
Mia mengeraskan volume lagu dari ponselnya yang sudah tersambung pada speaker pintar Amazon Echo, di mana lagu berjudul Decameron dari The Rebellion yang dikirim oleh Ben beberapa waktu yang lalu, terdengar.
Digeseknya senar biola dengan bownya, mencoba mencari - cari nada yang sesuai. Namun beberapa menit telah berlalu, otaknya yang biasanya encer mencuri - curi nada, kini seakan buntu. Diletakkannya biola berwarna cokelat tua kesayangannya itu di atas tempat tidur. Lalu duduk bersimpuh di samping ranjangnya. Gadis itu termangu. Wajah Brandon tiba - tiba melintas di benaknya. Tersenyum manis menggodanya.
What the hell!
Mia menggelengkan kepalanya. Diambilnya kembali biolanya dan kini mencoba memfokuskan dirinya kembali pada lagu yang diulang - ulangnya dari awal hingga akhir itu.
Dering ponselnya membuatnya beringsut menyambar benda yang ada di atas nakas itu. Matanya membulat sempurna ketika melihat nama Ben tertera di layar.
"Hallo?" sapanya begitu jari telunjuknya menggeser tanda panah ke arah simbol telepon berwarna hijau.
"Hai, Lamia, kau bisa datang ke studio besok jam 5 sore?" Suara Ben di seberang sana.
"Hai, Ben ...." Mia menelan ludahnya. "Tentu." sambungnya.
"Great. See you tomorrow, then. Bye, Lamia."
Ben menutup telponnya. Mia mengatur nafasnya sejenak. Bibirnya menyunggingkan senyum. Bertemu si mata biru lagi. Berinteraksi dalam musik lagi dengan frontman The Rebellion itu.
Mia memposisikan kembali biola di bahunya. Lalu memekan tombol play di layar ponselnya untuk melanjutkan lagu yang tengah dikuliknya itu.
***
STUDIO THE REBELLION, TIME WARNER CENTER, MANHATTAN.
"Itu tadi sangat klasik. Dan depressive dalam waktu yang bersamaan. Kerja yang bagus, Lamia." ujar Ben seraya memposisikan tubuhnya sejajar dengan Mia yang tengah duduk bertumpu pada satu lututnya, dan sibuk membenahi peralatan biolanya.
"Owh, thanks, Ben." Mia melihat mata biru Ben berbinar. Tubuh gadis itu menghangat.
"Decameron akan keren!" seru Ben girang.
"I'm so happy to hear that."
"Let's celebrate it."
Mia menatap Ben heran. "Emm .. celebrate it?"
"Yeah, ayo pergi makan atau minum sesuatu. Atau hanya sekedar berjalan - jalan menikmati malam."
Mia memandang ke seluruh ruangan. Dilihatnya ketiga personel Rebellion yang lain masih sibuk dengan alat mereka masing - masing.
"Just you and me," ujar Ben.
__ADS_1
Dada Mia berdesir. "Emm .. aku ...."
"Kubawa kau menikmati malam di Manhattan. Kita bisa berbicara banyak hal, seperti ketika aku mengajakmu makan malam di belakang rumah."
Mia terlihat gugup mendengar perkataan Ben barusan. Gadis itu berusaha mengendalikan rasa senang yang menjalar di dadanya. Agar tubuhnya tidak terlonjak kegirangan dengan sendirinya.
"So?"
"Okay."
Ben tersenyum. Kemudian bangkit dari duduknya dan berpamitan pada Greg, Marcus dan Liam, lalu melenggang keluar dari ruangan itu.
Mia segera menutup tas biolanya dan melambai ke arah ketiga pria yang secara bersamaan menoleh ke arahnya. Dengan senyum jahil mereka tentunya.
"Good luck, Mia," celetuk Marcus seraya mengedipkan sebelah matanya dan membuat gadis itu tersipu.
Tanpa pikir panjang lagi, Mia segera menyusul Ben keluar dari ruangan musik yang terlihat berantakan itu.
***
230 FIFTH ROOFTOP RESTAURANT, MANHATTAN.
Mia memandang sekeliling restauran di atas atap gedung yang cukup mewah dengan pemandangan gedung Empire State yang menjadi salah satu icon di Manhattan. Tentu saja ini adalah pertama kalinya dia menginjakkan kaki di tempat semewah ini selama dia menetap di New York.
Mia membolak - balikkan buku menu mencoba mencari menu makanan yang akrab di lidahnya. Namun semua nama yang tertulis terlihat asing. Ben tersenyum demi melihat Mia yang tampak bingung memilih menu.
"Lamia, kau harus coba caviar pizza, it's so delicious." Ben memberikan sarannya.
Mia yang terkejut mendengar perkataan Ben segera mencari tulisan menu yang pria itu sebutkan.
Sialan, harganya $ 553. Itu harga bahan makananku selama dua minggu.
Gadis itu menelan ludahnya dengan susah payah. Wajahnya terlihat semakin bingung.
"Okay, tambahkan satu porsi caviar pizza, dan ...." Ben berpikir sejenak. "Satu gelas champagne."
Pelayan itu mengangguk. Lalu segera meraih buku menu dari tangan Mia dan satu lagi yang berada di dekat Ben. Kemudian meninggalkan keduanya.
"Maaf, aku tidak akrab dengan menunya." Mia meringis malu.
Ben mengibaskan telapak tangannya. "It's okay."
Mia melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 20.15. Menikmati suasana malam di Manhattan, bersama dengan Ben Chevalier, di sebuah restauran mewah dengan pemandangan gedung - gedung pencakar langit yang mengagumkan. Betapa menyenangkannya. Namun kenapa tiba - tiba dia merindukan cafe di dekat apartemennya di Brooklyn yang menyediakan menu cokelat panas dan roast nuts kesukaannya. Dengan ditemani oleh Brandon yang selalu saja menjahilinya. Dengan lelucon - leluconnya yang menggelikan. Dengan perhatian - perhatiannya yang membuatnya merasa tidak sendirian hidup di negara adidaya ini. Semua begitu sederhana, namun indah.
__ADS_1
Ah, sedang apa dia sekarang?
Mia menepuk jidatnya pelan. Mencoba menepis pikiran - pikiran aneh yang mulai menyerangnya.
"Something wrong?" tanya Ben heran.
"Owh, no, no, nothing."
Ben tersenyum. "Bagaimana menurutmu tempat ini?"
"Indah, sangat menyenangkan, dan .. mewah."
"Aku sering kemari, dulu, bersama mendiang isteriku, emm .. Laras, namanya Laras."
Mia tersenyum kecut. Kau kemari hanya ingin bernostalgia saja, Ben?
"Tempat duduk yang sama, dia duduk tepat di tempat sekarang kau duduk." Ben tersenyum dengan mata berbinar, namun jika diselami lebih dalam, duka itu masih bersemayam di sana.
Mia menelan ludahnya. Tenggorokannya terasa begitu kering.
"Maaf aku mengatakan semua ini padamu."
"It's okay," ujar Mia tercekat.
"Kau tidak keberatan, bukan? Aku membutuhkan teman bicara. Entah kenapa aku merasa nyaman denganmu, kau mengingatkanku pada Laras."
Kau sudah pernah mengatakannya, Ben. Kau sudah pernah mengatakannya.
"I .. don't mind. I .. emm ...."
Pelayan datang membawa pesanan keduanya dan menginterupsi perkataan Mia. Gadis itu pun tak melanjutkan kata - katanya. Mia menatap kosong ke arah pelayan yang tengah menghidangkan makanan ke atas meja. Pikirannya melayang entah kemana. Bayangan wajah Brandon yang tersenyum jahil menggodanya ketika dia sedang cemberut, muncul tanpa permisi. Membuat bibirnya tanpa sadar menyunggingkan senyuman kecil.
"Aku senang sekali bisa menemukan pemain biola secerdas dirimu, Lamia. Kau akan membuat album ke empat Rebellion berbeda."
Mia menatap ke arah Ben yang tampak berseri - seri. "I don't know what to say." Mia terkekeh.
"You don't have to say anything. Cheers!"
Ben mengangkat gelas champagnenya dan memberi isyarat pada Mia untuk melakukan hal yang sama.
Gelas mereka beradu pelan.
Keduanya menikmati makan malam dengan obrolan hangat. Ditemani oleh udara Manhattan yang dingin.
__ADS_1
***