
Stranger man with his sad eyes
Cold as snow in the winter
A face without smile
With a heart shrouded in misery
Mia memetik gitar akustiknya mencoba merambati nada yang sesuai untuk lagu yang ditulisnya itu. Matanya terpejam. Punggungnya dia sandarkan ke headboard ranjangnya.
Behind Blue Eyes. Wajah dingin Benjamin Chevalier menari - nari dalam benaknya. Membuat otaknya begitu encer merangkai nada demi nada hingga terbentuk sebuah pondasi lagu. Bibir mungilnya mulai menyenandungkan lirik yang ditulisnya beberapa hari lalu. Sebuah lirik yang entah kenapa dia tulis untuk seorang Benjamin Chevalier. Frontman The Rebellion, ayah dari muridnya, Daren, dan pria berwajah dingin yang entahlah, mungkin sedikit membuat dadanya berdebar.
Mia meletakkan gitarnya di atas kasur. Kemudian beranjak dari ranjangnya dan melangkah keluar dari kamarnya.
"Geez, get a room you two!" pekiknya ketika melihat pemandangan tidak senonoh di sofa ruang tamu.
Adegan ciuman panas Ashley dan Will, teman satu band Mia, yang terpampang jelas di depan mata gadis itu.
Kedua pasang kekasih yang sedang dimabuk cinta itu hanya meringis.
"Hi, Lammy," sapa Will dengan wajah polos palsunya.
Mia memutar kedua bola matanya lalu melanjutkan langkahnya menuju dapur untuk mencari sesuatu yang bisa diminumnya.
"Aku mendengar lagu yang kau buat tadi, terdengar bagus!" seru Ashley. "Lebih bagus lagi jika kau katakan padaku siapa si Mata Biru itu," lanjut sahabatnya itu sembari terkekeh.
Terdengar suara desisan Mia dari arah dapur. Kemudian gadis itu mendekat dan duduk di samping Will dan Ashley.
"Setahuku Brandon tidak bermata biru," gumam Will.
"Bukan Brandon, sayang," sahut Ashley. "Seorang pria misterius yang dikagumi Lammy."
"Setahuku Lammy tidak pernah dekat dengan pria manapun kecuali Brandon." Will menimpali.
"Memang belum dekat, Lammy adalah penggemar rahasianya."
Kembali Mia memutar kedua bola matanya. "Hei, apa kalian sedang membicarakanku?" tanya Mia, mendengar kedua orang ini dengan santainya membicarakannya seakan - akan dia sedang tidak berada di antara mereka.
"Benar kau tidak berkencan dengan Brandon?" tanya Will penuh selidik.
"Tidak," jawab Mia singkat.
"Aku rasa dia sangat menyukaimu, Lammy."
"What? Brandon? You're joking, right?" Mia menggeleng.
"Aku tidak bercanda."
__ADS_1
"Okay, okay .. hentikan omong kosongmu, Will." Mia beranjak dari duduknya, kemudian melangkah menuju kamarnya dan menutupnya rapat - rapat.
Ashley dan Will saling pandang dan mengedikkan bahu mereka.
***
"Aku senang kau kembali bermusik lagi, Ben."
Laras mengelus pipi Ben yang terbaring menghadapnya dengan lembut. Bibir pria itu menyunggingkan senyum.
"Aku harus mencari kesibukan, bukan?" kekehnya.
"Aku bahagia jika kau bahagia, aku sedih jika kau sedih," ucap Laras dengan suara lirihnya.
Ben menghela nafas panjang. "Anyway, aku masih marah padamu, baby."
" Maafkan aku ...."
"Hmmmm ...."
.
.
"Daddy .. Daddy .. wake up!"
Ben membuka matanya dengan berat ketika dirasakannya ada yang mengguncang - guncang tubuhnya dengan keras. Wajah Daren menyembul dari balik punggungnya.
"Hmm .. what is it, Daren? Memangnya ini hari apa?" tanya Ben sembari mengangkat tubuh mungil Daren dan mendudukkannya di sebelahnya.
"It's tuesday, Daddy."
Ben menghela nafas pelan. Lalu mengacak rambut gondrong Daren gemas. "Jadwal latihanmu hari jum'at dan sabtu, Daren."
"Tapi .. aku ingin belajar hari ini, Daddy, please, please."
"Dengar, Daren, kita tidak tahu apa Mia bisa hari ini, karena hari ini bukan jadwalnya dia ke sini."
Raut wajah Daren seketika berubah sedih, membuat Ben tidak tega melihatnya. Bibir bocah lelaki itu manyun.
"Okay, okay, aku akan mencari tahu apa Mia bisa ke sini hari ini. Kau senang?"
"Yeay!" seru Daren kegirangan.
Ben menyambar ponselnya dan mengutak - atiknya sebentar. Namun sejurus kemudian dia meletakkan benda itu kembali ke atas nakas tanpa menelpon siapapun.
Damn, aku memberi cuti Pablo selama seminggu.
__ADS_1
***
"See you tomorrow, Chante," pamit Mia pada rekan kerjanya itu. Melambai ke arah wanita afro - amerika itu dan melangkahkan kakinya ke luar gedung.
Mia menggosok - gosok kedua telapak tangannya demi menghalau rasa dingin yang begitu menusuk. Sialnya hari ini dia lupa memakai sarung tangan karena terburu - buru berangkat kerja.
Direnggangkannya otot - otot badannya yang terasa pegal. Hari ini pekerjaan sedikit lebih berat dari biasanya. Bayangan tempat tidurnya telah menari - nari di benaknya. Meringkuk di dalam selimut tebal setelah sebelumnya menyantap beberapa potong waffle hangat dan segelas cokelat panas, adalah satu - satunya hal yang bisa dibayangkannya sekarang ini.
Mia merogoh sakunya untuk meraih ponsel dan memesan uber taxi. Sibuk dengan ponselnya membuatnya tidak menyadari ada sebuah mobil Range Rover hitam yang berhenti tepat di hadapannya. Dan si pengemudi keluar dari dalam mobil dan mendekati gadis itu.
"Mia?"
Mia mendongak dan mendapati seraut wajah bermata biru tengah tersenyum ke arahnya.
"Mr. Chevalier?" ujar Mia tanpa bisa menyembunyikan rasa kagetnya.
"Kau baru selesai kerja?"
"Emm .. ya."
"Wow, kebetulan sekali .. emmh .. maaf aku harus mengganggumu, Daren merengek memintamu datang memgajar hari ini." Ben mengangkat kedua tangannya ketika Mia hendak mengatakan sesuatu. "I know, I know, hari ini bukan jadwalmu. Aku hanya tidak bisa melihat wajah sedih anak itu." Ben terkekeh. "Aku harap kau tidak keberatan," lanjutnya.
"Owh, tentu saja, tidak masalah," ujar Mia seketika. Entah kenapa bayangan tempat tidur hangatnya menguap begitu saja.
Ben tersenyum lega. "Great," ucapnya. Kemudian berjalan menuju pintu mobil dan membukanya untuk Mia. Gadis itu hanya mematung.
"Silahkan," kata Ben mempersilahkan Mia masuk ke dalam mobil. Namun gadis itu masih saja mematung. Antara kaget dan bingung.
"Mia?" panggil Ben. "Ayo masuk."
Mia terhenyak. Dengan ragu gadis itu melangkah masuk ke dalam mobil.
"Maaf merepotkanmu," kata Ben sembari mengemudikan mobilnya keluar dari area Linden Center.
"It's okay." Mia menelan ludahnya dengan berat. Badannya terasa panas dingin. Sesekali gadis itu membenarkan posisi duduknya. Perutnya tiba - tiba seperti keram.
Berada di dalam mobil Benjamin Chevalier, apa ini mimpi?
"Are you okay?" tanya Ben yang mendapati Mia terlihat gelisah.
"Emm .. yeah, I'm .. good," jawab Mia gugup.
Ben tersenyum sekilas kemudian kembali berkonsentrasi ke jalan. Tidak ada pembicaraan lagi setelah itu. Keduanya terdiam dan tenggelam dalam pikiran masing - masing.
***
Hey, guys ...
__ADS_1
Baca juga dong novelku yang lain, genre fantasy, judulnya Si Penyihir Putih. Klik aja deh ya profilku, ntar muncul novel - novelku yang lain.
Makasihhhhhh.