I Am Yours,Mr Chevalier!

I Am Yours,Mr Chevalier!
Part 67


__ADS_3

Laras menghempaskan tubuhnya ke atas kasurnya. Seragam kerja McFadden masih melekat. Jam menunjukkan pukul satu dini hari. Laras baru saja tiba di apartemennya.


Gadis itu beberapa kali memeriksa layar ponselnya, tak ada telpon atau pesan apapun dari Ben, terhitung beberapa hari setelah sang gitaris menjemputnya dari Boucherie. Di kampus pun tak terlihat batang hidung Ben. Tentu saja, lelaki itu memang masuk kuliah semau-maunya saja. Tapi tetap saja Laras mengharapkan si casanova itu tiba-tiba muncul di hadapannya secara tiba-tiba. Dengan senyumnya yang membuat Laras mabuk kepayang itu.


Laras berbaring sembari terus menatap layar ponselnya. Rasa sepi mulai merasuk ke dalam dadanya. Ben marah atau memang sedang sibuk? Berbagai pertanyaan bermunculan dalam benaknya tanpa ada jawaban pasti. Ingin sekali menghubungi lelaki itu namun Laras terlalu malu untuk melakukannya. Untuk mengobati rasa rindunya, Laras hanya bisa stalking media sosial The Rebellion yang menampilkan segala macam aktivitas band itu. Benar-benar mirip seorang penggemar rahasia yang hanya bisa melihat Ben dari jauh. Terkadang dadanya terasa nyeri ketika membaca komentar-komentar para penggemar wanita Ben. Mereka benar-benar memuja lelaki itu. Bermimpi Ben Chevalier bersedia menikahi mereka.


Laras berusaha memejamkan matanya. Memutar kembali dalam kepalanya moment-moment indah yang dilaluinya dengan Ben yang membuat perutnya terasa keram dan jantungnya berdetak dengan kencang. Lelaki itu benar-benar menjungkir balikkan perasaannya beberapa hari ini tanpa kabar, memaksanya untuk selalu memikirkannya setiap waktu. Membuatnya tidak bisa berkonsentrasi terhadap apapun yang dikerjakannya.


"Ah, Ben ...." Laras berucap lirih. Gadis itu membalikkan badannya dan memandang langit-langit kamar. Bayangan wajah Ben menari-nari di sana seperti sedang menonton film dari proyektor.


"Aku udah gila." Laras menarik selimutnya lalu menutupi wajahnya. Namun bayangan Ben tak kunjung menghilang. Laras melenguh panjang lalu menarik nafas dalam-dalam.


***


"Hey .. what's wrong?" tanya Catherine ketika memeperhatikan wajah Laras yang terlihat muram.


"Nothing," jawab Laras sembari terus berjalan menelusuri lorong di depan kelasnya.


"Need some coffee?"


Laras mengangguk. Lalu keduanya berjalan keluar dari gedung dan menuju ke cafe kampus yang hari itu tak terlalu ramai.


Laras menghentikan langkahnya di pintu masuk cafe ketika dilihatnya sesosok berambut pirang yang memenuhi pikirannya beberapa hari ini tengah duduk di pojok ruangan. Namun dia tidak sendiri. Dihadapannya duduk seorang wanita dengan wajah latinonya yang cantik. Laras mengingat wanita itu, Claire. Hati Laras mencelos seketika.

__ADS_1


"Sepertinya aku tidak jadi minum kopi, kepalaku pusing. Sebaiknya aku pulang saja," ujar Laras sembari membalikkan badannya dan melangkah pergi.


Catherine menaikkan alisnya. Disapunya pandangan ke seluruh ruangan dan mendapati Ben yang duduk membelakangi mereka di pojokan.


"Laras, tunggu!" seru Catherine seraya mengejar Laras yang berjalan menjauh.


Seruan Catherine membuat Ben menoleh dan sekilas melihat sosok Laras dari kaca jendela cafe. Gadis itu tengah berjalan dengan cepat, dikejar sahabatnya, Catherine yang berusaha mengimbangi langkahnya.


Ben terkesiap, reflek bangkit dari duduknya.


"Tunggu sebentar," ujar Ben seraya menyentuh lengan Claire lalu berjalan cepat keluar cafe.


Dari jauh terlihat Catherine sepertinya tengah membujuk Laras untuk tidak masuk ke dalam taksi yang tengah berhenti di depan kedua gadis itu. Ben mempercepat langkahnya menghampiri keduanya.


Catherine terkejut melihat Ben. Dia hanya menunjuk ke arah taksi berwarna kuning yang telah pergi manjauh itu. Ben menyibakkan rambut panjangnya ke belakang kepalanya. Raut wajahnya terlihat gundah.


"Is she okay?" tanya Ben.


Catherine hanya mengedikkan bahunya.


"Aku rasa moodnya sedang tidak bagus hari ini," sahut Catherine.


Ben menghela nafas pelan. Memegang bahu Catherine sekilas, lalu berlalu dari hadapan gadis itu.

__ADS_1


***


Ben mengutak-atik efek gitarnya dengan teliti.


Sudah beberapa menit berkutat dengan aktifitasnya itu namun tak ada suara yang cocok sama sekali. Entah karena benda persegi panjang itu sedang menolak untuk diajak berkompromi atau memang otaknya yang sedikit eror. Sulit sekali rasanya berkonsentrasi sementara bayangan wajah Laras yang muram siang tadi memenuhi kepalanya. Gadis itu melihatnya bersama Claire siang tadi.


Laras tidak mengangkat telponnya. Sudah bisa dipastikan gadis itu telah berpikir yang tidak-tidak terhadapnya. Sementara jadwal yang padat hari ini tidak memungkinkannya untuk menemui Laras di apartemennya. Rehearsal, interview di dua stasiun tv, dan rasa lelah yang menyerangnya setelah beberapa hari ini begitu disibukkan dengan aktivitas The Rebellion yang tanpa henti.


"I need to take a break," ujarnya sembari meletakkan gitarnya. Greg menoleh ke arah Ben dan mengedikkan bahunya. Sementara Marcus dan Liam masih melanjutkan latihan.


Ben mendorong pintu ruang musik dan melangkah keluar menuju ruang tamu yang luas. Direbahkannya tubuhnya di atas sofa.


"Kau mau minum sesuatu, Ben?" tanya Marry, wanita yang dipekerjakan The Rebellion untuk mengurus segala keperluan band itu.


"Ya, bisa kau buatkan aku satu gelas margarita?" jawab Ben.


"Tentu."


"Thanks, Marry."


Selang beberapa menit kemudian Marry memberikan satu gelas margarita segar yang langsung membasahi tenggorokan Ben yang kering. Badannya terasa menghangat. Rasa lelahnya sedikit berkurang.


Diambilnya ponselnya yang berada di atas meja. Ditelponnya kembali Laras namun gadis itu tetap tidak mau mengangkat telponnya. Ben menarik nafasnya dalam-dalam. Dinyalakannya sebatang rokok dan menghisapnya. Lalu menghembuskan asapnya dengan kasar.

__ADS_1


***


__ADS_2