I Am Yours,Mr Chevalier!

I Am Yours,Mr Chevalier!
Part 86


__ADS_3

GLASTONBURY, SOMERSET, UNITED KINGDOM.



Ben meletakkan gitarnya di stand gitar yang tersedia di sebelah drum. Hari itu Rebellion baru menyelesaikan rehearsal mereka di rumah sewaan mereka di Glastonbury. Sebuah rumah besar yang terletak tak jauh dari venue di mana mereka akan tampil malam ini.


"Where's Jack?" tanya Ben pada Marry yang tengah sibuk di dapur membuat minuman segar.


"Sedang merokok di belakang rumah sepertinya," jawab Marry.


Ben segera melangkahkan kakinya keluar melalui pintu belakang dan mendapati Jack yang tengah bersantai di kursi panjang yang merapat ke dinding rumah.


"Aku ingin bicara denganmu." Ben duduk di samping Jack. Menyambar satu batang rokok lalu dinyalakannya.


"Hmmm?" Jack sang menejer memajukan dagunya.


Ben menghisap rokoknya dengan seksama.


"Aku mau terbang ke New York setelah show nanti malam. Aku akan kembali kesini keesokan harinya, is it possible?"


Jack membulatkan matanya. "What for?"


Ben hanya tersenyum sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.


"Aaaaah ...." Jack menggerak-gerakkan jari telunjuknya ke arah Ben sembari menggodanya.


"So?" cecar Ben.


"Ada break dua hari sebelum kita ke Dublin, mungkin kau bisa memanfaatkan itu." Jack menaikkan sebelah alisnya.


Ben tersenyum sumringah. "Great!" ujarnya senang.


Jack menggeleng. "Harus tepat waktu, Ben."


"I promise," sahut Ben. Jack menepuk-nepuk pundak Ben pelan. Ben tersenyum, mencecak rokoknya di asbak, lalu beranjak dari duduknya dan masuk kembali ke dalam rumah.


***


JOHN F. KENNEDY AIRPORT, NEW YORK CITY.


"Mr. Chevalier, kau mau aku mengantarmu langsung ke Big Apple?" tanya Pablo kepada Ben, yang baru saja masuk ke dalam mobil.


"Antar aku ke Tudor City, Pablo." jawab Ben.


Lelaki paruh baya itu mengangguk. Kemudian mengemudikan mobil keluar dari pelataran bandara. Ben termangu melihat keluar jendela. Dadanya berdegup dengan kencang.


Pemandangan indah sepanjang jalan menuju Manhattan pagi itu tak mampu mengusir rasa gugupnya. Rasa rindu begitu menggebu terhadap Laras setelah kurang lebih dua minggu terpisah jarak dan waktu.


Membayangkan wajah kaget Laras sebentar lagi membuat Ben menyunggingkan senyum tipisnya. Gadis itu tidak akan menyangka Ben akan memberinya kejutan besar pagi ini.

__ADS_1


"Mr. Chevalier, kau mau aku menunggumu?" tanya Pablo setelah memarkirkan mobil di depan gedung apartemen Laras.


"Tidak usah, Pablo .. aku akan menghubungimu lagi nanti." Ben membuka pintu mobil dan berjalan masuk ke arah gedung.


Dipencetnya bel beberapa kali begitu sampai di depan pintu bernomor 659 itu. Beberapa menit kemudian pintu dibuka dari dalam. Wajah kusut khas banngun tidur Laras menyembul dari balik pintu. Gadis itu terlonjak kaget dan menutup mulutnya yang terbuka dengan kedua telapak tangannya.


"Ben? H-how?" pekiknya. Tanpa menjawab Ben segera merengkuh kekasihnya itu serta memeluk dan menciuminya dengan gemas.


"Ben? I don't understand," ujar Laras ketika Ben melepaskan pelukannya. "Bagaimana bisa kau ada di sini? Bukankah tourmu masih dua minggu lagi?"


Ben tersenyum. "Happy birthday, baby," ucap Ben seraya mengelus pipi Laras lembut. Gadis itu terkesiap, lalu menepuk jidatnya pelan. Ya tentu saja, hari ini tanggal 15 juli, hari ulang tahunnya. Laras tertawa pelan.


"Owwh .. I don't even remember, thank you, Ben," ujar Laras terharu.


Ben berlutut di hadapan Laras, mencium tangan gadis itu, kemudian merogoh sesuatu dari kantong jaketnya. Sebuah kotak kecil beludru berwarna merah. Ben membukanya dan menyodorkan ke arah Laras. Sebuah cincin manis berhiaskan permata biru.


"Will you marry me?" ucap Ben, membuat Laras membulatkan matanya seketika, gadis itu tidak menduganya sama sekali. Wajahnya terlihat kebingungan. Ini terlalu cepat.


Ben masih berlutut dan menyodorkan kotak berisi cincinnya, menunggu jawaban Laras yang tak kunjung meluncur dari mulut gadis itu.


"Ben .. ini terlalu cepat buatku, maafkan aku, tapi aku .. harus memikirkan matang-matang terlebih dahulu."


Jawaban Laras membuat hati Ben mencelos. Dia tidak menduga Laras akan memberikan jawaban seperti itu. Senyumnya yang sedari tadi mengembang kini hilang. Ben bangkit dari berlututnya dan memegang bahu Laras pelan.


"I understand," ujarnya dengan penuh kekecewaan. Dia tidak mengerti jalan pikiran gadis ini. Bukankah mereka saling mencintai? Apa yang Laras takutkan?


"It's okay ...." Ben berusaha mengontrol perasaannya. Memandang Laras dan memaksakan senyumnya.


Ben memasukkan kembali kotak beludru merah itu ke sakunya, lalu mengambil sesuatu lain dari saku satunya.


Sebuah kertas putih yang terlipat dan dihiasi oleh pita merah. Ben meletakkannya di atas meja, menepuknya beberapa kali, kemudian kembali menatap Laras.


"I gotta go, Laras."


"Ben .. apa kau marah? Aku minta maaf, aku butuh waktu." Laras meraih tangan Ben yang hendak meninggalkan ruangan itu.


Ben hanya menggeleng. "It's okay, aku juga butuh waktu untuk mencerna semua ini," ujarnya seraya melepaskan tangan Laras pelan.


"Ben ...."


Ben mengelus pipi Laras sekilas, lalu membuka pintu dan berlalu.


Laras berdiri mematung untuk beberapa saat. Perasaannya kini tercampur-aduk. Dipegangnya kepala dengan kedua tangannya. Kemudian berjalan mondar-mandir kesana kemari.


Matanya tertuju pada kertas yang Ben letakkan di atas meja. Disambarnya kertas itu lalu segera diperiksanya. Sebuah print tiket pesawat atas nama Tunggadewi Larasati Soetodjo dan Benjamin Leander Chevalier. Tanggal 1 agustus tertera di sana. Ke Jakarta!


Laras jatuh terduduk di atas sofanya. Ben memberi kejutan di hari ulang tahunnya. Dua kejutan sekaligus. Laras menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Gosh, Ben," gumamnya lirih.

__ADS_1


Laras meraih ponselnya dan segera menghubungi Ben, namun hanya masuk ke kotak suara. Satu kali, dua kali, dan berulang-ulang kali Laras mencoba menghubungi ponsel Ben namun tetap sama. Ponselnya tidak aktif. Laras menggigit-gigit kukunya dengan gelisah. Kembali berjalan mondar-mandir kebingungan.


Satu jam kemudian Laras kembali menghubungi Ben, namun tetap nihil. Ponsel Ben masih tidak aktif. Laras mengacak rambutnya. Laras tak menyangka Ben akan semarah ini, atau kecewa, entahlah. Gadis itu mengutuki diri sendiri.


Diambilnya satu botol anggur dan ditenggaknya langsung tanpa gelas. Terduduk lesu kembali di sofanya, sembari sesekali melirik ke arah ponselnya. Berharap ada telpon atau pesan apapun dari Ben. Namun senyap.


***


Laras membuka matanya, hari telah siang. Rupanya dia tertidur di sofa. Satu botol anggur yang telah kosong tergeletak di lantai.


Gadis itu meraih ponselnya, tak ada apa-apa di sana. Lalu mencoba menghubungi Ben kembali. Namun hasilnya masih sama seperti beberapa jam yang lalu.


Aku harus menemuinya di Big Apple.


Laras segera beranjak dari tidurnya dan mengganti celana pendeknya dengan celana jean panjang tanpa mengganti t-shirtnya. Dipakainya sepatu flatnya lalu memesan ubber taxi.


***


"Big Apple, Nona?" tanya sopir taksi begitu Laras duduk di kursi penumpang.


"Yes, please," jawab Laras.


Taksi pun melaju meninggalkan Tudor City dan bergerak ke arah area Big Apple yang berjarak hanya sekitar dua puluh menit.


"Thanks," ujar Laras setelah taksi berhenti di depan gedung mewah apartemen Big Apple.


Laras masuk ke dalam lobby dan menemui receptionist. Setelah menunjukkan kartu akses masuk yang diberikan Ben padanya beberapa waktu yang lalu, Laras segera menuju lift private yang khusus hanya digunakan untuk akses ke unit apartemen milik Ben di lantai 50.


Laras memencet bel beberapa kali. Sebenarnya dengan kartu aksesnya, Laras bisa saja langsung masuk, namun dia tidak ingin membuat Rosita, sang asisten rumah merasa terkejut.


Beberapa saat kemudian pintu terbuka, Rosita muncul dari balik pintu.


"Nona Soetodjo?" sapa Rosita. Melihat wajah Laras yang sedikit kacau, wanita itu mengerenyitkan dahinya.


"Hi, Rosita .. emmh .. aku ingin bertemu dengan Mr. Chevalier."


"Mr. Chevalier sudah berangkat ke Dublin beberapa jam yang lalu, dia hanya kemari sebentar mengambil beberapa barang."


Jawaban Rosita membuat dadanya tiba-tiba terasa perih. Dipejamkannya kedua matanya sesaat, menarik nafas dalam-dalam. Laras mencoba menopang tubuhnya yang sedikit lemas dengan memegang dinding.


"Nona Soetodjo, kau baik-baik saja?" tanya Rosita.


"Ah, ya .. aku-baik-baik saja, terimakasih, Rosita." Laras tergagap, kemudian dengan langkah gontai Laras berbalik dan berjalan menjauh.


Laras terduduk lesu di lift, air matanya pun tumpah. Gadis itu menelungkupkan wajahnya dengan tangan memeluk lututnya dengan erat.


I'm sorry, Ben.


***

__ADS_1


__ADS_2