
Hi, Ben, it's Hailey, I was wondering if you still have the same number.
Would you like to grab a cup of coffee, sometimes? And a small talk with an old friend?
Dua pesan dari Hailey masuk ke layar ponsel Ben. Pria itu tersenyum simpul. Sekedar minum kopi tidak akan menyakitkan, batinnya.
Sure.
Ben menekan tombol kirim. Sejurus kemudian satu pesan balasan dari Hailey masuk.
Yeay!
Ben terkekeh pelan. Dia berpikir mungkin Hailey bisa menjadi teman yang baik dan menyenangkan. Kenapa tidak.
Ben melangkah meninggalkan kamarnya menuju ruang bermain Daren. Bocah itu tengah sibuk memasang puzzlenya.
"Daddy, Mia is not here yet," ujarnya ketika melihat kehadiran Ben.
"Ohya?" Ben melirik jam dinding yang menunjukkan pukul enam sore. Artinya gadis itu terlambat satu jam. Biasanya dia selalu tepat waktu.
Ben merogoh sakunya dan mengambil ponselnya di sana dan mengutak - atiknya sebentar.
"Nana," ujarnya ketika teleponnya tersambung ke seberang. "Apa kau tahu kenapa Mia tidak datang mengajar ke sini?"
"Hari ini sepertinya dia tidak masuk kerja, aku tidak melihatnya dari tadi." Suara Madame Rose di seberang sana. "Ben, aku akan meminta nomer telpon Mia pada rekan kerjanya. Nanti akan kukirim padamu, tolong kau hubungi dia ya."
"Yes, Nana."
Ben menutup telponnya. Lalu memandang ke arah Daren yang juga tengah memandangnya.
"Where's Mia, Daddy?" tanya bocah kecil itu.
"Emm .. wait a minute, Daren." Ben memberi isyarat untuk menunggu pada Daren dengan jari telunjuknya. Lalu melangkah keluar dari ruangan itu.
+1484521####
Satu pesan masuk ke layar ponselnya. Sepertinya dari Madame Rose. Ben memeriksanya sebentar lalu melanjutkan langkahnya menuju ke arah studionya.
.
.
Mia masih meringkuk di dalam selimut tebalnya dengan badan yang menggigil hebat. Penghangat ruangan seakan tak mampu mengusir hawa dingin yang menyerangnya. Musim dingin di New York kali ini benar - benar membuatnya kewalahan. Terkadang gadis itu merindukan cuaca hangat sepanjang tahun di Indonesia.
Ponselnya bergetar. Perlahan diraihnya benda persegi panjang itu. Satu nomer tak dikenal tertera di layar. Ragu - ragu Mia menggeser tombol telepon ke samping kanan.
"Hallo?" sapanya dengan suara serak.
"Hi, Mia? It's Ben."
Mia hampir saja tersedak ludahnya sendiri dan menjatuhkan ponselnya ke kasur. Tiba - tiba dirasakan tubuhnya dialiri dengan aliran hangat.
"Mia? Are you there?"
"Ah, ya, Mr. Chevalier .. maaf aku tidak tahu bagaimana memberitahumu kalau aku tidak bisa mengajar Daren hari ini."
"Kau sakit?"
__ADS_1
"Yeah, sedikit demam."
"Apa kau membutuhkan sesuatu?
"Emm .. tidak, tidak, Mr. Chevalier, aku baik - baik saja. Besok pasti aku sudah sembuh dan bisa mengajar Daren."
"Well, okay, then. Take care, Mia."
Mia menelan ludahnya pelan. Kini seakan keringat dingin membanjiri tubuhnya. Dipandanginya layar ponsel yang tertera nomer Ben di sana.
The Blue Eyes
Mia menuliskan nama itu di kontak nomor Ben. Senyumnya mengembang. Didekapnya ponselnya dengan erat. Entah kenapa mendengar suara pria itu membuatnya begitu gembira. Dadanya tak henti - hentinya berdesir.
***
"Coba ulang kembali lagunya dari awal, Daren."
Mia memberi instruksi pada Daren untuk menekan senar biolanya dengan benar. Bocah tampan itu mengulangi lagu Ode To Joy dari Beethoven yang sedang dipelajarinya.
"Good." puji Mia begitu Daren menyelesaikan lagunya. Daren meringis senang.
"Kau mau coba vibrato?" tanya Mia.
"Yash!" jawab Daren dengan antusias.
"Tekan jari tengahmu di sini." Mia menuntun jari tengah Daren ke senar G dan menekannya. "Gerakan pergelangan tanganmu seperti ini, maju, mundur, maju, mundur, pelan."
"Nice house, Ben."
Konsentrasi Mia buyar ketika mendengar suara seorang wanita disusul langkah - langkah dari arah koridor yang semakin mendekat.
Seorang wanita cantik berambut hitam muncul ke dalam ruangan dan mendekati Daren. Ben menyusul di belakangnya.
"Is this your son, Ben? Aww .. so cute," puji wanita itu sembari mencubit lembut pipi montok Daren. Bocah itu terlihat jengah.
"Daren, this is Hailey." Ben memperkenalkan Hailey pada Daren yang acuh tak acuh.
"Hi, Daren," sapa Hailey. Daren hanya melambai kecil.
Ben memandang ke arah Mia. Memperhatikan wajah pucat gadis itu.
"Kau sudah merasa lebih baik, Mia?" tanya Ben.
"Yes, Mr. Chevalier, thanks for asking," jawab Mia seraya memandang ke arah Ben sekilas, dengan senyum getirnya.
"Kita pergi sekarang, Ben?" tanya Hailey membuat pria itu segera memalingkan wajahnya dari Mia.
"Okay," sahut Ben. Diciumnya puncak kepala Daren dan mengacak rambutnya pelan. Kemudian kembali memandang ke arah Mia yang tengah menunduk, sibuk dengan biolanya.
"Bye, Mia," ucapnya.
Mia hanya mengangguk. Hailey melirik sekilas pada Mia dan tersenyum tipis. Kemudian mengikuti Ben keluar dari ruangan itu.
"I don'th likhe her," gumam Daren dengan suara cadelnya.
Mia terbahak. "Kau tidak bisa mengatakan kau tidak menyukai seseorang yang belum kau kenal, Daren."
__ADS_1
"I justhh don'th like her!"
"Okay, okay, ayo lanjutkan lagi latihannya."
Mia menghela nafasnya pelan.
Siapa wanita itu?
Mia mencoba menepis pikiran - pikiran buruk yang tiba - tiba berseliweran di dalam kepalanya. Kenapa dia merasa tidak rela melihat Ben bersama seorang wanita. Apa yang terjadi padanya.
***
Mia menaiki tangga keluar stasiun bawah tanah menuju jalan raya. Langkahnya gontai menelusuri trotoar di sepanjang Brownsville. Bayangan wanita yang bersama Ben itu mengacaukan pikirannya.
Apa dia pacar Ben?
Kalau iya memangnya kenapa?
Bukankah aku hanya mengaguminya dalam diam?
Lamia, ada apa denganmu?
Mia mengacak rambutnya asal. Mencoba membuang suara - suara di dalam kepalanya yang tengah berkonferensi.
"Hei, gadis aneh!"
Seruan seseorang membuat Mia spontan mengangkat wajahnya. Menoleh ke sampingnya dan mendapati Brandon telah mensejajarkan langkah dengannya. Mia memukul pundaknya pelan.
"Sedang apa kau di sini?"
"Mau ke apartemenmu."
Mia membulatkan matanya. "Mau apa?"
"Memeriksa keadaanmu, siapa tahu kau sedang kelaparan," kekeh Brandon.
Mia mendesis. Dipukulnya kembali pundak sahabatnya itu.
"Tapi aku memang lapar." Mia meringis. "Apa kau akan mentraktirku makan malam?"
"Aku akan mentraktirmu makan malam, mengajakmu jalan - jalan, menonton film, melihat air mancur. Kau mau apa? Sebutkan!"
"Hmmmm .. kita lihat saja nanti. Mana mobilmu?
Brandon menunjuk ke arah belakang mereka di mana mobil ford tuanya terparkir. Mia segera menggandeng tangan Brandon menuju mobil berwarna biru muda itu.
Malam minggu akan dihabiskannya saja dengan bersenang - senang bersama sahabatnya. Melupakan segala kegetiran hatinya mengingat Ben dan wanita cantik itu.
Anyway, I'm just a secret admirer.
He's untouchable to me.
He's Benjamin Chevalier from The Rebellion.
I'm nobody.
Alright, wake up, Lamia, wake up!
__ADS_1
***