
Ben keluar dari sebuah toko berpapan nama Cheers Wine And Liquor dengan membawa tas kain besar yang sepertinya berisi dua botol anggur. Tangan kanannya memegang ponsel yang didekatkannya ke telinga, berbicara entah pada siapa di seberang sana.
Senyumnya mengembang ke arah Laras yang masih duduk di jok penumpang mobil sewaannya, yang kedinginan sembari merapatkan jaket Ben yang masih dipakainya.
"Hey, Princess .. maaf lama menunggu," ujarnya ketika telah duduk di belakang kemudi. Ben meletakkan barang belanjaannya di jok belakang dan mulai menghidupkan mesin mobil.
"Kau mau membawaku kabur kemana?" tanya Laras sembari menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.
"Hmmm .. somewhere nice," jawab Ben sembari mengemudikan mobil keluar dari pelataran toko.Menelusuri jalanan pinggiran kota Wichita yang lengang.
Laras memalingkan wajahnya ke arah jendela,
matanya mencoba menembus kegelapan di luar sana. Bibir gadis itu membentuk senyuman kecil. Ah, si menyebalkan ini sungguh berjiwa petualang. Mengingatkannya pada perjalanan dadakan mereka beberapa waktu lalu ke Pennsylvania.
Mobil memasuki daerah suburb dengan rumah-rumah kecil yang berdesain unik. Dengan lampu-lampu taman temaram yang membuat suasana terlihat syahdu.
"Tempat apa ini?" tanya Laras.
"Tempat kita menginap malam ini," jawab Ben dengan senyum miringnya. Lelaki itu memarkir mobilnya di halaman sebuah pondok mungil dengan dua kursi rotan dan satu meja yang ada di terasnya.
"Dari mana kau tahu tempat semacam ini? Kau bukan penduduk Wichita," ujar Laras sembari menyapu pandangannya ke sekeliling pondok.
"Ada untungnya menggaji Jack dengan bayaran tinggi, dia multifungsi," jawab Ben sembari mengambil barang belanjaannya di jok belakang mobil. Kemudian berjalan menuju teras dan duduk di sana. Laras mengedikkan bahunya. Mungkin tadi sewaktu keluar dari toko anggur, Ben menyuruh Jack sang menejer untuk mengatur semua ini. Laras kemudian mengikuti Ben dan duduk di kursi satunya.
"Apa tidak ada manusia di sini selain kita?" tanya Laras yang belum melihat satu orang pun sejak memasuki area itu.
Ben mengangkat bahunya seraya memajukan bibir bawahnya, menunjukan ekpresi tidak tahu. Kemudian membuka pintu pondok. Membawa barang belanjaannya masuk dan memeriksa isi ruangan kecil berkamar satu dan satu ruang tamu yang menyatu dengan dapur.
Ben menghidupkan mesin penghangat kecil berbentuk persegi panjang yang tertempel di dinding kayu itu. Lekaki itu berjalan menuju dapur, mengambil dua gelas berkaki panjang dan satu pembuka botol anggur, kemudian melangkah menuju sofa berwarna merah marun yang empuk.
"Hey, apa kau akan berdiri di situ semalaman?" tanya Ben yang melihat Laras masih mematung di pintu pondok.
Laras hanya meringis. Dibukanya jaket Ben yang masih di pakainya, lalu meletakkannya sembarang. Dress casual selututnya yang menempel di badannya sudah mulai kering.
Ben menyodorkan satu gelas anggur begitu Laras duduk di sebelahnya.
"Apa kau kedinginan?" tanya Ben. Memperhatikan Laras yang tampak gugup. Selalu saja begitu jika berada di dekat lelaki itu.
"Owh .. tidak .. penghangat ruangannya cukup .. hangat," jawab Laras terbata, kemudian meneguk isi gelasnya, mencoba menetralisir perasaan tidak menentunya.
Ben membuka kemejanya lalu menyampirkannya di sebelahnya. Tinggalah Ben yang bertelanjang dada dan hanya memakai celana jeans birunya. Tattoo yang hampir penuh di badannya, kecuali lengan kanan dan perutnya membuatnya tampak .. Laras kehilangan kata-kata untuk menjelaskannya. Dada Laras berdesir melihat pemandangan indah di sampingnya itu. Ben, menghidupkan rokoknya dan menghisapnya dalam-dalam. Rambutnya terlihat berantakan. Sambil mengulum senyum lelaki itu menoleh ke arah Laras. Membuat gadis itu tercekat seketika.
"Laras, kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Ben.
Karena kau terlihat begitu sexy. Laras menutup mulutnya dengan telapak kirinya. Mencegah kalimat itu meluncur bebas dari mulutnya.
"Kau ini kenapa? Sepertinya otak dan tubuhmu tidak sinkron, ya?" Ben tergelak.
__ADS_1
Laras menelan ludahnya, diteguknya kembali isi gelasnya untuk membantunya menguasai keadaan.
"It's a nice cottage," ujar Laras sekenanya. Sembari menyapu pandangannya berkeliling ruangan.
"Do you like it?"
" Uh - huh," Laras mengangguk-angguk.
Ben meneguk gelas anggurnya. Menghisap rokoknya lalu menyandarkan punggungnya ke sofa.
"Bagaimana tourmu sejauh ini?" tanya Laras membuka topik pembicaraan.
"It's okay, a little bit tiring but it's okay. Bagaimana hari-harimu di New York?"
Sepi tanpamu. Laras berdehem sekali.
"Baik-baik saja," ujarnya.
Ben memilin gelasnya sesekali. Kemudian meneguknya.
"Pekerjaanmu di Boucherie bagaimana?" tanya Ben.
"Huh? Boucherie .. ouwh yeah, baik-baik saja,"
jawab Laras yang tengah sibuk dengan pikirannya. Mencoba memikirkan topik-topik pembicaraan yang tidak terlalu kaku.
"Si Perancis itu, apa dia masih sering menggodamu?" Ben terkekeh. Lalu dengan logat Perancis-Amerikanya menirukan kata-kata Stephane yang didengarnya pada waktu menelpon Laras. "A demain, Ma Belle. Pfffh .. ma belle?"
"Kau ini, jahat sekali," ujar Laras seraya mengambil sebatang rokok dari bungkusnya, kemudian menyalakannya." Secara tidak langsung, kau mencandai bahasa nenek moyangmu, bukankah origin keluargamu dari Perancis seperti yang kau ceritakan?"
"Shit .. ya kau benar," sahut Ben sembari terbahak. Laras ikut tertawa. Suasana mulai menghangat. Topik pembicaraan pun mengalir bak sungai yang deras. Malam semakin Larut.
"Hal aneh apa yang pernah terlintas di pikiranmu?" tanya Ben, menuang gelasnya kembali yang telah kosong.
"Hmmm ....," Laras memandang langit-langit. Gadis itu tampak tengah berpikir. "Zombie apocalypse ...."
Ben membulatkan mata birunya. "Imaginasimu liar juga ya?" ujarnya.
"Yeah .. aku membayangkan jika itu terjadi, kapitalis akan runtuh, dan semua kebutuhan pokokmu bisa terpenuhi secara gratis, dengan menjarah supermarket, atau mal, .. kau hanya perlu waspada agar tidak menjadi santapan para zombie. Yeah, mungkin kau bisa bertahan hidup selama beberapa bulan dengan semua bahan makanan itu, sementara kau juga harus belajar untuk memproduksi makananmu sendiri, bercocok tanam misalnya," jelas Laras panjang lebar.
"Tapi banyak orang yang masih bertahan hidup juga akan menjarah tempat-tempat itu, semua bahan makanan tidak akan cukup untuk semua orang," sahut Ben. Menghisap rokoknya dalam-dalam.
"That definitely will happen, jadi kau juga harus mempersiapkan senjata untuk melindungi dirimu."
"Kau bisa membunuh orang untuk bertahan hidup?" tanya Ben.
"Why not?" Laras mengedikkan bahunya. Meneguk gelasnya yang mulai habis. Ben menuangkan kembali anggur ke dalam gelas Laras.
"Kau sendiri, Ben?" tanya Laras. Menjentikkan abu rokoknya ke asbak.
__ADS_1
Ben berpikir sebentar. "Abducted by Alien .. damn .. aku baru saja menemukan judul lagu yang bagus," ujar Ben gembira. Laras terkekeh.
"Musician!" maki Laras. Ben terbahak.
"Aku penasaran dengan alam semesta ini, apa benar kita sendirian? Ada milyaran planet tersebar di seluruh jagad raya, bukan tidak mungkin di luar sana ada makhluk cerdas seperti manusia."
"Kemungkinannya cukup besar, aku yakin banyak planet yang mengandung bahan untuk terciptanya awal sebuah evolusi kehidupan," sahut Laras.
"Exactly ...." ucap Ben. Keduanya terdiam. Ben membuka botol kedua mereka. Lalu menuangkan anggur ke gelasnya dan juga gelas Laras.
"Kau tahu, kita terlihat seperti dua remaja SMA yang sedang mengerjakan tugas ilmiah kelompok," gumam Laras. Ben meringis. Rasa hangat mengalir di seluruh tubuhnya.
"Aku senang berada di dekatmu ...." Ben menoleh ke arah Laras. Kali ini keduanya duduk di lantai sembari menyandarkan punggung ke sofa.
"Kenapa?"
"Entahlah .. kau bukan tipe wanita hollywood, atau gadis-gadis glamour New York, you're natural."
Laras terkekeh mendengarnya." Ya tentu saja aku natural, Ben .. uang gajiku hanya cukup untuk sewa apartemen, makan dan keperluan mendesak lainnya." ujar Laras seraya memijit keningnya, kepalanya sedikit berputar-putar.
"That's not what I mean, Laras .. I mean .. hmm .. Rose benar, kau gadis yang baik."
Laras menaikkan alisnya. Madame Rose membicarakan tentang dirinya pada Ben? Batin Laras.
"Rose bilang aku harus berhubungan serius dengan gadis sepertimu," ujar Ben, Laras yang tengah meneguk anggurnya hampir saja tersedak.
Ben meletakkan gelasnya di atas meja, lalu menghadap ke arah Laras. Jemarinya menaruh anak rambut Laras di belakang telinganya. Gadis itu hanya diam saja, matanya terpejam. Cukup lama mereka saling terdiam diam.
Laras naik ke atas sofa dan membaringkan badannya, menatap langit-langit pondok. Ben kembali meraih gelasnya.
"I'm gonna ask you something, Laras ...."
"Hmmm ...."
"Apa kau menggunakan semacam mantra untuk membuat lelaki bertekuk lutut padamu dan hilang gairah dengan wanita lain?"
"Ha-ha, lucu .. sekali, Ben." Kekeh Laras, namun terdengar seperti lenguhan.
Ben membalikkan tubuhnya yang masih bersandar di bawah sofa. Kini menghadap Laras, digenggamnya jemari gadis itu. Mata Laras setengah tertutup.
"You know what .. I'm gonna tell you this right now ...." Ben menarik nafas dalam-dalam. "Laras .... I love you."
"Okay ...." Lenguh Laras, sepertinya gadis itu mulai terlelap, hingga tidak terlalu mendengar perkataan Ben. "Sorry .. kau bilang apa tadi?" Laras sedikit membuka matanya.
"Never mind," ucap Ben sembari menyelimuti Laras. Gadis itu mengedikkan bahunya lalu memejamkan matanya kembali. Ben memandangi wajah cantik Laras yang bersemu merah. Tertidur dengan damainya.
***
Catatan Penulis :
__ADS_1
Obrolan Ben dan Laras adalah hasil kegabutanku yang sedang buntu tapi tetep pingin update ๐, terinspirasi dari kekonyolanku jika sudah mengangkat gelas anggur bersama dengan seseorang, obrolan jadi ngalor ngidul gak jelas๐. Dari musik, ekonomi, perang dunia ketiga, alien, zombie, dll.