I Am Yours,Mr Chevalier!

I Am Yours,Mr Chevalier!
Part 39


__ADS_3


BREEZEWOOD SMALL TOWN, PENNSYLVANIA.


Laras merapatkan mantelnya menghalau hawa dingin yang mulai menelusup ke dalam tubuhnya. Gadis itu menyapu pandangannya ke seluruh halaman motel yang luas. Jalan raya di depan sana tampak sepi, hanya ada satu dua truk yang melintas. Ini sudah seperti di negeri antah berantah. Laras tertawa kecil, ide road trip dadakan Ben ini sungguh gila.


Laras tidak pernah menyangka jiwa lelaki menyebalkan itu sepetualang ini.


Ben keluar dari lobby motel dan membawa satu kunci kamar. Laras mengerenyitkan dahinya.


"Kenapa kau hanya memesan satu kamar?" tanya Laras.


"Untuk menghemat pengeluaran," jawab Ben ringan seraya berjalan dengan tenangnya menuju pintu kamar yang telah di pesan.


Laras melongo tak percaya. Menghemat pengeluaran katanya, benar-benar omong kosong. Gadis itu menggeleng pelan. Kemudian menyusul Ben yang telah lebih dulu masuk ke dalam kamar.


Ruangan kamar cukup luas dengan satu buah tempat tidur besar. Laras hanya berdiri mematung di dekat pintu yang masih terbuka.


"Apa kau akan semalaman berdiri di situ?" tanya Ben sembari melongokkan kepalanya dari pintu kamar mandi.


Laras mendecak. Menutup pintu kamar dan meletakkan barang-barangnya di atas meja.


Dinyalakannya tv kemudian gadis itu duduk di pinggir ranjang. Terdengar suara gemericik air dari shower pertanda Ben telah mulai membersihkan dirinya.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian Ben keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya, memperlihatkan tubuh sexynya yang penuh tattoo itu. Rambut pirangnya yang basah membuatnya terlihat menggairahkan.


Laras buru-buru mengalihkan pandangannya.


Disambarnya handuk kering dan pakaian ganti di atas meja kemudian bergegas masuk ke kamar mandi.


Ben hanya tersenyum melihat sikap Laras yang terlihat gugup. Lelaki itu menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang dan memejamkan matanya dalam posisi menelungkup.


Laras keluar dari kamar mandi lengkap dengan piyama tidur yang dibelinya tadi sore.


Dilihatnya Ben telah tertidur dengan handuk masih melilit di pinggangnya. Laras memperhatikan Ben dengan seksama. Tattoo bergambar salib terlilit ular yang hampir memenuhi punggungnya membuat lelaki itu terlihat begitu sexy. Laras menghela nafas. Kebaikan apa yang pernah dilakukan di masa lalu hingga dia harus diberi anugerah bermalam dengan seorang Benjamin Chevalier, makhluk yang mendekati sempurna ini, batinnya. Laras terkikik pelan.


Laras menaiki ranjang dengan hati-hati. Takut membangunkan Ben yang tampak tertidur dengan pulas. Ditariknya selimut tebal dan menutupi seluruh tubuhnya kecuali kepala.


***


Laras merasakan hawa yang begitu hangat menempel di tubuh bagian belakangnya. Serta kakinya terasa berat. Laras memeriksa ke dalam selimutnya. Tangan Ben dengan leluasa merengkuh dadanya. Dirasakannya hembusan nafas Ben menghangatkan tengkuknya. Artinya Ben tengah tertidur sembari memeluknya dari belakang. Dada Laras berdegup kencang. Gadis itu berusaha menyingkirkan tangan Ben dari dadanya dengan pelan. Gerakan itu membuat Ben terbangun dan semakin mempererat pelukannya. Diciumnya tengkuk Laras dengan lembut. Lalu meremas dadanya pelan membuat bulu kuduk gadis itu berdiri.


Laras memejamkan matanya. Sungguh ini adalah godaan yang sangat berat.


Ben meraba dengan lembut mulai dari pinggang, perut dan paha Laras sembari terus menciumi tengkuk gadis itu. Lelaki itu benar-benar membuatnya seakan lupa diri.


Laras melenguh pelan. Membuat Ben semakin bergairah. Ben membalikkan tubuh Laras dan menopang tubuhnya sendiri dengan kedua tengannya berada di antara kepala Laras. Dipagutnya bibir gadis itu lembut dan dalam.

__ADS_1


"Ben," panggil Laras di sela-sela nafasnya yang memburu.


"Yes," jawab Ben sembari menciumi leher Laras dengan liarnya.


"Don't do that," lenguh Laras. Antara ingin Ben terus melanjutkan cumbuannya dan tidak.


"Why?" tanya Ben tanpa menghentikan aktifitasnya.


Laras berusaha mengatur nafasnya yang memburu. Mendorong dada Ben pelan hingga lelaki itu menghentikan cumbuannya. Dan berbaring menghadap Laras dengan tatapan sayu.


"I'm sorry, Laras," ucap Ben setelah berhasil mengendalikan dirinya. Dielusnya pipi Laras lembut.


Aku ingin sekali, Ben, ucapnya dalam hati. Laras ketakutan sendiri jika harus jatuh semakin dalam terhadap perasaannya kepada lelaki di hadapannya ini. Laras tidak yakin akan perasaan Ben terhadapnya. Dia melakukan semua itu dengan banyak wanita. Laras tidak mau seperti wanita-wanita itu. Hanya dijadikan teman tidur saja.


"Come here," ucap Ben seraya membuka kedua tangannya. Laras menatap Ben lekat-lekat. Ragu untuk mendekat.


"Tidur di pelukanku," lanjutnya.


Laras mendekat ke arah Ben pelan. Membenamkan kepalanya di dada Ben.


Lelaki itu menarik selimut untuk menutupi tubuh Laras dan juga tubuhnya.


"Don't worry about anything at all," ucap Ben sembari mencium puncak kepala Laras dan memeluk gadis itu erat.

__ADS_1


***


__ADS_2