I Am Yours,Mr Chevalier!

I Am Yours,Mr Chevalier!
Part 61


__ADS_3

"Ben, mobilnya sudah siap," ujar seorang lelaki berjenggot panjang melongokkan kepalanya dari pintu kamar. Ben yang tengah memakai kemeja dan jaket panjangnya mengangguk. Menyambar topi musim dingin rajutannya kemudian hendak bergegas keluar kamar. Belum sempat membuka pintu, Anita telah menghadangnya.


"Kau mau menemui gadis itu?" tanya Anita dengan wajah muramnya.


"Emm .. ya," jawab Ben ragu-ragu.


Anita memasang wajah dukanya. Kemudian berjalan menuju tempat tidur, dan terduduk lesu di tepiannya. Wajahnya menunduk, bahunya sedikit terguncang. Sepertinya wanita itu menangis.


Ben menarik rambutnya ke belakang,


menengadahkan wajahnya ke langit-langit,


pertanda lelaki itu tengah kebingungan.


"Anita .. hey ...," panggil Ben seraya mendekati Anita dan berjongkok di depan wanita itu. Menggenggam kedua telapak tangannya lembut.


"Jadi benar kau jatuh cinta pada gadis itu," isaknya. Mata Anita terlihat basah oleh air mata. Hatinya begitu kosong, mantan kekasih yang begitu dirindukannya ini tak bisa diraihnya lagi. "Aku pikir kita berdua masih ada harapan, aku pikir kau masih mencintaiku, ternyata aku yang terlalu berharap," kata Anita, masih dengan isak tangisnya.


"Kemarilah," ucap Ben seraya menarik tubuh Anita ke dalam pelukannya. Lalu mengelus rambut wanita itu lembut.


Anita menenggelamkan wajahnya di pundak Ben, merangkul lehernya dengan erat.


"Maafkan aku," ucap Ben.


Anita menarik wajahnya, menatap mata Ben lekat-lekat, mengelus pipi lelaki itu lembut.


Penyesalan dan rasa ingin memiliki bercampur jadi satu. Wanita itu memikirkan bagaimana caranya melanjutkan hidup tanpa harapan bisa bersama lelaki di hadapannya ini. Lama keduanya terdiam. Ben merasa tidak tega melihat mantan kekasihnya itu.


"Anita .. I gotta go," ujar Ben sembari mengusap air mata yang mengalir di pipi wanita itu.


"Peluk aku sekali lagi," ucap Anita. Ben membawa wanita itu berdiri, lalu memeluknya dengan erat. Anita memejamkan matanya. Menikmati hangat tubuh Ben yang menjalar ke seluruh tubuhnya.


Ben melepaskan pelukannya, mengelus kembali pipi Anita, membenarkan rambutnya yang berantakan, kemudian mengecup pipinya lalu berlalu dari hadapan wanita yang menatap kosong ke depan itu.


***


Ben memarkir mobil sewaannya di halaman sebuah hotel dengan papan nama Scottman In West. Dipakainya topi musim dingin rajutannya dan segera melangkah masuk ke dalam lobby.


Receptionist menyapanya dengan senyum ketika Ben melewati mejanya menuju ke lift yang membawanya ke lantai lima.


Diketuknya pintu bernomor 514 itu pelan.


Beberapa menit kemudian wajah Catherine tersembul. Senyumnya mengembang melihat penampilan Ben yang cukup rapi.

__ADS_1


"Mencari Laras?" tanya Catherine.


"Emm .. yeah," jawab Ben dengan canggungnya.


Laras telah berdiri di belakang Catherine,


bajunya masih sama seperti yang dipakai tadi, terusan lengan pendek warna hitam selutut dengan stoking warna senada yang membalut kakinya.


"Hi, Laras .. aku ingin mengajakmu keluar berjalan-jalan menikmati suasana malam Wichita," ucap Ben sembari melambai kecil ke arah Laras.


"Sekarang?" tanya Laras sembari melirik jam tangannya. Pukul 11.10.


Ben mengangguk dengan mantap. Laras menoleh ke arah Catherine, gadis itu mengangguk memberikan persetujuan.


Laras memeriksa dirinya sekilas. Seakan ingin memberitahu Ben kalau dia harus berganti pakaian terlebih dahulu.


"Kau terlihat cantik, ayo Laras ...." Ben mengulurkan tangannya hendak meraih tangan Laras.


"See you later, Cath," ucap Laras sembari memakai sepatunya yang tergeletak di dekat pintu, lalu menyambut uluran tangan Ben.


Catherine melambai kepada keduanya,


memperhatikan punggung mereka hingga menghilang di balik pintu lift.


***



"Tidak ada yang berjualan bacon roll di sini," gumam Ben sembari duduk di sebuah kursi memanjang di pinggir sungai berair tenang itu. Laras masih berdiri di tepian sungai,


memandang lampu-lampu gemerlap dari gedung-gedung pencakar langit yang ada di sekeliling sungai.


Di tengah-tengah sungai ada sebuah jembatan yang berdiri dengan kokoh. Lampu-lampu taman tampak temaram.


Laras duduk di samping Ben, memberi jarak dirinya dengan lelaki itu sekitar setengah meter.


"It's beautiful here, and fresh," gumam Laras.


"Masih lebih cantik dan segar gadis yang sedang duduk di sampingku ini," sahut Ben.


Laras menaikkan kedua alisnya. "Dasar kau perayu ulung!" gerutu Laras membuat Ben terkekeh.


"Hey Laras .. kau memang menemani temanmu itu mengunjungi saudaranya atau .. kau sengaja ingin mengunjungiku?" tanya Ben tiba-tiba. Membuat Laras terlihat gugup. Gadis itu menelan ludahnya dengan susah payah. Kini tatapan Ben penuh selidik.

__ADS_1


"Ah .. ya, aku menemani Cathy." Laras tak berani menatap Ben, khawatir lelaki itu akan mengetahui kebohongannya. Wajahnya memerah.


"Are you sure?" kejar Ben, senyumannya jahil.


"Yeah .. memangnya untuk apa aku mengunjungimu, aku rasa kau juga tidak kesepian, ada seorang aktris hollywood cantik yang menemanimu di sini," sindir Laras.Ben tergelak mendengarnya.


"Ya kau benar, ada Anita yang menemaniku," ujar Ben datar. Laras terdiam, kemudian mendengus kecil.


"Kalau begitu apa yang kau lakukan di sini bersamaku, bukankah seharusnya malam ini kau bersenang-senang dengannya?"


Ben menoleh ke arah Laras. Wajah gadis itu terlihat tak bersahabat. Lelaki itu kembali terkekeh. Sepertinya Laras menganggap serius gurauannya itu.


"Aku lebih senang menghabiskan waktu luangku dengan seorang gadis penggerutu yang datang jauh-jauh dari New York untuk menemuiku," ujar Ben sembari mengarahkan pandangannya ke depan.


Laras mendengus kesal. "Sudah aku bilang Cathy menyuruhku menemaninya!" seru Laras.


"Baiklah .. baiklah, Nona .. aku percaya." Ben mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Suasana hening kembali.


"Tentang uang yang kau kirimkan, aku rasa itu terlalu banyak untukku, aku ingin mengembalikannya," ujar Laras memecah keheningan.


Ben mendecak. "Ambil saja Laras, .. jumlahnya tidak seberapa."


Laras membulatkan matanya. "Tidak seberapa katamu?"


"Sudahlah, pakai saja semuanya, beli apapun yang kau mau."


Laras menghela nafas panjang. Kemudian senyum jahatnya tersungging. "Baiklah .. aku akan menghabiskannya di Las Vegas .. siapa tahu hasilnya bisa berlipat-lipat, jika aku beruntung." Laras menjentikkan jarinya. Ide brilian.


Ben tertawa terbahak-bahak mendengar gurauan Laras.


"You're funny," ucapnya. Laras meringis.


Pandangan keduanya bertemu. Untuk sesaat dunia seakan berhenti berputar. Keduanya saling tatap tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.Ben memiringkan wajahnya, mendekatkannya ke wajah Laras. Dada gadis itu berdegup kencang.


"It's late ...." ucap Laras tiba-tiba. Ben mengurungkan niatnya untuk mencium bibir gadis itu. Dengan canggung Ben menyibakkan anak rambutnya yang jatuh di dahinya. Laras mengutuki dirinya dalam hati. Kenapa otaknya tidak bisa berpikir normal setiap kali Ben mendekatinya. Seharusnya dia biarkan saja lelaki itu memagut bibirnya. Seharusnya mereka berciuman saja. Seharusnya tidak usah memikirkan apapun.


"Ben," panggil Laras.


"Ya ...." Ben menatap Laras. Sorot matanya sendu. Laras menarik nafas dalam-dalam. Dengan segala keberanian, tanpa memikirkan konsekwensi apa setelahnya, satu detik, dua detik, tiga detik, Laras menarik wajah Ben dan melu**t bibir lelaki itu dengan penuh gairah. Ben terkejut untuk sesaat. Namun dibalasnya ciuman Laras dengan tak kalah panasnya. Gerakan tangannya menarik tubuh Laras ke pelukannya dan melingkarkan kedua lengan gadis itu ke lehernya. Lama bibir keduanya saling berpagut, tanpa ada apapun yang menginterupsi mereka.


Malam itu langit Wichita begitu cerah.


***

__ADS_1


__ADS_2