I Am Yours,Mr Chevalier!

I Am Yours,Mr Chevalier!
Part 124


__ADS_3

"Holy S**t!!"


William terpekik ketika menyadari siapa sosok yang tengah berdiri di sana. Lalu menoleh ke arah Mia dan Brandon yang tak kalah terkejutnya.


Sosok itu, Ben Chevalier, membuka penutup kepalanya dan berjalan menghampiri ke empat orang yang masih terbengong - bengong itu.


"Hai," sapanya sembari menarik kursi kosong yang berada tak jauh dari Bryan kemudian mendudukinya.


"Am I dreaming or something?" gumam Will sembari menepuk pipinya. "S**t, I'm drunk."


Ben terkekeh. "Namaku Ben, maaf tiba - tiba datang bergabung," ujarnya seraya melirik ke arah Mia yang masih menatapnya dengan wajah heran.


"That's f**king cool, man." William menjabat tangan Ben dengan erat. Diikuti dengan Bryan. "Aku penggemarmu," ujarnya kemudian.


Ben tertawa kecil. "I hope Lamia won't mind if I join you guys?" Ben memandang ke arah Mia. "Owh, hi, Brandon. You play guitar very well." Ben mengulurkan tangannya pada Brandon. Yang tentu saja terheran - heran namanya terucap dari mulut seorang Ben Chevalier. Mungkinkah Mia telah menceritakan sesuatu tentang dirinya pada frontman Rebellion itu?


Brandon menyambut uluran tangan Ben.


"Lamia," sapanya.


"Hi .. Ben." Mia tergagap.


Seorang pria berjenggot panjang datang membawa satu krat bir dan satu buah pembuka botol, lalu meletakkannya di tengah - tengah mereka.


"Thanks, Mike," ucap Ben pada pria yang dipanggil dengan nama Mike itu. Mike mengangguk dan berpamitan.


William dan Bryan membulatkan mata mereka begitu melihat merk bir yang baru saja tersaji di hadapan mereka. Samuel Adam Limited Edition, yang semua orang tahu harganya jauh di atas harga bir biasa.


"Wow, are you even serious?" ujarnya pada Ben.


Pria itu hanya terbahak. Kemudian mengambil satu persatu botol, lalu dibukanya dan memberikannya masing - masing pada Bryan, William, Brandon dan Mia. Terakhir dia membuka botol bir untuk dirinya sendiri.


"To celebrate your debut performance on big stage and larger crowd." Ben mengangkat botol birnya ke udara, yang tentu saja membuat keempat personel Funeralopolis itu kembali terbengong. Walaupun akhirnya mereka mengikuti gerakan Ben mengangkat botol bir masing - masing dan saling menyentuhkannya.


Malam itu, kedatangan Ben yang mengejutkan sekaligus menggembirakan, terutama bagi William dan Bryan, dimanfaatkan keduanya untuk melakukan semacam wawancara dadakan yang diladeni Ben dengan sabar.


Sementara Brandon dan Mia lebih banyak diam dan hanya sesekali ikut tertawa jika William membuat lelucon - lelucon bodoh yang mengundang tawa mereka.


.

__ADS_1


.


"Lamia, can I talk to you for a minute?"


Ben menggeser duduknya lebih dekat pada Mia yang tengah mengobrol dengan Brandon. Sementara William dan Bryan telah berada di dalam tenda dengan keadaan mabuk. Terdengar dari keduanya yang saling mengoceh tidak jelas dengan bahasa yang sulit dipahami.


"Emm .. okay," jawab Mia gugup.


"Not here," ujar Ben seraya memandang ke arah Brandon yang memasang wajah tidak sukanya.


"But ...."


"Please," pinta Ben seraya berdiri meraih lengan Mia dan menariknya pelan, sehingga gadis itu terpaksa bangkit dari duduknya.


"Hei, Ben .. kau mau apa?." Brandon spontan berdiri dan menarik lengan Mia yang satunya lagi.


"What do you mean by that?" Ben yang keheranan melihat sikap Brandon berusaha menanyakan penjelasan.


"Kau tidak menanyakan pada Lamia apa dia mau ikut denganmu." Suara Brandon mulai meninggi.


"It's okay, Brand." Mia menyentuh lengan Brandon, memberitahukan pada sahabatnya itu kalau dia akan baik - baik saja. "I'll be right back."


Brandon memandang kepergian keduanya dengan tatapan nanar. Mia sempat menoleh ke arahnya dan tersenyum. Dua kursi kosong yang tadinya diduduki oleh William dan Bryan yang kini telah tertidur di dalam tenda, ditendangnya hingga terbalik.


Dengan kasar Brandon merogoh saku jaketnya, mengambil sebatang rokok dari bungkusnya dan menyelipkannya di antara bibirnya.


"Goddammit!" makinya ketika koreknya tak juga menyala. Setelah mencoba beberapa kali, akhirnya api keluar dari benda kecil persegi panjang itu dan menyulut ujung rokoknya.


Brandon menghisap rokoknya dalam - dalam. Lalu dihembuskannya dengan kasar asap tebalnya ke udara.


.


.


Dengan menempelkan satu buah kartu, Ben membuka pintu bus besar bertuliskan nama The Rebellion di badan sampingnya itu.


"Come on in," ujarnya pada Mia yang tak segera mengikutinya masuk ke dalam bus.


Dengan ragu Mia menaiki dua anak tangga di depan pintu masuk dan mengikuti Ben menuju sebuah ruang bersekat yang cukup luas. Ben menyalakan lampunya. Terdapat dua buah sofa yang saling berhadapan dan dipisahkan oleh meja di tengahnya.

__ADS_1


Mia terkagum - kagum dengan seisi bus yang begitu lengkap. Dari kejauhan terlihat dapur yang cukup mewah dan rapi, lalu ada satu lorong yang di samping kanan kirinya terdapat seperti kabin - kabin dengan tirai terbuka.


"Sit down, please."


Mia yang masih menyapu pandangannya ke seluruh ruangan, terkesiap mendengar suara Ben. Dilihatnya pria itu telah duduk di atas sofa. Memberi isyarat padanya untuk segera duduk di sampingnya.


Gadis itu lagi - lagi dengan ragu - ragu mendudukkan diri di samping Ben.


"Kau dan Brandon? Apa kalian ...."


"He's my best friend." Mia menyahut kata - kata Ben yang terputus.


"Tapi sepertinya dia tidak suka kalau kau pergi denganku, Lamia."


Mia menghela nafas pelan. "Kau ingin bicara apa, Ben?"


Ben tersenyum miring mendengar perkataan Mia.


She goes straight to the point, I like it.


Ben membuka jaket dan melemparnya ke sofa satunya. Badannya dibalut kaos putih lengan pendek hingga memperlihatkan tattoo naga dengan ekor memanjang hingga pergelangan tangannya.


Mia tertegun dengan pemandangan yang tersaji di depan matanya itu. Seorang pria tampan, Benjamin Chevalier, frontman band kenamaan Rebellion, dengan gaya rambut pirang panjangnya yang berantakan, dengan mata birunya yang sebiru lautan, dengan senyumnya yang menghipnotis.


Gadis itu tak menyadari jika wajah Ben telah begitu dekat dengan wajahnya. Bibir pria tampan itu pun kini telah menyentuh bibirnya. Mengu*umnya dengan lembut. Mia seperti tersihir dan tak dapat menggerakkan badannya sama sekali. Namun dia merasakan Ben telah merengkuh tubuhnya, memperdalam pagutan bibir padanya.


Your lips, my lips, apocalypse.


Ben menatapnya dengan jarak yang tak lebih dari satu senti saja.


"Be my girl, will you?"


***



Brandon : Lady, would you like some sandwiches?


Me : Ouwh, thank you, Brandon, that's very nice of you😍😘

__ADS_1


__ADS_2