
HAMMERSTAIN BALLROOM,MANHATTAN
Ruangan yang mampu menampung ribuan penonton itu telah penuh sesak. Beruntung Laras dan Catherine datang cukup awal sehingga mendapat tempat di samping depan panggung. Suasana begitu riuh. The Rebellion belum menampakkan diri mereka.
Terdengar suara dentuman drum dan lampu-lampu mulai menyorot ke atas panggung. Benjamin dan kawan-kawannya muncul. Gemuruh terdengar di seluruh ruangan.Dengan jeritan-jeritan para wanita yang histeris di segala penjuru.
Laras memandang Ben tak berkedip. Ya Tuhan lelaki ini, batinnya. Seperti biasa, Ben dengan dadanya yang telanjang memperlihatkan kulitnya yang hampir penuh dengan tattoo.
"New York, what's up!" seru Ben sembari memegangi micnya. Gitarnya masih diselempangkan di belakang punggungnya.
Teriakan terdengar riuh menyambut sapaan Ben. Utamanya dari para wanita.
"Laras .. lihat pacarmu, Gosh .. seksinya!" pekik Catherine di sampingnya sembari berjingkrak-jingkrak. Laras tergelak mendengarnya. Pacar? Yang benar saja!
Seksi? Tentu saja. Laras saja sampai terkesima dibuatnya. Ben, wanita mana yang tidak tergila-gila padamu, seru Laras dalam hati.
Intro gitar duet Marcus dan Ben membuka penampilan pertama The Rebellion. Lagu berjudul Astral Dub diperdengarkan. Vocal harsh Ben yang parau membuat kesan maskulinnya begitu menonjol. Cabikan gitarnya sungguh ugal-ugalan namun tidak lari dari tempo lagunya.
Tepuk tangan dan teriakan penonton berkumandang begitu lagu berakhir. Para wanita memanggil-manggil nama Ben dan disambut dengan lambaian tangan dan senyumannya yang bisa meruntuhkan keimanan wanita manapun.
"Laras .. lihat ke atas, ada Anita Wallis," ujar Catherine sembari menunjuk ke tempat penonton VIP yang berada di lantai dua dan tiga di samping panggung.
Laras mendongak, benar saja, Anita Wallis,aktris hollywood dan juga mantan pacar Ben tengah memberikan standing applause kepada Ben. Sekilas Laras memperhatikan Ben memandang ke arah wanita cantik itu sembari melempar senyumnya. Hati Laras menciut.
"Kau lihat betapa cantiknya dia?" ujar Laras.
Di sela-sela gemuruh penonton.
Catherine merangkul pundak sahabatnya itu.
Melihat perubahan mimik muka Laras yang menjadi murung.
"Mungkin saja dia datang hanya sebagai tamu undangan, lihat, banyak musisi kenamaan di atas sana," hibur Catherine.
__ADS_1
Laras berusaha membuang pikiran-pikiran ngelanturnya dan menepis spekulasi apapun tentang kedatangan Anita Wallis menonton konser The Rebellion.
"Ayo bersenang-senang!" seru Catherine seraya mengajak Laras mengikuti alunan musik cadas yang tengah berkumandang.
Perhatian Laras kembali ke arah Ben, lelaki
itu seperti tenggelam dalam dunianya sendiri.
Bergerak kesana kemari menyayat hati semua orang dengan riff gitarnya. Terduduk, berdiri, melompat-lompat sembari meliuk-liukkan cabikan gitarnya.
"Okay .. this is our new song from our new album, it called The sun kingdom queen."
Suara Ben kembali bergema, lagi-lagi di sambut gemuruh teriakan dan tepuk tangan penonton. Termasuk Laras ikut bertepuk tangan.
Kali ini lagu yang dibawakan terdengar
lebih pelan. Namun suara distorsi gitar begitu berat. Tak hilang secuilpun atmosfir stoner The Rebellion yang kental. Laras seakan terhanyut ke dalam lagunya. Mencoba mendalami kalimat per kalimat dalam liriknya.
Tepat di tengah lagu Ben memainkan melodi dengan sangat rapi. Matanya terpejam,
Lagu berakhir, penonton bertepuk tangan dengan meriah. Teriakan histeris masih terdengar. Laras mendongak ke arah Anita Wallis, kemudian bergantian melihat Ben.
Mereka sedang saling bertatapan mata dan saling menyunggingkan senyum. Laras tidak bodoh. Gadis itu bisa mengartikan tatapan mata Ben terhadap wanita itu.
Laras menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba hatinya merasa sepi. Padahal ruangan itu begitu sesak dan ramai. Entahlah, rasanya dia hanya ingin menjauh dari semuanya.
"Hey, ayo gerakan badanmu!" seru Catherine seraya meraih tangannya dan memaksanya berjingkrakan mengikuti alunan musik yang menghentak-hentak. Rasanya Laras benar-benar tidak bersemangat lagi, Laras ingin pergi dari tempat itu segera.
***
Ben membuka matanya, mengelus sebuah lengan yang melingkar di lehernya. Lalu mencium puncak kepala berambut kecokelatan yang kini tengah terbenam dalam dadanya. Wanita dalam pelukannya itu adalah Anita Wallis, mantan kekasihnya yang semalam tiba-tiba datang menonton konsernya. Ben sungguh terkejut sekaligus senang dengan kedatangannya jauh-jauh dari Los Angeles. Anita adalah wanita yang mengacaukannya. Membuatnya berpetualang dari satu wanita ke wanita lain, mencoba untuk menghilangkan luka hatinya.
Dan di sinilah mereka pagi ini, di kamar tidur Ben setelah semalam saling melampiaskan rindu. Ben bisa memeluk kembali wanita yang pernah sangat dicintainya itu. Yang mungkin masih tersisa rasa cinta jauh di lubuk hatinya.
Anita terbangun karena sentuhan Ben di lengannya. Memicingkan matanya yang silau terkena bias sinar mentari yang menerobos tirai jendela apartemen Ben.
__ADS_1
"Ben," ucap Anita dengan suara paraunya.
Ben tersenyum. Menatap wajah cantik wanita itu dengan tatapan lembut.
"Kau hebat sekali semalam," ujarnya kembali.
"Di atas panggung atau di atas ranjang?" tanya Ben dengan senyum jahilnya.
Anita terbahak. "Dua-duanya," ujarnya seraya bangkit dari ranjang dan melangkah ke arah kamar mandi.
Ben meletakan kedua tangannya di atas kepala. Menunggu Anita menyelesaikan acara mandinya. Lelaki itu termangu. Bertanya-tanya apakah semua ini hanya akibat dari rasa keterkejutannya akan kehadiran Anita saja hingga dia membawa wanita itu ke ranjangnya.
Semua tak sama lagi. Ben senang bisa
berada di dekat Anita namun tidak lagi menggebu-gebu seperti dulu. Seperti ada yang kosong di relung hatinya. Entah darimana datangnya, bayangan wajah manis Laras muncul tanpa permisi. Raut muka gadis itu ketika sedang menggerutu begitu lucu dan menggemaskan. Tiba-tiba rasa rindu berada di samping gadis itu dan menggodanya hingga dia kesal menyeruak dalam dadanya.
"Ben, I gotta go."
Suara Anita membuyarkan lamunan Ben. Dilihatnya wanita itu tengah mengenakan pakaiannya dan merias wajahnya.
"Aku akan mengantar ke hotelmu," sahut Ben. Kemudian segera melangkah masuk ke kamar mandi.
Anita tersenyum, Ben tidak pernah berubah, selalu memperlakukannya dengan baik. Bodoh sekali dulu dia mencampakkannya demi seorang produser film tua yang menjanjikannya sebuah peran penting di hollywood. Menikahi lelaki tua itu namun bercerai setahun kemudian. Ben masih merintis karir The Rebellion pada waktu itu. Sejujurnya Anita masih sangat mencintainya, namun gaya hidup dan ambisinya untuk menjadi aktris ternama di hollywood mengalahkan segalanya. Anita meninggalkan Ben,mengikuti kata hatinya. Andaikan wanita itu bisa bersabar sebentar lagi saja terhadap Ben. Pada kenyataannya The Rebellion membawa Ben menjadi musisi yang terkenal di seluruh Amerika.
Anita kembali menaruh harapan. Atau bahkan keyakinan kalau dia dan Ben akan kembali bersama. Sampai sekarang Ben belum menambatkan hatinya pada seorangpun sedang Anita sendiri sudah sendiri. Wanita itu datang Jauh-jauh dari Los Angeles menghadiri konser album baru The Rebellion membawa misi untuk mendapatkan hati Ben kembali.
Dan di sinilah dia sekarang. Di kamar tidur Ben yang mewah.
***
Catatan penulis:
Lagu yang saya comot :
Astral Dub-Celestial Season (stoner-doom metal band) dari Netherland.
__ADS_1
The Sun Kingdom Queen-Lagu yang saya tulis sendiri tapi belum sempat saya aransemen, mungkin akan masuk materi penggodokan album kedua dari band saya😁