
"Kau siap melanjutkan perjalanan?" tanya Ben begitu Laras masuk ke dalam mobil dan duduk dengan manis. Gadis itu mengangguk.
Ben mulai mengemudikan mobilnya meninggalkan halaman motel.
Ben melirik wajah Laras yang tampak segar pagi ini. Dengan make up ala kadarnya yang dia bawa di tasnya, gadis itu terlihat cantik. Baju terusan berwarna putih sepanjang lutut yang dibelinya kemarin di shopping center dipadukan dengan sweater berlengan panjang dan sepatu boot setinggi tiga centi dari mata kakinya yang telah dipakainya dari New York.
"Kulitmu termasuk putih untuk gadis dari Asia Tenggara," ujar Ben memecah keheningan.
Laras terkekeh mendengarnya.
"Apa kau berharap kulitku lebih exotic?" goda Laras.
"Oh no, no, no .. I like you like that!"
Laras membulatkan matanya.
"Seriously .. you look so damn good," puji Ben membuat dada Laras berdebar. Namun gadis itu berusaha mengkamuflasekannya dengan tawa.
"Casanova," gumam Laras.
"Hey .. stop calling me that!" gerutu Ben seraya meraih kepala Laras, dan mengacak rambutnya dengan tangan kanannya.
"Ben .. kau merusak rambutku." Laras menarik kepalanya dan merapikan kembali rambutnya yang berantakan.
"Stop calling me Casanova or ...." Ben tidak melanjutkan kata-katanya. Lelaki itu berpikir sejenak.
"Or what?" tantang Laras.
"Atau aku akan memperkosamu sekarang juga!"
Laras terdiam. Ditatapnya Ben lekat-lekat. Wajah lelaki itu tampak sangat serius. Nyali Laras menciut.
Beberapa detik kemudian Ben tertawa terbahak-bahak.
"Lihat wajah ketakutanmu itu, lucu sekali," ujar Ben seraya menunjuk muka Laras yang memucat.
"Darn you, Ben!" hardik Laras seraya memukul bahu Ben sedikit keras hingga lelaki itu meringis kesakitan. Namun sejurus kemudian kembali tertawa.
__ADS_1
"It's not funny!" gerutu Laras kesal.
"Apa tampangku seperti seorang pemerkosa?" tanya Ben di sela-sela tawanya.
"Sedikit," ujar Laras masih dengan nada kesalnya.
"Owh," gumam Ben.
Kini giliran Laras yang terkekeh melihat reaksi Ben.
"Kau tidak perlu menjadi seorang pemerkosa karena semua wanita pasti akan mengantri untuk tidur denganmu," ujar Laras.
"Ada satu wanita yang tidak tertarik untuk tidur denganku." Ben menyunggingkan senyum miringnya, menyindir Laras.
Laras tahu arah pembicaraan Ben, namun gadis itu pura-pura bodoh.
"Benarkah? siapa wanita bodoh itu?" tanya Laras dengan wajah polos yang dibuat-buatnya.
"Dia tidak bodoh, hanya saja isi kepalanya penuh dengan ketakutan-ketakutan akan hal-hal yang mungkin saja tidak akan pernah terjadi." Dada Laras berdegup kencang. Gadis itu terdiam. Ben melirik Laras sekilas. Sepertinya dia telah menskakmat gadis itu.
Ben menepikan mobilnya dan memarkirnya di sebuah jalan setapak menuju padang rumput itu.
"Wow .. ini akan menyenangkan, perkumpulan hippies," ujar Ben. "Let's join them!" serunya kemudian.
"Are you sure?" tanya Laras.
"Come on Laras."
Ben turun dari mobilnya. Laras terpaksa mengikutinya.
***
Beberapa lelaki dan perempuan berpakaian gaya tahun 70an lengkap dengan rompi dan celana denim bel mereka tengah berkumpul di samping sebuah tenda kerucut yang cukup besar. Rokok dan botol-botol bir melengkapi perbincangan hangat mereka.
"Holly shit, am I dreaming?" pekik salah satu lelaki dengan jenggot tebal ketika melihat kedatangan Ben dan Laras. Sementara Ben nampak sedikit kaget ternyata ada saja yang mengenali siapa dia. Padahal sebelumnya Ben berharap para hippies ini tidak mengenalinya.
__ADS_1
Seketika semua orang yang tengah duduk melingkar itu menoleh ke arah Ben dan Laras.
Mereka pun tak kalah kagetnya. Beberapa wanita menutup mulutnya histeris.
"Benjamin Chevalier!" pekik mereka.
Ben menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Sementara Laras terkekeh di sampingnya.
"Hello guys, boleh kami mampir dan bergabung? Aku dan emh ...." Ben menoleh ke arah Laras. "Pacarku sedang melakukan road trip dan kebetulan kami melihat kalian di sini." kata Ben seraya duduk bersila di antara orang-orang itu. Ben menarik tangan Laras dan menyuruhnya duduk di sampingnya.
Laras terkesiap mendengar kata pacar yang diucapkan Ben. Dadanya bergemuruh.
"Wow tentu saja Ben, tentu saja," jawab lelaki berjenggot tadi masih tidak percaya.
"Thanks .. owh by the way this is Laras." Ben memperkenalkan Laras kepada mereka.
Laras tersenyum sembari menggerak-gerakkan telapak tangannya ke kiri dan ke kanan.
"Hi Laras, I'm David .. what a lucky girl you are," puji lelaki bernama David itu.
Laras menaikkan alisnya dan hendak menjawab sesuatu. Namun dengan cepat tangan Ben meraih tubuhnya dan mendekapnya sekilas.
"Aku yang beruntung," ujar Ben.
"Aww .. kalian manis sekali," puji salah seorang wanita berambut panjang dan memakai sunglasses ala 70an. Ben tersenyum ke arah wanita itu.
"Hey kalian mau bir?" tawar David seraya menyodorkan dua botol bir beserta pembuka botolnya.
"Owh sure!" kata Ben seraya mengambil botol bir dari tangan David. Membuka tutup botolnya dan memberikan salah satunya pada Laras.
"Ini seperti mimpi saja rasanya, Ben .. aku suka sekali dengan The Rebellion, lagu-lagu kalian adalah anthem untuk para penikmat space cookies," David tergelak. Ben tak dapat menahan tawanya mendengar kata-kata David.
Pembicaraan pun mengalir hangat. Ben tampak antusias berada di antara orang-orang ini. Laras memperhatikan Ben sesekali dan tersenyum. Lelaki ini begitu rendah hati, batinnya. Sama sekali tidak menunjukan bahwa dia adalah seorang rockstar yang terkenal.
Laras tidak bisa fokus dengan obrolan Ben dengan orang-orang itu. Gadis itu hanya memperhatikan bahasa tubuh Ben ketika sedang berbicara, tertawa, tersenyum, caranya menghisap rokok dan meminum birnya, lalu mendengarkan lawan bicaranya dengan antusias, semuanya membuat Laras semakin terpesona. Entah karena perasaannya saja atau memang wajah Ben tampak berseri-seri.
***
__ADS_1