I Am Yours,Mr Chevalier!

I Am Yours,Mr Chevalier!
Part 73


__ADS_3

Pukul dua dini hari. Laras terbaring di atas sofa kesayangannya dengan mata menatap ke layar televisi namun pikirannya sibuk dengan ingatan siang tadi di Boucherie. Anita mengatakan hal-hal yang sedikit mengganggunya. Sedekat apa dia dan Ben dahulu? Hingga wanita itu begitu berat melepaskan Ben.


Ketukan pintu membuatnya terkesiap. Ben? dada Laras berdegup kencang. Diseretnya langkah menuju pintu dan membukanya sedikit untuk mengintip siapa di baliknya.


Hati Laras menghangat begitu melihat sosok berambut pirang yang tengah mengulas senyum manisnya itu. Dipunggungnya tergantung sebuah tas ransel berwarna hitam berukuran sedang.


"Boleh aku masuk?" tanya Ben yang melihat Laras terbengong-bengong.


"Owh .. sure." Laras membuka lebar pintunya dan mempersilahkan Ben masuk.


Ben meletakkan tas ranselnya di atas sofa, lalu menghambur ke arah Laras yang baru saja selesai menutup pintu kembali. Dengan lembut dikecupnya bibir gadis itu. Laras menyambutnya dingin. Masih terganggu dengan pikiran-pikirannya tentang Anita.


"What's wrong, baby?" tanya Ben heran. Lalu membimbing Laras untuk duduk di atas sofa.


Laras hanya diam menatap wajah tampan Ben. Memikirkan kedekatan Ben dan mantan pacarnya di masa lalu membuatnya sedikit merasa kesal.


"Laras, ada apa? Apa ada sesuatu yang salah?"


Laras menggeleng. Lalu tersenyum kecut ke arah Ben.


"Come here." Ben merengkuh kepala Laras dan membenamkannya di dadanya. Gadis itu meringkuk saja di pelukan Ben dengan posisi lutut yang menyatu dengan dadanya.


"Ben?"


"Ya?"


"Apa kau dulu sangat mencintai Anita?" tanya Laras. Gadis itu tahu konsekwensinya. Menanyakan percintaan masa lalu Ben sudah pasti akan membuatnya kesal dan sakit hati.


"Kenapa menanyakan hal itu?"


" Aku hanya ingin bertanya saja."


"Apa aku harus menjawabnya?" tanya Ben.


Laras mengedikkan bahunya. Memejamkan matanya dan bersiap-siap mendengarkan jawaban Ben yang mungkin akan sangat membuatnya, cemburu.


"Bukankah semua itu sudah tidak penting lagi?" ucap Ben.


"Lalu kenapa dia masih mengejar-ngejarmu?" sanggah Laras.


"That's her problem, not mine."


Laras mendengus pelan. Dielusnya dada Ben lembut.


"Jadi kau tidak mau menjawabnya?" tanya Laras. Mendongak ke arah Ben yang tengah terbahak. Gadis itu memberengutkan wajahnya.


"Okay .. kau mau aku jujur, atau berbohong?" tantang Ben. Laras hanya meringis. Lalu menarik tubuhnya dari pelukan Ben dan duduk memberi jarak dengan lelaki itu.


"Ya dulu aku jatuh cinta padanya .. sempat berpikir dia adalah wanita terakhir yang akan hidup bersamaku sampai mati. Aku berpikir seperti itu karena saat itu kami berjuang bersama-sama untuk mencapai kesuksesan masing-masing .. we lived together, we supported each other, we were in love .. but, you know ...." Ben menghentikan kata-katanya, lalu menoleh ke arah Laras. "See? Aku bukan seorang casanova, kalau aku sudah jatuh cinta pada seseorang, aku loyal," kekeh Ben.


"Okay .. bagaimana sekarang? I mean .. your feeling for her."


Ben menggeleng pelan. "Kasihan, mungkin."


"She's georgeous, Ben .. come on, apa kau tidak merasakan apapun walau hanya sekedar mengagumi kecantikannya?"


"Jangan memancingku, Laras." Ben menunjuk wajah Laras, memberi peringatan kepada gadis itu untuk berhenti menginterogasinya tentang mantan pacarnya, yang sudah bisa dipastikan jika Ben salah bicara maka akan memicu adanya konflik. Dasar wanita!

__ADS_1


"Aku hanya ingin tahu saja," gerutu Laras.


"Hey, kenapa kau tiba-tiba menanyakan ini? Apa kau cemburu?" goda Ben.


Laras mendecak. "In your dream!" hardik Laras. Ben tergelak mendengarnya. Kenapa tidak mengaku saja kalau sedang cemburu.


Ponsel Ben bergetar di saku celananya. Ben memeriksanya sekilas, dihelanya nafas pelan.


"Should I pick up the phone?" tanya Ben seraya menunjukan layar ponselnya pada Laras. Nama Anita tertera.


"Terserah saja!" ujar Laras. Raut wajahnya berubah muram.


"Okay, biarkan saja," kata Ben yang melihat perubahan raut muka Laras, seraya meletakkan ponsel ke atas meja.


"Tidak, tidak, angkat saja!" cegah Laras.


"Are you sure?"


Laras mengangguk. Kemudian melipat kedua tangannya di dadanya. Lalu menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.


"Kau tidak pulang malam ini, Ben?" Suara Anita terdengar dari ponsel Ben.


"Yep," jawab Ben pendek. Pandangannya diarahkan kepada Laras, senyumnya mengembang. Gadis itu cemberut, lucu sekali.


"I really need to talk to you."


"Not tonight, I'm busy .. good night, Anita." Ben menutup telponnya. Kemudian meletakkan kembali benda itu di atas meja.


"I have to say to you, Laras .. she means nothing to me now, she's just a friend to me."


"Hmmm." Laras menanggapi dingin.


"Kau mau?" tawar Ben seraya menyodorkan bungkus rokoknya. Laras mengambil sebatang. Ben segera membantu menyalakannya.


"Thanks," ucap Laras.


"Kau mau menawariku sebotol anggur, mungkin?" tanya Ben.


"Owh .. yeah, sure." Laras beranjak dari duduknya dan melangkah menuju dapur. Tak lama dia kembali dengan sebotol anggur merah, dua gelas berkaki panjang dan satu buah pembuka botol.


Ben menyambar pembuka botol itu lalu menancapkan besi keritingnya ke tutup anggurnya, kemudian memutar gagangnya dengan cekatan. Laras terperangah melihat pacarnya itu. Momen serang lelaki tampan membuka botol anggur adalah pemandangan yang sungguh indah dan juga menggemaskan.


"Thanks," ucap Laras ketika Ben selesai menuangkan cairan merah itu ke dalam gelasnya.


"Kau mau ikut aku ke Chicago?" tanya Ben.


Laras berpikir sejenak sembari menghisap rokok yang terselip di antara jari telunjuk dan jari tengahnya.


"Aku mau, tapi sepertinya aku tidak bisa, tugas kuliah dan pekerjaan menumpuk, lagi pula aku tidak mau mengekorimu, apa yang akan orang pikir tentangku nanti."


Ben terkekeh. "Untuk apa peduli dengan omongan orang lain?"


"Karena .. pacarku adalah Benjamin Chevalier." Laras berseloroh, membuat Ben tergelak.


"I'm just an ordinary man," ujar Ben, lalu meneguk gelas anggurnya.


Laras mengubah posisi duduknya. Kini gadis itu menghadap ke arah Ben.

__ADS_1


"Jawab aku," ujar Laras. Gadis itu membasahi tenggorokannya dengan seteguk anggur. Rasa hangat mengalir ke seluruh tubuhnya.


"Apa pertanyaanmu?"


"Kenapa kau suka padaku?"


"Hmm .. I don't like you, Laras." Ben terdiam sejenak. Laras mengerenyitkan dahinya. "But I love you."


Laras mendecak. "Ya, ya .. whatever, but why? Why do you love me? What do you see in me, Ben?"


"Hmmm ...." Ben kembali terdiam. Sepertinya lelaki itu tengah berfikir keras. Dilihatnya Laras tengah memasang wajah seriusnya, menunggu jawaban darinya.


Ben menarik nafas dalam-dalam. "You know, Laras, jika hatimu telah memilih maka kau tidak bisa mengingkarinya?"


"You sound like Catherine," gumam Laras.


"Ohya? See?" Ben tersenyum menang.


Laras meluruskan kakinya ke atas meja. Senyumnya mengembang. Kembali diteguknya gelas anggurnya.


"Owh .. kau bilang Chicago, bukan?" tanya Laras tiba-tiba.


"Yeah?" Ben memiringkan wajahnya.


"Tidak apa-apa." Laras mengurungkan niatnya untuk mengatakan sesuatu. Ben mendecak. Ditaruhnya gelasnya di atas meja. Kemudian mendekat ke arah Laras, menarik tangan gadis itu dan mendekapnya dengan erat. Laras meronta-ronta di sana.


"Say it!" seru Ben tanpa berniat untuk melepaskan Laras.


"Ben, I can't breathe!"


"Say it!" seru Ben kembali. Kali ini sembari menciumi leher Laras hingga gadis itu melonjak karena geli.


"Okay, okay .. Hailey, kau akan bertemu dengannya di sana!" seru Laras sembari membentuk pertahanan dengan kedua tangannya. "Stop it, Ben!" tepis Laras ketika Ben melancarkan serangan berikutnya.


Ben tergelak. Kini memeluk Laras dengan lembut.


"Ya, aku akan bertemu dengannya di sana," jawab Ben. Laras menghela nafas dalam-dalam.


"Hey .. aku tidak menyukai gadis itu. Sungguh!"


Laras menangkup wajahnya dengan kedua tangannya. "Kenapa kau selalu dikelilingi wanita-wanita cantik," gerutu Laras. Oh sial, mulai terbawa suasana. Pasti karena anggurnya.


"Kau yang paling cantik."


"Bulls*it!"


"It's true!"


"I don't believe you."


Ben menatap Laras gemas.


"Don't ever think about it!" Laras menyipitkan matanya ketika melihat wajah jahil Ben dan seketika tahu apa yang ada di kepala lelaki itu.


"No, Ben, put me down .. Ben!" jerit Laras ketika tanpa aba-aba Ben menarik tubuhnya dan menggendongnya di dadanya. Didorongnya pintu kamar pelan dengan kakinya. Kemudian menutup pintu rapat-rapat.


"Dasar brengsek!" sayup-sayup suara makian Laras terdengar, diiringi dengan tawa Ben yang berderai-derai.

__ADS_1


***



__ADS_2