
ELECTRIC GARDEN RECORDING STUDIO, BROOKLYN.
Mia menyelesaikan sesi terakhir pengambilan vokal dengan mulus. Setelah berjam - jam masing - masing personel Funeralopolis merekam satu persatu instrumen mereka. Mulai dari guide, kemudian gitar, bas, drum, biola dan terakhir adalah vokal. Lagu Behind Blue Eyes yang ditulis oleh Mia pun dibungkus.
"Aku kabari kalian setelah mixing dan masteringnya telah selesai." Jason, sang Sound Engineer, berujar.
"Okay, thanks, Jason." Brandon mewakili teman - temannya mengucapkan terimakasih.
"See ya." Keempatnya berpamitan dan meninggalkan studio rekaman dengan design ruangan etnic - futuristic itu. Sebuah perpaduan yang aneh.
.
.
"Cokelat panas, mungkin," tawar Mia pada Brandon, begitu William dan Bryan pamit untuk pulang terlebih dahulu. Mereka masih berada di depan studio. Tak jauh dari mobil Brandon yang terparkir.
"Emm ...." Brandon berpikir sejenak. "Sebenarnya aku ada janji dengan seseorang, tapi akan kuantar kau pulang terlebih dahulu."
"Janji dengan seseorang? Tumben." Mia bergumam.
Brandon hanya meringis sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal. Kemudian berjalan menuju mobilnya. Mia mengikutinya dari belakang.
"Aaah .. seseorang ya, hmmm ...." Mia masih bergumam sembari membuka pintu mobil. Lalu menatap ke arah Brandon yang telah duduk di belakang kemudi.
"Jangan melihatku seperti itu."
Mia terkekeh. "Kau akan berkencan dengan seseorang?" tanya Mia penasaran.
"Well, I can't call it a date, yet."
"Wow, finally."
Brandon tersenyum kecut. Kemudian mulai mengemudikan mobilnya meninggalkan tempat itu. Sepanjang perjalanan keduanya terdiam. Tenggelam dalam pikiran masing - masing. Hingga tanpa sadar mereka telah sampai di depan gedung apartemen Mia di Brownsville.
"Lain kali kita minum cokelat panas seperti biasa," ujar Brandon sembari memandang Mia dengan mata sayu.
Mia terkekeh. "Sure." Mia mengecup pipi Brandon sekilas lalu membuka pintu dan keluar dari mobil.
"Have fun," ucap gadis itu sebelum melenggang masuk ke dalam gedung. Brandon menghela nafas dalam - dalam seraya memandangi kepergian Mia. Mengacak rambutnya pelan lalu mengemudikan mobilnya meninggalkan tempat itu.
***
STUDIO THE REBELLION, TIME WARNER CENTER MANHATTAN.
Setelah melalui sederetan prosedur seperti melapor kepada keamanan, pemeriksaan sidik jari, konfirmasi kunjungannya pada Ben Chevalier, Mia berdiri di depan pintu flat bertuliskan nomor 1115 berwarna cokelat tua itu.
Mia, kau bisa datang ke studio kami besok jam 10 pagi? Alamatnya di Time Warner Center, Manhattan.
Begitu isi pesan Ben semalam yang membuat tidurnya terasa tidak nyenyak. Perasaan senang dan gugup bercampur menjadi satu.
Ditekannya bel beberapa kali. Mia membenarkan posisi tas biola yang digendongnya dan menarik nafas dalam - dalam. Mencoba untuk bersikap senormal mungkin.
Beberapa menit menunggu, pintu dibuka dan seorang wanita setengah baya berbadan sedikit tambun yang tak lain adalah Marry, sang asisten rumah, tersenyum dengan ramah ke arahnya.
"Apa kau Mia?"
__ADS_1
"Emm .. iya." Mia mengangguk.
"Hai, aku Marry." Wanita itu menjabat erat tangan Mia. "Silahkan, Ben dan yang lain sudah menunggumu."
Marry mempersilahkan gadis itu masuk. Mia memutar pandangan ke seluruh ruangan. Kagum. Sangat mewah untuk sebuah studio musik. Designnya minimalis namun elegan. Beberapa langkah darinya ada sebuah ruangan berdinding kaca yang di dalamnya sudah berkumpul para personel The Rebellion. Ben terlihat sibuk dengan gitarnya. Pria itu bertelanjang dada, memperlihatkan tattoo bergambar salib terlilit ular di punggungnya. Mata Mia tak berkedip melihatnya.
"Kau bisa langsung masuk ke sana."
Mia terkesiap mendengar suara Marry. Wanita itu menunjuk ke arah pintu yang juga terbuat dari kaca.
"Kalau kau butuh sesuatu, panggil aku."
"Thanks."
Mia menarik nafas dalam - dalam. Langkahnya pelan menuju ruangan kaca yang sepertinya adalah cermin dua arah. Karena Ben dan yang lainnya tidak melihat kehadirannya. Gadis itu mengetuk pintu perlahan.
Mia melihat Marcus berjalan ke arah pintu dan membukanya. Wajahnya berbinar ketika melihat Mia berdiri di depan pintu.
"Hey, sweety, come on in." Marcus menyambar tangan Mia seketika membuat gadis itu tak sempat menghindar.
"Lihat siapa yang datang!" Marcus berseru.
Ben tersenyum melihat Mia yang kikuk digandeng oleh Marcus. "Hi, Mia." sapanya.
Mia melambai kecil pada Ben, Greg dan Liam. Lalu menurunkan biola dari gendongannya.
"Kau sudah mempelajari lagu yang aku kirim?" tanya Ben. Beberapa hari yang lalu Mia menerima mentahan rekaman lagu yang yang dikirim Ben melalui email. Icarus With You, judul lagunya.
"Iya, aku sudah mempelajarinya."
"Siapkan biolamu dulu," ujar Ben.
"Ah, ya." Mia mengambil biola yang beberapa saat lalu diletakannya di lantai tak jauh dari mereka duduk.
"Kau bebas menentukan nada biolamu, aku tidak akan memberi pengarahan padamu. Emmm .. gunakan saja perasaan dan juga imaginasimu." Ben menerangkan layaknya seorang guru pada muridnya.
Namun lukisan elang di dada Ben mengalihkan perhatian Mia. Gadis itu menelan ludahnya dengan susah payah.
"Yang jelas, biolamu akan dominan di lagu ini, di intro, di sela - sela vokal, melody hingga di akhir lagu." Ben melanjutkan.
"O - okay." Mia tergagap.
Ben mengenjreng gitarnya memulai intro. "Begitu gitar masuk, biola juga masuk. Ayo kita coba."
Mia mengangguk. Lalu mengikuti gitar Ben dengan gesekan biolanya. Nada yang secara tiba - tiba muncul di kepalanya, begitu mendengar intro yang dibuat oleh pria itu.
And now I fly closer
In night is going on for closer
And million miles ahead and I keep falling, all over
The day slides like an orange glow in hell
But I can't tell
__ADS_1
And you're near now, I want this, near me in my life
But we can't take this for answers and tomorrow
***
"Bagaimana pendapatmu tentang Mia?" Ben menoleh ke arah Greg, menghisap rokoknya dalam - dalam kemudian menghembuskan asapnya ke udara. Kakinya diselonjorkan ke atas meja. Tangan kirinya memegang sebotol bir yang masih terisi penuh.
"Manis," sahut Greg.
"Bukan. Bukan itu maksudku. Permainan biolanya, cukup bagus atau tidak." Ben mendecak.
Greg terkekeh. "She's brilliant. Very talented and ...."
Pria itu menghisap rokoknya sesaat. "She's sweet."
"Kau seperti Marcus saja," gerutu Ben. Menendang sekilas kaki Greg yang juga berada di atas meja.
"Apa kau tidak merasa Mia itu sangat manis?" tanya Greg tiba - tiba.
"Well, maybe .. aku tidak terlalu memperhatikan."
"Tidak terlalu atau tidak mau?"
"Kau ini bicara apa?" Ben menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Kembali menghisap batang rokoknya dalam - dalam. Memandang langit - langit dengan tatapan kosong.
"O come on, Ben .. you know what I'm talking about."
Ben menggeleng pelan. "Okay, I gotta be honest, she reminds me of Laras, a little bit."
Greg tersenyum simpul. Diperhatikannya ada perubahan pada air muka Ben ketika mengucapkan kata - katanya barusan. Entahlah, antara senang dan gelisah.
"Jangan melihatku seperti itu, breng sek!" maki Ben yang jengah diperhatikan sedemikian rupa oleh sahabatnya itu.
"Kau tidak ingin membuka hatimu kembali?"
"Tidak akan pernah!"
"Tapi kau terlihat menyedihkan, Ben." Greg tergelak.
"Pergi kau!"
"Ayolah, Ben .. Mia gadis yang tepat untukmu."
"Whatever."
***
Selipin foto - fotonya Brandon Boyd ah.
__ADS_1