I Am Yours,Mr Chevalier!

I Am Yours,Mr Chevalier!
Part 41


__ADS_3


"Ada satu hal yang ingin aku tanyakan, tidak terlalu penting, tapi aku merasa penasaran saja," ujar Ben sembari mengemudikan mobilnya menelusuri jalanan insterstates Pennsylvania yang kanan kirinya disuguhi dengan pemandangan perbukitan berbatu yang ditumbuhi rerumputan dan pohon-pohon mapple yang daunnya berwarna merah dan jingga.


"Apa itu?" tanya Laras sembari menyeruput kaleng coke nya.


"Kau bilang kau berhenti bekerja di rumah Rose karena kelelahan bekerja di dua tempat, tapi kenapa kau bekerja di Boucherie?" tanya Ben membuat Laras kebingungan hendak menjawab apa. "Jangan-jangan kau hanya ingin menghindariku saja," ujar Ben kemudian membuat Laras hampir tersedak.


"Emh .. sebenarnya, aku .. emh ...." Laras berpikir sejenak mencari alasan yang tepat. "Semula aku berpikir aku memang kelelahan, tapi ternyata tabunganku berkata lain, jadi terpaksa aku bekerja kembali di akhir pekan." Laras menarik nafas lega. Akhirnya dia menemukan alasan yang masuk akal.


"Jadi bukan karena ingin menghindariku?"


tanya Ben, menoleh Laras sekilas.


"Ah tidak! Untuk apa menghindarimu, aku tidak pernah punya masalah denganmu." Laras meneguk kembali kaleng cokenya. Membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering.


"Baiklah," kata Ben sembari menyentuh layar audio mobilenya. Lagu Man In The Box milik Alice In Chains mengalun. Ben membuka kaca pintu jendela mobilnya, menikmati angin musim semi yang segar. Langit sore begitu cerah.


"Sekarang kita mau kemana?" tanya Laras.


"Hmmm ...." Ben mengelus pipinya, pertanda sedang berpikir. "Kita singgah di Shamokin, kota kecil dekat Philadelphia, aku rasa di sana akan menyenangkan," kata Ben kemudian.


Laras baru pernah mendengar nama kota itu, dan sebenarnya selama dua tahun tinggal di New York, Laras belum pernah bepergian ke luar negara bagian itu. Ini adalah pengalaman pertamanya.


Lagu Road Trippin' milik Red Hot Chilli Peppers mengalun menggantikan lagu sebelumnya. Memberikan suasana yang lebih hangat.


"Apa kau lelah? Aku bisa menggantikanmu menyetir," ujar Laras.


"I'm okay," jawab Ben.


Laras memanyunkan bibirnya. "Apa kau takut aku akan merusak mobil mewahmu ini?" goda Laras.


Ben tergelak. "Bukan karena itu, Laras .. jika mobil ini rusak aku bisa membelinya lagi," ujarnya.


"Damn .. aku lupa sedang berbicara dengan seorang billionaire." Laras menutup mulutnya berpura-pura seakan dia terkejut.


Kembali Ben tergelak. "Aku belum merasa lelah, itu saja," sahut Ben sembari mempercepat laju mobilnya di jalanan yang tampak sepi.


Dari kejauhan kota Shamokin mulai terlihat.


Laras memandang sekeliling jalan raya. Tempat ini memang benar-benar indah. Perbukitan, padang rumput, bebatuan, dan pepohonan musim semi di pinggir jalan yang bermacam-macam jenisnya memanjakan mata sejauh apapun memandang.


Rumah-rumah bergaya victorian mulai terlihat di sepanjang jalan. Ben mulai memeriksa sekeliling untuk mencari motel tempat mereka akan menginap malam ini.


Plang bertuliskan Harry's Motel And Bar menjadi pilihan Ben untuk menghentikan mobilnya. Bangunan berdesain modern itu tampak berbeda dengan yang lainnya. Yang rata-rata berpenampilan khas bangunan eropa.


"Kau tunggu di sini," ujar Ben seraya menuruni mobilnya. Laras hanya mengangguk. Memandangi punggung Ben yang mulai menghilang di balik pintu lobby.


***



HARRY'S BAR, SHAMOKIN, PENNSYLVANIA.


"Laras kau harus coba ini," kata Ben seraya duduk di hadapan Laras, membawa sebuah botol minuman berwarna hijau. Seorang pelayan menghampiri sembari meletakan dua buah gelas pendek dan lebar, dua buah sendok yang berlubang-lubang di tengahnya dan semangkuk kecil gula kubus.


"Apa ini?" tanya Laras sembari memeriksa botol berwarna hijau itu.


"Absinthe, you're gonna love it, let me show you something," ujar Ben seraya meraih gelas Laras, meletakkan sendok di atasnya, lalu mengambil satu buah gula kubus dan ditaruhnya di atas sendok. Ben menuang perlahan cairan beralkohol di dalam botol hijau itu membasahi gula hingga larut dan menyatu dengan cairan ke dalam gelas.


"Try it," kata Ben.


Laras meneguk isi gelasnya itu pelan.


Matanya membulat.

__ADS_1


"Uuhhgh .. it's so strong my God!" pekiknya.


Ben terbahak. Kemudian menyiapkan minuman untuk dirinya sendiri.


"Is it good?" tanya Ben sembari menyalakan sebatang rokok dan menghisapnya dalam-dalam.


"Terasa seperti ramuan, tapi enak," jawab Laras. Kemudian meneguk gelasnya kembali.


Ben tersenyum. Memperhatikan Laras sepertinya mulai merasa nyaman.


Laras merasakan tubuhnya mulai menghangat dan ringan. Moodnya pun menjadi bagus.


Suasana bar mulai ramai. Terdengar alunan musik country dari band yang tengah tampil di panggung tak jauh dari mereka.


"Kota kecil ini lumayan juga," ujar Laras. Gadis itu terkekeh. Pipinya mulai memerah.


"I told you," sahut Ben.


"Aku tidak menyangka kau mempunyai jiwa petualang seperti ini," ujar Laras, meneguk gelasnya lagi.


"Memangnya kau pikir aku seorang anak rumahan?"


Laras kembali terkekeh. "Sudah pasti bukan!"


Gadis itu menyambar bungkus rokok di atas meja dan mengambil sebatang. Ben buru-buru membantu menyalakannya.


"Hmm .. kau benar-benar seorang gentleman," puji Laras. Sepertinya alkohol telah mempengaruhi cara bicaranya. Gadis itu menjadi sedikit cerewet.


"Ohya? Do you think so?" Ben tersenyum melihat tingkah Laras yang lucu.


"Yeah, yeah," sahut Laras. Satu tegukan membasahi tenggorokannya. Kemudian dihisapnya sebatang rokok yang terselip di antara jari telunjuk dan jari tengahnya itu.


"Lihat dirimu, kau sungguh terlihat sangat menggemaskan," ujar Ben seraya mengusap pipi Laras lembut.


Laras memicingkan matanya. Kemudian tertawa terbahak-bahak.


"Kenapa kau pikir aku sedang merayumu?"


"Kata-katamu .. itu .. sungguh manis." Laras terkikik. "Ben .. gelasku kosong," sambung Laras sembari menunjukkan gelasnya.


Ben segera menyiapkan kembali minuman untuk Laras.


"Silahkan, Tuan Puteri," ujar Ben seraya menyodorkan gelas yang telah terisi kembali pada Laras.


"Thank you Mister Chevalier," jawab Laras dengan logat yang dibuat seperti bangsawan.


Wajah Ben berbinar. Baru kali ini dilihatnya Laras tampak lepas. Selama ini yang dia lihat gadis ini begitu tegang dan serius. Namun malam ini Ben seperti melihat sisi lain dari diri Laras.


Laras menghisap kembali rokoknya. Lalu menghembuskan asapnya ke udara kemudian terkekeh.


"You look so happy, Laras," kata Ben.


"Of course I'm so happy, I am like .. the happiest girl in the world!" Laras mengangkat gelasnya, kemudian meneguk isinya.


"Ohya? Kenapa?"


"Look at me, aku terdampar di tempat ini dengan seorang Benjamin Chevalier, pria yang paling diinginkan oleh semua wanita." Laras terbahak.


"Tapi kau tidak menginginkanku," pancing Ben.


Mata Laras membulat. "Owh .. benarkah?"


"Yep!"


"Bagaimana bisa aku tidak menginginkanmu, Mister Chevalier. Lihatlah dirimu, kau makhluk yang nyaris sempurna," ujar Laras tanpa menyadari apa yang telah dikatakannya.

__ADS_1


"Jadi, apa sebenarnya kau menginginkanku?"


"Definitely!" Laras kembali terkekeh. Diteguknya sisa cairan dalam gelasnya.


"Owh .. senang sekali mendengarnya," ucap Ben. "Kau tunggu di sini sebentar, jangan kemana-mana, okay?"


"Yes, Ben," sahut Laras sembari mengulum senyum manisnya.


Ben melangkah menuju panggung dan berbicara dengan anggota band yang tengah break tampil. Lelaki berambut panjang itu mengambil sebuah gitar akustik yang ada di stand gitar. Kemudian duduk di kursi yang ada di tengah panggung. Ben membenarkan posisi mic lalu diarahkan ke depan mulutnya.


"Good evening, Shamokin," sapa Ben. Semua orang yang berada di dalam bar memandang ke arahnya. Sepertinya mereka tidak mengenali siapa Ben. Membuat Ben merasa lega.


"Emh .. my name is Ben, and I would like to play a song for my girl over there." Ben menunjuk ke arah Laras yang tengah terkesima memandangnya.


"It's from Faith No More called Take This Bottle."


*I can wait to love in heaven


I can wait for you


Far away, I'll treat you better


Better than down here


Cuz I've done wrong


And I'm a little afraid


And I ain't to strong


And this ain't easy to say


Take this bottle


Take this bottle


And just walk away - the both of you


And let me feel the pain - I've done to you


I can hope we'll be together


With a better roof over our heads


I can hope the stormy weather


It passes on - it passes on


But I've hoped too long


Hoped for me to change


And that hope is gone


So listen to what I say:


Take this bottle*


Ben memainkan gitar akustiknya dengan rapi. Sangat berbeda dengan aksi panggungnya bersama The Rebellion. Beberapa orang bahkan mengajak pasangannya untuk berdansa mengikuti lagu yang dimainkan Ben dengan indahnya.


Sementara Laras duduk memandang Ben seraya menopang dagunya dengan kedua tangannya. Senyumnya terus tersungging dari bibirnya.


Tiba-tiba seseorang menarik tangan Laras dan memintanya untuk berdansa dengannya.


Seorang lelaki bertubuh besar dan berjanggut tebal merengkuh tubuhnya. Kepala Laras terasa berdenyut. Badannya mulai sempoyongan.

__ADS_1


****


__ADS_2