Janis Joplin." Bryan menyahut.


"Drive, by Incubus." Mia menoleh ke arah Brandon yang tengah menatapnya. "Aku pernah mendengarmu menyanyikannya," ujarnya seraya melemparkan senyum jahil.


Brandon meringis. Melempar pandangan matanya pada Mia dengan ekspresi yang entah apa artinya.


"Alright, then. Deal!"


.


.


Brandon menyambar tas gitarnya lalu menggendongnya dan berniat untuk menghampiri Mia yang tengah mengobrol dengan Bryan dan Will. Namun dengan cepat Sarah meraih lengannya dan menggandengnya menjauh.


"Let's go, Babe," ujarnya manja.


"Tunggu sebentar." Brandon menoleh ke arah Mia. "Lammy, kau bisa pulang sendiri? Atau kau mau ikut dengan kami?" tanyanya.


"Tentu saja dia bisa pulang sendiri, Brand, she's not a kid!" sela Sarah sedikit kesal.


"Tidak apa - apa, Brand, aku belum mau pulang."


"Okay, see you, Lammy."


Mia tersenyum kecut menatap Brandon yang digandeng oleh Sarah, melangkah meninggalkan ruangan itu. Secangkir cokelat panas yang biasa mereka nikmati di cafe favorit mereka di daerah Brownsville setelah latihan, kini sepertinya rutinitas itu akan berubah dengan adanya Sarah dalam hidup Brandon.

__ADS_1


Gadis itu menarik nafas pelan. Rasa sunyi menelisik memenuhi relung hatinya. Mia memutuskan untuk bergabung kembali dalam obrolan bersama Bryan dan Will. Menanggapi kedua temannya itu sesekali dengan gelak tawa, meskipun hatinya terasa hampa.


***


__ADS_2