I Am Yours,Mr Chevalier!

I Am Yours,Mr Chevalier!
Part 47


__ADS_3

Can I call you?


Lanjutan pesan dari Ben. Laras masih saja senyum-senyum sendiri membacanya, dan belum berniat untuk membalasnya.


Panggilan masuk dari Ben akhirnya tertera di layar ponselnya. Laras menunggu beberapa detik untuk mengangkatnya.


"Hi, Ben," sapa Laras begitu dia menggeser tombol bergambar telepon ke samping kanan.


"Hey, apa mantan pacarmu sudah pergi? Apa dia mengganggumu? Kau baik-baik saja bukan?" Ben mencecar Laras dengan berbagai pertanyaan. Membuat gadis itu terkikik pelan. Senyumnya tak lepas dari bibirnya.


"Aku baik-baik saja, Ben .. memangnya apa yang bisa terjadi," ujar Laras.


"Siapa tahu dia berniat jahat padamu."


"Dia tidak melakukan apa-apa."


"Jadi, apa yang dia inginkan?"


"Kenapa kau mau tahu?"


"Tell me, Laras."


Suara Ben terdengar memelas. Ada apa dengannya? batin Laras heran.


"Dia ingin kembali."


Terdengar Ben menghela nafas beberapa kali.


"Kau mau?"


Laras tergelak. "Jadi kau menelponku hanya untuk menanyakan itu semua?"


"I don't know, perasaanku tidak enak ketika melihat mantan pacarmu tadi."


"Kenapa begitu?"


Ben terdiam sesaat.


"Kau mau aku kirim seseorang semacam bodyguard atau asisten, atau apalah, aku lebih tenang kalau ada orang yang menjagamu, selagi aku tidak berada di Manhattan."

__ADS_1


Laras menaikkan alisnya. Kemudian kembali tergelak. Ide macam apa ini, batinnya.


"Tidak perlu, Ben .. James bukan orang jahat, dia tidak akan mencelakaiku," sahut Laras.


Kembali terdengar Ben menghela nafas berat.


"Kapan kau akan berangkat?" tanya Laras mengalihkan pembicaraan.


"Besok pagi, apa kau mau ikut?"


Laras mendengus pelan. Si menyebalkan ini benar-benar asal kalau ngomong, batin Laras.


"Aku harus bekerja, Ben, oh damn .. aku bahkan belum menelpon Larry," pekik Laras.


"Aku harap Larry memecatmu."


Mata Laras membulat. Terdengar tawa Ben berderai-derai di seberang sana. Ben tengah membayangkan wajah cemberut Laras yang menggemaskan itu.


"Kalau Larry sampai memecatku, kau yang harus bertanggung jawab!" gerutu Laras.


"Dengan senang hati, aku akan menggajimu seratus kali lipat dari gajimu sekarang."


"Tidak lucu!" hardik Laras.


"Whatever!"


"Kau hanya tinggal fokus saja dengan kuliahmu, semua kebutuhanmu akan aku penuhi, asal ...."


"What?"


"Kau mau ...."


"Menjadi teman kencanmu? Begitukah? Terimakasih untuk tawaranmu, Ben .. tapi aku tidak sama dengan wanita-wanita yang kau kencani itu!" seru Laras, dadanya bergemuruh menahan kekesalan. "Selamat malam, Ben!"


Laras mematikan ponselnya begitu saja. Tak dipedulikannya suara seruan "Laras wait" lelaki itu, lalu melempar benda persegi panjang itu ke ujung kasurnya. Kesal sekali rasanya.


"Cowok kalau banyak duit emang gitu ya, menyebalkan!" Laras memukul-mukul bantalnya dengan kesal. Ponselnya bergetar berkali-kali, namun diacuhkannya saja.


Laras menarik selimutnya hingga menutupi seluruh badannya. Ditutupinya kepalanya dengan bantal dan mencoba meluapkan kekesalannya.

__ADS_1


***


Ben mengacak rambutnya dengan kasar. Laras tidak mau mengangkat telponnya lagi. Lelaki itu berjalan mondar-mandir di ruang santai studio Rebellion yang cozy. Jemarinya mulai menekan-nekan virtual keyboard di layar ponselnya.


Laras, aku tidak bermaksud menyinggungmu, maafkan aku.


Satu pesan dikirimkan Ben. Lelaki itu kembali berjalan mondar-mandir. Menunggu balasan pesan Laras yang tak kunjung masuk.


"Mau bir?"


Greg melongok dari pintu ruangan seraya menyodorkan satu botol bir kepada Ben.


Ben menyambar botol bir itu dari tangan Greg dan menenggaknya.


"Are you okay?" tanya Greg yang heran melihat Ben tampak gelisah.


Ben menghempaskan tubuhnya ke atas sofa yang empuk. Lalu menenggak botol birnya kembali. Greg melangkah masuk ke dalam ruangan dan duduk di samping Ben.


"Sepertinya aku tidak pintar mengungkapkan perasaanku pada wanita," ujar Ben seraya memilin-milin botol birnya.


Greg tersenyum tipis. Menenggak botol bir yang juga dibawanya.


"Apa kau bertemu wanita yang sulit?" goda Greg. Hatinya perih. Dia tahu siapa yang sedang dibicarakan.


"Sepertinya begitu," gumam Ben. "Kau benar,


dia memang wanita yang unik," Ben menoleh ke arah Greg. Wajah basist The Rebellion itu berubah tegang.


"Kau akan susah menemukan tipe wanita seperti dia di New York," ujar Greg. "Kalau aku jadi kau, aku tidak akan pernah melepaskannya," sambungnya seraya beranjak dari duduknya. Kemudian berlalu dari ruangan itu.


Ben masih duduk termangu, bayangan wajah Laras memenuhi kepalanya. Kenangan road trip yang masih segar kembali terngiang.


Ada penyesalan kenapa Ben tidak secara langsung menyatakan perasaannya dan menjadikan Laras satu-satunya wanita yang dicintainya. Entah kenapa jika sudah berada di dekat gadis itu, otak dan mulutnya menjadi tidak sinkron. Ben tersenyum, kemudian menggeleng pelan.


"Ben, meeting 10 menit lagi."


Jack melongok dari pintu dan mengingatkan.


Ben mengangguk. Dilihatnya dari dinding kaca, beberapa team yang akan ikut dalam tour The Rebellion telah berkumpul di ruang tamu.

__ADS_1


Ben menenggak sisa birnya kemudian melangkah keluar dari ruangan itu.


***


__ADS_2