
"How was your date?"
Mia menyeruput cokelat panasnya, memperhatikan Brandon yang hanya mengaduk - aduk cangkirnya tanpa berniat untuk meneguk isinya.
"It's .. okay." Pria berambut kecokelatan itu menjawab malas.
"Siapa namanya?"
"Hmm? Ouwh .. it's Sarah."
"Kau kenal dia di mana? Apa dia cantik? Baik?"
Brandon mendesis. "Dia .. rekan kerjaku, cukup cantik." Pria itu berpikir sejenak. "She's nice and sexy," guraunya.
Mia tersenyum gembira. "Hey, I'm so happy for you."
Gadis itu mengusap lembut lengan bertattoo tinta merah Brandon. Pria itu hanya menarik sudut bibirnya. Tersenyum asal.
"Kau sendiri? Kau terlihat .. gembira."
Mia menunduk. Menyembunyikan senyumnya malu - malu. "Kau tidak akan percaya ini."
"Apa? Dia menciummu?" tebak Brandon, yang langsung dibalas dengan anggukan mantap kepala Mia.
Brandon membuang mukanya. Mencoba menetralisir rasa nyeri yang tiba - tiba menyerang dadanya.
"This is like a dream. Ben Chevalier kissed me? O Gosh, Brand. Who am I to deserve this."
"Just .. be careful." Brandon berucap lirih.
"Aku tahu. Aku tidak akan berharap banyak. Aku sadar siapa dia, dan siapa aku."
Brandon meremas punggung tangan Mia. "Aku tidak bermaksud membuatmu down. I just want you to be happy, Lamia."
Mia meringis. "Aku menyayangimu, Brand."
Jemari tangan Brandon mengelus pipi Mia lembut. I love you, too.
"Well, kuharap semuanya berjalan lancar untukmu."
"I hope so."
"Jika kau berpacaran dengan Ben Chevalier nanti, kuharap kau masih mau kuajak minum cokelat panas seperti biasa." Brandon terkekeh.
"Dasar bodoh, tentu saja aku mau. Lagi pula .. itu hanya sebuah ciuman kecil, mungkin saja tidak berarti apa - apa." Mia memanyunkan bibirnya sembari menopang dagunya dengan kedua telapak tangannya.
Brandon tak berniat menanggapi kata - kata Mia barusan. Dia hanya menatap kosong entah kemana.
Cafe tempat keduanya berada mulai ramai oleh pengunjung.
***
LINDEN CENTER, BROOKLYN.
"See you tomorrow, Chante."
__ADS_1
Mia menyambar tasnya dan juga biola yang dibawanya dari apartemen. Melambai ke arah Chante, lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.
Hari ini, seperti yang dikatakan Ben, seharusnya pria itu akan ke Linden dan Mia akan ikut dengannya ke studio Rebellion untuk melakukan rekaman. Namun seharian ini tak dilihatnya sosok Ben di tempat ini. Bahkan ketika dia mengantar makan siang ke kamar Rose, Ben tak terlihat batang hidungnya.
Mia menarik nafas dalam - dalam. Melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 05.30. Kemudian melanjutkan langkahnya keluar area gedung.
Terdengar langkah setengah berlari di belakangnya hingga dirasakannya ada seseorang yang telah mensejajarkan langkah di sampingnya.
"Hei, kau sudah selesai kerja?"
Mia menoleh. Dadanya berdegup kencang. Ben tersenyum.
"Kau .. sudah ada di sini?" tanya Mia gugup.
"Ya, satu setengah jam yang lalu, aku ada urusan dengan Rose."
"O - okay."
"Kita langsung saja ke studio?" tanya Ben.
"Terserah kau saja."
Ben mengangguk. Lalu melangkah menuju tempat mobilnya terparkir. Mia mengikuti dari belakang. Diperhatikannya punggung kokoh Ben yang terbalut mantel tebal itu. Mia menelan ludahnya. Punggung yang pastinya terasa nyaman untuk bersandar.
"Silahkan." Ben membuka pintu mobil untuk Mia dan mempersilahkan gadis itu masuk.
Mia terkesiap dan segera masuk ke dalam mobil. Tak lama kemudian Ben mengemudikan mobilnya keluar dari area Linden Center.
"I'm sorry about last time." Ben berucap memecah keheningan di antara mereka.
"Hmm?"
"Yeah, about the kiss. I'm sorry. I didn't know what I was doing. Aku harap kau tidak berpikiran macam - macam terhadapku. Maafkan aku, Lamia."
Mia tercekat. Suara lembut Ben terasa seperti pisau belati yang menusuk - nusuk dadanya. Tiba - tiba gadis itu merasa begitu bodoh. Bagaimana bisa dia berharap lebih. Bagaimana bisa dia berharap akan ada kisah lanjutan setelah kejadian itu. Bagaimana bisa dia berpikir kalau pria di sampingnya ini, menyukainya.
"It's okay," ucapnya dengan suara serak.
Ben menepuk - nepuk punggung tangan Mia lembut. Menoleh sekilas ke arahnya dan tersenyum. Kemudian kembali fokus di jalanan Manhattan yang ramai.
***
Mia menyelesaikan rekaman biolanya dengan lancar. Hanya ada beberapa pengulangan bagian melody ketika tiba - tiba otaknya blank, tepat ketika kata - kata Ben di dalam mobil beberapa saat yang lalu mulai terngiang kembali dan mengacaukan konsentrasinya.
Sesi rekaman lagu Icarus With You pun selesai. Mia mulai membenahi peralatan biolanya dan bersiap - siap untuk berpamitan.
"Lamia!" panggil Ben seraya mendekati Mia yang tengah meraih tas biolanya dan menyampirkannya ke punggung mungilnya.
"Kau temui Marry, dan tinggalkan nomer rekeningmu padanya ya."
Mia mengangguk.
"Kau bisa pulang sendiri? Maaf aku tidak bisa mengantarmu."
"It's okay. See you," ujarnya lirih. Kemudian menoleh ke arah Greg, Marcus, Liam dan seorang Sound Engineer yang masih berkutat di layar komputernya untuk berpamitan pada mereka.
__ADS_1
Mia meninggalkan ruangan yang penuh peralatan rekaman itu dengan hati tak menentu. Dihampirinya Marry yang tengah sibuk di dapur studio. Lalu mengambil secarik kertas dari dalam tasnya, menuliskan nomer rekening seperti permintaan Ben, dan memberikannya pada wanita berbadan sedikit tambun itu.
.
.
Mia menekan - nekan bel apartemen Brandon berkali - kali. Tak ada yang membukakan pintu selama beberapa menit. Hingga gadis itu memutuskan untuk mengambil ponselnya dan menghubungi sahabatnya itu.
Namun, baru saja dia hendak menekan nomer telepon Brandon, handle pintu flat bergerak dan pintu pun terbuka.
Seorang wanita cantik berambut pendek hitam muncul dari balik pintu. Hanya mengenakan kemeja putih yang terlihat kebesaran di badannya, yang Mia ketahui kemeja itu milik Brandon. Mau tak mau Mia memperhatikan wanita itu dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. Kedua kakinya dibungkus dengan kaos kaki tebal pendek berwarna senada dengan kemejanya.
"Hai, ada yang bisa aku bantu?" tanya wanita itu ramah.
"Emm .. aku mencari Brandon," ujar Mia tergagap.
"And who are you?" tanya wanita itu penuh selidik. Raut mukanya terlihat masam.
"Lamia, Brandon's friend."
"Ouwh, hai, aku Sarah. Brandon sedang tidur. Kau mau masuk?" tanya Sarah, berusaha bersikap ramah.
"Emm .. tidak usah, bukan urusan penting, lain kali saja. Thanks, Sarah."
Mia segera berpamitan dan meninggalkan Sarah yang kemudian hanya mengedikkan bahunya dan menutup kembali pintu flat rapat - rapat.
.
.
Mia berjalan dengan gontai menelusuri trotoar di antara gedung - gedung apartemen tua di Brownsville. Pandangannya lurus dan kosong. Ingin rasanya menyampaikan kegundahannya pada Brandon, agar hatinya sedikit tenang. Namun, kini Brandon telah memiliki kekasih dan tentu saja semua tidak akan sama seperti sebelumnya. Brandon punya kehidupan pribadi yang akan menjadi prioritasnya sekarang. Bukan lagi dirinya. Gadis itu menelan ludah getir. Hatinya terasa kosong.
Harusnya aku senang Brandon sudah memiliki kekasih. Kenapa aku tiba - tiba merasa kesepian.
Mia menghela nafas dalam - dalam. Pandangan matanya beralih pada sebuah toko berpapan nama Jason Liquor Store tak jauh darinya. Setelah berpikir beberapa saat, gadis itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam toko dan tak lama kemudian keluar dengan membawa satu tote bag bertuliskan nama dari toko itu.
.
.
"Hei, Ash."
Mia menyapa Ashley yang tengah bersantai di atas sofa sembari membaca buku. Gadis itu hanya melambai tanpa menoleh pada Mia.
"Ash, mau minum denganku?" Mia menggerak - gerakkan satu botol minuman bertuliskan Bacardi yang baru saja dia keluarkan dari tote bagnya.
"Hmmm .. kurasa tidak, Lamia, Will akan menjemputku sebentar lagi." Ashley memandang ke arah Mia. "Kau baik - baik saja?"
"Yeah, hanya sedikit lelah. Baiklah, mungkin lain kali." Mia terkekeh. Namun hatinya terasa perih. Dia benar - benar membutuhkan teman bicara saat ini. Tapi tidak ingin mengganggu Ashley yang akan pergi berkencan.
Dengan berat hati Mia melangkah menuju ke dapur untuk mengambil gelas. Kemudian masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintunya rapat - rapat.
***
__ADS_1
Well, hello, Brandon 😘