
Ben menghentikan permainan gitarnya ketika melihat Laras yang tengah susah payah menepis rengkuhan tangan seorang lelaki bertubuh besar. Langkahnya cepat menuju ke arah gadis itu dan menarik Laras ke dalam pelukannya. Perhatian pengunjung bar terpusat pada sumber keributan.
"Sorry sir, she's mine!" ujar Ben sembari menahan dada lelaki itu yang hendak kembali merengkuh tubuh Laras. Sepertinya lelaki berjenggot tebal itu tengah berada di bawah pengaruh alkohol yang tinggi.
"Give that girl to me!" seru lelaki itu, hendak memukul Ben namun ditahan oleh Beberapa pengunjung.
Dua orang petugas keamanan datang dan meringkusnya lalu membawanya keluar.
"Laras, kau baik-baik saja?" tanya Ben sembari memeriksa keadaan gadis itu.
Laras memegang kepalanya yang berdenyut. Dilingkarkannya lengannya di leher Ben dan menyandarkan kepalanya di dada lelaki itu.
"Ayo kita kembali ke motel," kata Ben seraya memapah tubuh Laras yang sempoyongan.
Sampai di luar, Laras terduduk di halaman dan memijit keningnya.
"Ben, I feel dizzy," kata Laras dengan suara manja.
"Aku akan menggendongmu," ujar Ben seraya mengangkat tubuh mungil Laras dengan kedua tangannya. Kemudian membawa gadis itu ke dalam kamar motel mereka yang tak jauh dari bar.
Ben membaringkan Laras dan menyelimuti tubuh gadis itu dengan selimut tebal.
__ADS_1
"Don't go!" seru Laras ketika melihat Ben hendak beranjak dari sisinya. Gadis itu meraih tangan Ben dan menariknya hingga lelaki itu tersungkur tepat di atas tubuh Laras. Wajah keduanya begitu dekat.
"Don't go," bisik Laras. Gadis itu memagut bibir Ben sembari mengelus punggungnya dengan lembut. Ben membalas ciuman Laras dengan penuh gairah.
Laras mendorong dada Ben hingga lelaki itu terbaring di sampingnya. Laras memeluknya erat. Menciumi dan mengelus rambutnya dengan gairah yang membara. Ben kembali memposisikan Laras di bawahnya. Menciumi leher dan dada gadis itu, membuatnya melenguh dan mengangkat wajahnya seraya menggigit bibirnya sendiri.
"Ben," panggil Laras dengan nafasnya yang memburu.
"Yes, baby." Ben menghentikan ciumannya, menatap Laras yang juga tengah menatapnya. Dilihatnya air mata gadis itu mengalir dari sudut matanya. Gadis itu terisak. Ben tidak tahu alasan Laras menangis, namun segera dipeluknya gadis itu erat-erat seraya mengelus kepalanya lembut.
"What's wrong, baby?" tanya Ben sembari mengelus lembut pipi Laras dan mengusap air matanya. Isakan tangis Laras semakin keras. Membuat Ben kebingungan.
"Hey, hey Laras .. what did I do wrong?" tanya Ben sembari mendudukan Laras di tepi ranjang. Mengangkat dahu gadis itu yang tertunduk.
Ben sadar Laras berada di bawah pengaruh alkohol, dia yakin gadis ini tidak terlalu tahu apa yang sedang dilakukannya.
"Hey, Laras .. stop crying, okay?" bujuk Ben sembari menepuk-nepuk punggung Laras.
"Don't leave me, Ben," ujar Laras sesenggukan.
"I'm here, I won't leave you."
__ADS_1
Laras mempererat pelukannya. Seakan-akan tidak ingin melepaskan lelaki itu. Ben membaringkan Laras. Keduanya berbaring berhadapan. Gadis itu meringkuk di bawah selimut tebal yang menyelimutinya.
"Ben, do you like me?" tanya Laras, lebih tepatnya menggumam. Ben merapikan rambut Laras yang menutupi wajahnya dan menyelipkannya di telinga Laras.
"I like you a lot, Laras," jawab Ben.
Laras tersenyum dengan mata masih terpejam. Kemudian melenguh pelan. Jari Laras menelusup ke balik kemeja Ben yang terbuka kancingnya dan menelusuri dada Ben yang penuh tattoo itu, membuat pola-pola yang tak beraturan.
"I love you, Ben," gumam Laras.
Ben terkesiap. Apa barusan dia tidak salah dengar apa yang diucapkan gadis ini?
"What did you say, Laras? Bisa kau ulang lagi?" tanya Ben sembari mendekatkan wajahnya ke wajah Laras.
"Hmmm," lenguh Laras.
Dilihatnya Laras masih menutup matanya. Jarinya kini berhenti bergerak. Nafasnya terdengar naik turun dengan teratur. Pertanda gadis itu telah tertidur.
Ben tertawa kecil. Lelaki itu menelentangkan tubuhnya, meletakkan kedua lengannya di belakang kepalanya seraya menatap langit-langit kamar bercat putih itu.
"Aku harap kau mengatakannya dalam keadaan sadar," gumamnya. "I love you too, Laras," bisiknya.
__ADS_1
Ben memejamkan matanya. Shamokin malam itu begitu hening.
***