I Am Yours,Mr Chevalier!

I Am Yours,Mr Chevalier!
Part 74


__ADS_3

"I'm going to Chicago tonight."


Ben membantu Laras mengaduk telur di dalam mangkuk, sementara gadis itu tengah sibuk mengolesi mentega pada beberapa lembar roti tawar.


"Okay," sahut Laras pendek.


"Hanya dua hari." Ben memiringkan wajahnya, memandang ke arah Laras. Dia terlihat begitu cantik pagi ini.


Laras memicingkan matanya. "So?"


"Ya, hanya dua hari dan aku akan kembali padamu."


Laras terkekeh. So sweet, Ben.


"Atau kau ikut saja denganku."


"Tidak bisa, Ben." Laras memutar kedua bola matanya. Ben menghela nafas dalam-dalam.


"Sayang sekali," gumam Ben menahan rasa kecewanya. Lalu menuangkan telur yang telah diaduknya ke atas penggorengan, lalu mengaduknya kembali menjadi scramble egg.


Laras hanya tersenyum seraya memasukkan lembaran roti tawar ke dalam pemanggang roti. Sembari menunggu roti matang, Laras menyandarkan tubuhnya di dinding dapurnya yang sempit itu. Memperhatikan Ben yang tengah membolak-balik masakannya.


"Ben ...."


"Ya," sahut Ben seraya menoleh ke arah Laras sekilas.


"Apa Anita masih ada di apartemenmu?" tanya Laras.


"Mungkin, aku tidak tahu." Ben mengedikkan bahunya.


Laras menghela nafas pelan. "Aku kasihan padanya, sepertinya dia menaruh harapan yang besar padamu."


Ben mematikan kompor lalu melangkah ke arah Laras, kemudian menyandarkan tubuhnya di samping gadis itu.


"Biarkan saja itu menjadi proses hidupnya." Ben mengeluarkan kata-kata bijaknya.


"Apa kau masih merasa sakit hati karena dulu dia meninggalkanmu?" tanya Laras.


Ben tergelak. "Sama sekali tidak."


Laras tersenyum, lalu menghadap ke arah Ben. Melingkarkan lengannya di leher sang gitaris yang menyambutnya dengan memegang pinggangnya lembut. Laras berjinjit lalu mengecup bibir Ben sekilas.


"I love you, Ben." Laras menatap mata biru Ben tajam.


"I love you more," ucap Ben sembari mengelus pipi Laras pelan. Membuat gadis itu tersenyum lebar. Lalu menyandarkan kepalanya di dada Ben sembari memeluknya erat.


***


Laras berjalan dengan cepat keluar dari kelasnya melewati beberapa orang wanita di koridor yang menatapnya dengan pandangan mata tajam. Ada beberapa yang berbisik dan tersenyum sinis sekilas. Laras tahu apa yang ada di otak mereka. Sudah menjadi resikonya dekat dengan Ben.


Laras merasa ada seseorang yang mengikutinya dan mencoba mensejajarkan langkah di sampingnya. Gadis itu menoleh, dadanya berdesir. Claire.


"Laras, right?" tanya Claire. Senyum manisnya terbit.


"Yeah?" Laras berhenti dan menghadap ke arah Claire. Ah, gadis ini cantik sekali, sialan kau Ben, kenapa mantan pacarmu cantik-cantik semua!


"Aku Claire." Gadis itu mengulurkan tangannya. Laras segera menyambutnya.

__ADS_1


"Aku tahu."


"Aku pikir kita harus berkenalan, kita punya posisi yang sama,bukan? Mengencani lelaki yang sama."


Dada Laras berdegup kencang. Ada rasa nyeri yang terbersit di dalam hatinya. Namun gadis itu mencoba untuk mengontrol emosinya.


"Kau masih berkencan dengan Ben?" tanya Laras dengan perasaan yang tercampur aduk.


Claire menghela nafas pelan. "Well, aku bisa bilang aku masih berkencan dengannya. Kau tahu, Ben tidak berkomitmen apa-apa denganku, dia datang ketika dia membutuhkanku. Dan aku akan siap kapan saja."


Jantung Laras seakan tertohok benda keras mendengar kata-kata Claire. Gadis itu memejamkan matanya sesaat, menahan rasa nyeri yang menggerogoti dadanya.


"Kau teman kencan Ben yang baru, aku rasa dia sedang sibuk denganmu, aku akan sabar menunggu sampai dia merindukanku."


Brengsek! Aku bukan teman kencan Ben!


Laras mengepalkan kedua tangannya erat.


"I'm sorry, I gotta go ...." Laras memaksakan senyumnya dan berpamitan dengan Claire yang memandangnya dengan tatapan sinis yang tersembunyi di balik mata cokelat indahnya.


Laras menjatuhkan dirinya di kursi kayu panjang favoritnya di kampus, di bawah pohon oak yang rindang. Ditariknya nafas dalam-dalam untuk mengendalikan perasaannya yang tidak menentu. Laras melirik jam tangannya. Pukul 12.00.


Gadis itu berpikir sejenak. Kemudian beranjak dari duduknya dan melangkah keluar melewati gerbang kampus.


Laras melambai ke arah taksi berwarna kuning yang tengah melintas.


"Time Warner Center, please," ucapnya pada sopir taksi ketika telah duduk di kursi belakang. Lelaki berwajah timur tengah itu mengangguk. Lalu mengemudikan mobil keluar dari area Columbia.


***


Dengan ragu Laras menekan bel di pintu berwarna silver bertuliskan nomor 1005 itu.


"Hallo, ada yang bisa aku bantu?" tanya Marry.


"Hi, Madame, aku ingin bertemu dengan Ben."


jawab Laras dengan senyumnya.


Marry mengerenyitkan dahinya. Dalam hatinya berpikir mungkin Laras adalah salah satu penggemar fanatik Ben.


"Emm .. apa kau sudah punya janji, Nona?" tanya Marry. Laras menghela nafas dalam-dalam. Lalu menggeleng.


"Kalau begitu aku minta maaf, aku tidak bisa sembarangan membawa penggemar menemui Ben." Marry menunjukkan ekspresi wajah menyesalnya pada Laras.


"Aku bukan penggemarnya, Madame. Aku ...."


Laras tak melanjutkan kata-katanya ketika seseorang memanggil Marry dari dalam.


"Marry, kau bicara dengan siapa?"


Marry memberi isyarat pada Laras untuk menunggu sebentar. Lalu menutup pintu rapat-rapat.


"Hei, siapa di luar Marry?" tanya Ben yang baru saja mengambil sebotol bir dari dapur.


"Ah, Ben .. ada seorang gadis asia yang ingin menemuimu, mungkin penggemar fanatikmu, apa kau mau menemuinya?"


Ben membulatkan matanya. Gadis asia? Ben segera berjalan melewati Marry yang keheranan lalu segera membuka pintu.

__ADS_1


"Laras? baby?" Ben tampak terkejut bercampur girang.


Laras hanya melipat kedua lengannya di depan dada. Bibirnya merengut. Ben menggandeng tangan Laras dan mengajaknya masuk. Marry yang masih berdiri di ruang tamu segera meninggalkan keduanya.


"Ben ...." Laras menghambur ke pelukan Ben dan membenamkan kepalanya di sana.


"Hei, hei .. ada apa sayang?" tanya Ben sembari mengelus kepala Laras lembut.


"Hatiku rasanya sedang kacau," rengek Laras.


"Tell me what's wrong, love?"


Laras melepaskan pelukannya pada Ben dan duduk di atas sofa.


"Kau mau minum sesuatu?" tawar Ben. Laras menggeleng, lalu menarik tangan Ben untuk duduk di sampingnya.


"Aku tidak ingin terlihat seperti seorang pacar yang pemarah atau pencemburu." ujar Laras pelan. Ben tertawa pelan. Gemas sekali melihat ekspresi wajah Laras. Ekspresi antara marah dan manja dalam waktu yang bersamaan.


"Kau bisa marah atau cemburu sesukamu, justru kau membuatku gemas," goda Ben.


"Ben, aku serius!" hardik Laras kesal.


"Okay, okay, baby ...." Ben meminta ampun.


"Sudah dua orang wanita yang pernah kau kencani datang padaku, mengatakan hal-hal yang membuatku sebal," gerutu Laras.


Ben membulatkan matanya. "Ohya?"


Laras mendesis. Sebal sekali melihat reaksi Ben yang seperti tak punya dosa itu.


"Apa sebenarnya yang kau lakukan pada mereka, kenapa mereka tidak bisa melepasmu? Dan aku yang harus menjadi sasaran kekesalan mereka terhadapmu!"


"Ooww .. I'm sorry baby, come here." Ben menarik tangan Laras namun segera gadis itu menepisnya.


"Aku kesal sekali, Ben .. aku ingin sekali memukulimu!" seru Laras.


"Okay, sayang .. pukul saja aku, sini ...." Ben kembali menarik tangan Laras dan menggerak-gerakkan tangan Laras untuk memukuli pipi dan juga dadanya. Namun Laras malah menghambur ke pelukannya sekali lagi membuat Ben tersenyum lebar.


"I love you, Laras .. remember that, okay?"


Laras mengangguk-anggukkan kepalanya dan semakin mengeratkan pelukannya.


Greg muncul dari ruang musik dan membuat sepasang kekasih itu melepaskan pelukan mereka dengan canggung.


"Hi Laras ...." Greg melambaikan tangannya.


"Hi .. Greg," sahut Laras sembari tersenyum.


Greg memandang Ben sekilas kemudian berjalan menuju ke arah dapur. Mengambil sebotol bir kemudian berjalan melewati Ben dan Laras untuk masuk ke ruang musik kembali.



***


Catatan Penulis :


Maaf baru update ya teman-teman. Beberapa hari ini sibuk dalam dunia permusikan dulu, I love y'all 😘😘😘

__ADS_1


Jangan lupa follow ig aku ya @theladymagnifica


__ADS_2