
"Houston .. you were amazing, thank you!"
Ben mengakhiri konser malam itu di White Oak Music Hall, Houston. Penonton bergemuruh. Para punggawa The Rebellion melambai ke arah lautan manusia di bawah panggung. Jeritan-jeritan histeris masih terdengar hingga ke empat sosok lelaki berambut panjang itu tak terlihat lagi.
Di belakang panggung, ke empatnya disambut oleh para kru dan beberapa orang dari pihak venue. Terlihat Hailey berada di antara mereka. Berdiri di samping Jack, sang menejer. Pandangannya tak lepas dari sosok Ben.
Marry membawakan beberapa krat bir dibantu oleh lelaki bertubuh besar dan berjanggut panjang.
"Cheers!"
Semua orang yang berada di ruangan itu mengangkat botol bir masing-masing. Merayakan konser malam itu yang berjalan mulus dan juga spektakuler. Seperti konser-konser The Rebellion sebelumnya.
Beberapa saat kemudian, semua orang tenggelam dalam obrolan masing-masing.
Hailey mendekati Ben yang tengah menikmati bir dan menghisap rokoknya dalam-dalam.
Yang didekati memutar bola matanya. Terlihat jengah.
"Bisa kau berhenti menjadi tampan sesaat saja," ujar Hailey manja.
Ben mendesis. Menarik baju Marcus yang berada di sampingnya, membuat lelaki itu terseret ke hadapan Ben, menjadi tamengnya untuk menghindari Hailey.
"Marc, please help me!" pinta Ben dari balik punggung Marcus.
Marcus hanya cengengesan saja. Sementara wajah Hailey sudah cemberut.
"Hailey .. bersabarlah, jangan terlalu agresif seperti itu, lihat, Ben sangat ketakutan," gurau Marcus. Kali ini sukses membuat Hailey tertawa.
"Aku hanya ingin berpamitan," ujar Hailey, mengintip Ben yang masih berdiri di belakang Marcus.
"Ouh .. aku lega sekali," celetuk Ben.
Hailey mendengus. "Beri aku satu pelukan," rengek Hailey, sembari membuka kedua tangannya. Memberi isyarat kepada Ben untuk mendatanginya. Marcus mendorong Ben hingga berjarak beberapa centi saja dari gadis itu. Hailey memeluk Ben tanpa ragu. Begitu erat hingga membuat Ben kelabakan.
"Okay, aku harus ke bandara sekarang,aku tidak mau ketinggalan pesawat." ujar Hailey seraya melepaskan pelukannya.
Ben menggoyang-goyangkan telapak tangannya. "Bye, Hailey," ucapnya kemudian.
Hailey melambai dan memberikan ciuman jarak jauhnya kepada Ben. Sementara Marcus di belakangnya hanya terbengong-bengong.
"Gadis itu sepertinya telah tersihir dengan pesonamu," ucapnya ketika sosok Hailey telah hilang di balik pintu.
Ben menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Siapa yang tidak?" sahut Ben dengan bangga. Hanya Laras, mungkin. Ben tersenyum kecut, bayangan Laras tiba-tiba muncul dalam benaknya. Sedang apa gadis itu, apa dia masih marah?
***
Bus tour The Rebellion meluncur di jalan antar negara bagian meninggalkan Texas menuju ke kota persinggahan tour mereka selanjutnya, Wichita, Kansas. Perjalanan akan ditempuh selama delapan jam empat puluh menit.
Ben merenggangkan otot-ototnya yang terasa pegal. Tirai kabinnya tertutup. Dari luar masih terdengar beberapa orang tengah mengobrol.
__ADS_1
Ben tidak berniat untuk bergabung. Badannya terasa lelah.
Diambilnya ponsel yang tergeletak di sampingnya. Ada beberapa pesan dari Anita, dan satu pesan dari ibunya, Monica Chevalier.
Good luck with your tour, love you.
Ben tersenyum. Jarang sekali ibunya mengirimi pesan padanya. Mungkin hanya di hari-hari penting saja seperti ulang tahunnya, thanksgiving atau natal. Sedangkan Richard Chevalier, ayahnya, sama sekali tidak pernah.
Thanks, Monica, love you too.
Ben menekan tombol kirim di layarnya. Kemudian menghela nafas dalam-dalam. Tidak ada pesan atau telepon apapun dari Laras. Ben ingin sekali menyuruh Pablo untuk memeriksa keadaan gadis itu, namun takut hal itu akan menambah kekesalan Laras terhadapnya.
Jam di layar ponselnya menunjukkan pukul satu lewat tigapuluh menit dini hari. Tentunya Laras baru pulang kerja. Ben mengetuk-ngetukkan jemari tangan kirinya ke atas meja kecil di sampingnya. Berpikir untuk menghubungi Laras. Namun keraguan membuncah dalam dadanya.
"F**k it, I'll text her!" umpatnya pada diri sendiri.
Ben menuliskan serangkaian kata-kata pendek untuk dikirimnya kepada Laras.
Mencoba peruntungan, apakah gadis itu akan membalasnya atau mengacuhkannya.
Sweet dream, Laras.
Ben menanti balasan dengan hati berdebar. Sepuluh menit berlalu. Ponselnya bergetar.
Ben, I can't sleep.
Hampir saja Ben melonjak kegirangan membaca balasan pesan dari Laras. Jantungnya berdebar. Tanpa pikir panjang lagi, dihubunginya nomer Laras dengan segera.
"Hey, jangan bilang kau sedang minum-minum ya?" gurau Ben.
Tawa kecil Laras pecah. "Sedikit."
"Aku minta maaf telah membuatmu kesal."
"Hmmm ...."
"I miss you."
Kekehan Laras terdengar. Kemudian berdehem sekali, sepertinya gadis itu tengah mengendalikan diri untuk bereaksi biasa saja dengan ucapan Ben.
"Sungguh aneh, New York terasa sepi akhir-akhir ini."
Ben tersenyum miring. Sepertinya dia tahu arah pembicaraan gadis itu.
"Mungkin karena seseorang yang kau rindukan sedang tidak ada di kota itu," pancingnya.
"Hmmmm ...."
Hanya itu reaksimu? Pekik Ben dalam hati.
"Yeah, mungkin saja .. tapi dia sangat menyebalkan, rasanya aku ingin menonjok wajahnya yang sok tampan itu."
"Bukankah dia memang tampan?"
__ADS_1
"Masih lebih tampan Trump."
"Hey .. tatanan rambut pria tua itu buruk sekali," gerutu Ben.
Tawa Laras kembali pecah. Hati Ben menghangat. Rindunya kepada gadis itu benar-benar tak terbendung.
"Laras?" panggil Ben.
"Hmmm ...."
"Apa kau tidak mau menyusulku?"
"Aku sibuk sekali, dan ... hey, gara-gara kau menculikku untuk ide road trip gilamu itu, Larry memotong gajiku, menyebalkan sekali, sekarang aku harus bekerja ekstra di Boucherie untuk bisa membayar sewa apartemenku bulan ini!"
"Wow, kenapa Larry sekejam itu. Sungguh aku tidak menyangkanya, kalau begitu aku akan bertanggung jawab."
"Maksudmu?"
"Aku akan membantumu membayar sewa apartemenmu."
"Owh .. tidak perlu Ben, aku sama sekali tidak bermaksud untuk memintamu membantuku."
"Laras, aku memaksa!"
Terdengar Laras menghela nafas pelan.
"Kau tulis nomer rekeningmu nanti, aku akan menyuruh orang untuk mentransfer uangnya."
"Ben, kau membuatku tidak enak hati."
"It's just money Laras, kau lebih berharga dari itu."
Tak ada jawaban apapun dari Laras di seberang sana, sepertinya gadis itu tengah mencerna kata-kata Ben.
"Kau sudah mulai mengantuk?" tanya Ben. Ketika hanya mendengar deru nafas Laras.
"Yes ...."
"Okay, aku akan membiarkanmu beristirahat."
"Okay ...."
"Sweet dream, Laras .. I love you," ucap Ben, dengan kata-kata terakhir yang hanya diucapkannya dalam hati.
Ben menutup telponnya. Senyumnya terbit.
Mendengar suara gadis itu sedikit mengobati rasa rindu yang membuncah di dadanya. Ben memejamkan matanya, menikmati alunan orkestra adagio for stringnya Samuel Barber yang sayup-sayup terdengar.
***
Catatan Penulis :
Ben memanggil ibunya dengan nama depannya saja. Hal itu di negara-negara barat sudah biasa, anak-anak bisa memanggil ayah, ibu, kakek, nenek, paman, bibi atau orang-orang yang lebih tua dengan nama depannya saja tanpa embel-embel.
__ADS_1