I Am Yours,Mr Chevalier!

I Am Yours,Mr Chevalier!
Part 76


__ADS_3

"Bangun brengsek!"


Seruan itu membuat Ben membuka matanya dengan terpaksa. Dengan kesadaran yang belum sepenuhnya kembali dilihatnya Greg berdiri di samping tempat tidurnya.


"Lihat!" seru Greg kembali sembari menunjuk ke samping Ben. Lelaki bermata biru itu terkejut bukan main. Hailey tengah berbaring telungkup di sampingnya.


"What the f**k!" umpat Ben seketika. Lelaki itu berusaha mengingat-ingat kejadian semalam.


Ben minum-minum dan mengacuhkan Hailey yang terus saja menempel padanya. Lalu gadis itu tiba-tiba mengajaknya berdansa, kemudian ... oh tidak! Ben memijit kepalanya yang mulai berputar.


"F*ck!!" teriaknya, membuat Hailey yang masih terlelap pun terbangun dan terheran-heran melihat keberadaan Greg di kamar itu. Ben menatap sinis ke arah Hailey kemudian menyambar jaketnya dan keluar membanting pintu.


"Ada apa ini?" tanya Hailey.


"Apa yang kalian lakukan semalam?" tanya Greg penuh selidik, memperhatikan Hailey yang masih berpakaian lengkap.


"Nothing," jawab Hailey.


"Kau memang tidak tahu malu ya!" maki Greg seraya menuding wajah Hailey geram. Kemudian berlalu dari hadapan gadis itu.


***


TUDOR CITY, MANHATTAN.


Ben menekan-nekan tombol lift yang tak kunjung terbuka. Lelaki itu berjalan mondar-mandir sembari mengacak rambutnya sembarang. Begitu pintu lift terbuka segera saja dia masuk dan menekan angka 11 di dekat pintu lift.


Ben melangkah tergesa-gesa menelusuri lorong apartemen dan menuju ke pintu bernomor 659. Dibunyikannya bel pintu berkali-kali dengan tidak sabar.


"Geez, Ben .. kau menekan bel seperti orang gila!" hardik Laras ketika pintu terbuka.


"Kemasi barangmu, ayo pergi!" seru Ben seraya menerobos masuk ke dalam apartemen Laras.


"What?" Laras membulatkan matanya. "Wait, what is this?"

__ADS_1


"Cepatlah Laras, turuti saja perkataanku!"


"Hei, tidak bisa begitu, Ben .. kau tahu aku harus berangkat kerja sebentar lagi?"


"Kau tidak perlu mengkhawatirkan itu, lagi pula kau tidak membutuhkan pekerjaanmu lagi."


Laras mendecak. "Kita sudah pernah membahasnya, Ben."


Ben mengacak rambutnya frustasi. "Please, baby." pintanya.


Laras menatap Ben lekat-lekat. Menyelidiki sikap Ben yang terlihat aneh dan seperti menyembunyikan sesuatu.


"Apa ada sesuatu yang ingin kau ceritakan padaku?" Laras menaikkan alisnya.


"Tidak sekarang, ayo Laras, cepatlah, please!"


"Bossy banget sih!" gerutu Laras dengan bahasa Indonesianya seraya melangkah ke dalam kamarnya.


Tak lama kemudian gadis itu keluar dengan membawa tas ranselnya, dan telah mengganti pakaiannya dengan sweater panjang tebal, celana legging hitam dan boot panjangnya. Rambutnya diikat sembarang. Ben terpana dengan penampilan Laras yang begitu manis.


"Kau mau mengajakku kemana?" tanya Laras sembari memasang syalnya.


"Airport, come, we gotta catch a flight!" Ben meraih tangan Laras dan menggandengnya keluar dari ruangan itu kemudian mengunci pintunya.


"Flight? Where?" Laras tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.


"You'll know."


Laras mendecak. Menculikku lagi!


***


"Portland?" tanya Laras setelah mengetahui kemana Ben akan membawanya. Keduanya tengah berjalan menelusuri jembatan penghubung antara ruang tunggu penumpang dan pintu pesawat.

__ADS_1


Cengiran jahil Ben terbit dari wajahnya yang imut itu.


"Mau pulang kampung?" gumam Laras dengan bahasa Indonesianya.


"Huh?" tanya Ben bingung.


Laras hanya menyengir. Keduanya kini telah duduk di kursi mereka di kelas bisnis.


"Kau bilang kau ingin menceritakan sesuatu padaku?" tagih Laras. Ben terkesiap, kemudian menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.


"Emmm ...."


"Mr. Chevalier, bisa berfoto sebentar?"


Dua orang pramugari cantik menghampiri Ben dan meminta berfoto selfie. Membuat Ben urung melanjutkan kata-katanya.


"Sure," sahut Ben ramah. Laras menghela nafas pelan. Ada-ada saja!


"Thanks Mr. Chevalier, is there anything we can do for you?" tanya salah seorang pramugari.


"Ow no, thanks."


Kedua pramugari itu kemudian berpamitan untuk melanjutkan tugasnya. Ben menoleh ke arah Laras yang memandangnya dengan muka sebal. Senyumnya mengembang.


"Kau marah?" goda Ben.


"Hih .. ge'er banget sih!" gerutu Laras, yang langsung membuat Ben mengerenyitkan dahinya.


"Speak english, please."


"Bodo amat!"


Ben menggeleng. "Aku ceritakan nanti setibanya di Portland, okay?"

__ADS_1


Laras mengedikkan bahunya. Kemudian menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Matanya terpejam. Kursi kelas bisnis yang nyaman membuat rasa kantuknya menjalar tiba-tiba. Ben menyelimuti tubuh Laras dengan selimut tebal yang telah disediakan. Diciumnya puncak kepala Laras dengan lembut. Lalu digenggamnya tangan gadis itu dengan erat.


Tak lama awak kabin mengumumkan kalau pesawat akan segera lepas landas. Beberapa menit kemudian burung besi American Airlines itu membelah langit New York menuju ke Portland, Oregon.


__ADS_2