
Laras merapikan rok seragam kerjanya dan melangkah mendekati Larry, bosnya yang tengah menatapnya sembari menyilangkan tangannya ke depan dada. Gadis itu sudah pasrah apapun yang menjadi keputusan bosnya itu.
"Larry, aku .. minta maaf telah membolos selama beberapa hari, terserah kau akan memotong gajiku atau yang terburuk, memecatku," ujar Laras dengan wajah yang pasrah.
Larry terdiam. Matanya menatap tajam ke arah Laras. Gadis itu menelan ludahnya dengan susah payah. Menunggu reaksi dari bosnya itu.
Tawa lelaki paruh baya itu meledak. Laras mengerenyitkan alisnya heran, atau lebih tepatnya kebingungan.
"Tenang saja Laras, Benjamin Chevalier, pacarmu itu telah mengancamku kalau aku berani memecatmu maka dia akan menutup tempat ini," kata Larry di sela-sela tawanya.
Laras terperangah, raut wajahnya masih menunjukkan kebingungan.
"Ta - tapi, dia bukan ...."
"Yeah, mungkin aku akan memotong gajimu .. sedikit." Larry mengedipkan sebelah matanya kemudian berlalu dari hadapan Laras yang masih terbengong-bengong.
Benarkah Ben mengancam Larry? Laras membatin. Si casanova itu benar-benar selalu punya ide yang asal. Seenak-enak jidatnya saja. Laras menggeleng, lalu tersenyum simpul. Ah, setidaknya dia tidak dipecat. Hanya saja dia bingung antara berterimakasih pada Ben atau memarahinya. Karena saat ini Laras benar-benar merasa tidak enak dengan Larry. Apa tidak ada cara yang lebih sopan untuk membuat Larry tidak memecatnya, batin Laras.
"Hey, Laras .. lihat ini!"
Meghan, rekan kerjanya, menyodorkan ponselnya ke wajah Laras. Halaman instagram yang memperlihatkan foto dirinya dan Ben bersama beberapa kelompok hippies yang ditemuinya beberapa hari yang lalu.
"Bagaimana kau bisa menemukan foto itu?" tanya Laras heran.
"Aku menemukannya secara acak di explore tab, mungkin salah satu hippies itu mempostingnya," jawab Megan dengan senyumnya yang menurut Laras sangat menyebalkan.
__ADS_1
"So?" tantang Laras. Gadis itu menaikkan kedua alisnya.
"Jadi kau masih mau menyangkal kalau Ben adalah pacarmu?"
Laras memutar bola matanya jengah.
"Memang dia bukan pacarku," sanggah Laras.
"Jadi kalian itu apa? Teman kencan?"
Laras mendesis. "Whatever!"
Diabaikannya Megan begitu saja dan meninggalkan wanita itu berkutat dengan rasa penasarannya yang tinggi. Wanita bercat rambut biru itu mendengus kesal sembari mengomel tidak jelas.
***
"Hi Mrs Chevalier," sapa Catherine ketika sampai di hadapan Laras.
"Shut up!" hardik Laras.
Catherine tertawa terbahak-bahak. Ekspresi Laras yang salah tingkah begitu lucu.
Laras menyodorkan kopi yang sudah dipesannya untuk Catherine.
"Bagaimana road tripnya? Apakah terjadi sesuatu yang .. hmmmm ...." Catherine tak melanjutkan ucapannya. Hanya senyum nakalnya yang dia lontarkan dan membuat Laras jengah.
__ADS_1
"Tidak terjadi apa-apa, puas?" seru Laras sembari membulatkan matanya.
"Geez Laras, kau bodoh atau naif? Melewatkan kesempatan bercinta dengan seorang Benjamin Chevalier," ujar Catherine sembari menyeruput kopinya.
Laras hanya mengedikkan bahunya.
"Jangan-jangan kau lesbian?" tuduh Catherine.
"Maybe," jawab Laras sembari mengerlingkan matanya dan membuat gerakan cium dengan bibirnya ke arah Catherine.
"Eew Laras, kau menakutiku," omel Catherine
membuat Laras terkekeh. "Apa kalian pacaran?" tanya Catherine penasaran.
Laras menggeleng.
"Lalu?"
"You know, Ben is Ben .. dia tetap seorang rockstar yang bebas memilih wanita manapun untuk ditiduri, tapi aku bukan wanita-wanita itu." Laras masih kesal dengan kata-kata Ben lewat telepon kemarin. Bahkan pesan dan telepon dari lelaki itu tak dibalasnya sama sekali.
"Ah Laras, kau terlalu negatif menilai dia."
Laras mengedikkan bahunya. Pandangannya menerawang ke depan. Terbersit rasa rindunya kepada pemilik tattoo salib terlilit ular di punggungnya itu. Namun hatinya masih merasa kesal. Entahlah, selalu saja perasaannya terhadap Ben seperti tercampur-campur antara positif dan negatif, baik dan buruk, yakin dan tidak.
***
__ADS_1