I Am Yours,Mr Chevalier!

I Am Yours,Mr Chevalier!
Part 102


__ADS_3

"Ben ...."


"Hmmm ...."


"Apa kau percaya misteri alam semesta?"


Ben tersenyum miring. "Dulu, ya, tapi aku berhenti mempercayainya sejak kau pergi. Aku merasa alam semesta hanya sedang mengerjaiku saja. Membuat lelucon. Tetapi sayang, leluconnya sama sekali tidak lucu."


Laras terkekeh. Disandarkannya kepalanya di dada bergambar elang itu.


"Kau tidak percaya kau akan benar - benar bahagia suatu saat nanti?" tanya Laras.


"Bahagia? Tanpamu?"


"Jangan pesimis, Ben."


Ben menghela nafas dalam - dalam. Dielusnya rambut panjang Laras lembut.


.


.


"Dadddy, daaaad .. dyyy!"


"Aaaw!" Ben memekik kesakitan ketika dirasakannya sesuatu menerjang dadanya. Dengan kesadaran yang belum terkumpul sepenuhnya, Ben membuka matanya dan hal pertama yang dilihatnya adalah Daren yang tengah tertawa - tawa sembari menindih tubuhnya.


"O Gosh, Daren, you're heavy!" seru Ben seraya mengangkat bocah kecil montok itu dan memindahkannya di sampingnya.


"Where's Jackelyn?" gumam Ben masih menahan rasa kantuknya.


"Daddy, helphh me finish my puzzles." Daren menarik - narik lengan Ben mengajaknya beranjak dari ranjang.


"Oow, Daren, look, Daddy's so sleepy." Ben menunjuk ke arah mukanya dan secara bersamaan pria itu menguap lebar - lebar.


Daren merengut. Kedua tangannya dilipat di depan dadanya. Pandangannya lurus ke depan.


"Bagaimana kalau jalan - jalan saja?" tawar Ben.


"Agree!" seru Daren girang.


"Tapi satu jam lagi, biarkan aku lanjutkan tidurku dulu, okay?"


"Agree!" Daren berdiri dan berjingkrak - jingkrak dengan senangnya. "TSee yyou inh one hour, Daddy," ujarnya dengan suara cadelnya.


Ben mengacak rambut anak semata wayangnya itu gemas. Kemudian membaringkan kembali tubuhnya di atas ranjang. Melanjutkan tidurnya yang tertunda.


.


.


"Kau mau jalan - jalan kemana?" Ben menoleh pada Daren yang berada di atas car sit nya di kursi tengah mobil.


"Emm .. I wannah tsee Gigi and after, I wannah go to the zoou, I wannah visith Melman." jawab Daren dengan antusias. Ben tergelak demi mendengar nama Melman. Seekor jerapah yang tinggal di kebun binatang Central Park, Manhattan, dalam film animasi Madagascar. Film favorit Daren.


"Yeah? You wanna see Gigi? And then visit your friend, Melman?"


"Hmmm!" Daren mengangguk mantap.


"Alright, Sir. Let's go," ucap Ben sembari mengemudikan mobilnya keluar dari area Greenwich.


***


LINDEN CENTER, BROOKLYN, NEW YORK.


"See you tomorrow, Chante," ucap Mia pada rekan kerjanya yang menyambutnya dengan lambaian tangan. Mia membenarkan letak syal di lehernya dan memakai sarung tangan tebal demi menghalau udara dingin di luar sana.


Mia membuka pintu kaca utama lalu melangkah keluar gedung. Udara dingin langsung saja menerpa wajahnya. Gadis itu menggosok - gosokkan kedua telapak tangannya yang terasa kaku karena kedinginan.


"Daddy, let's go to the zoou."


Tersengar suara cadel seorang anak kecil yang sangat familiar di telinganya. Tanpa pikir panjang Mia menoleh dan benar, Daren tengah digandeng ayahnya dan hanya berjarak dua meter di belakangnya.


"Daren!" panggil Mia. Yang dipanggil menoleh kepadanya dan memekik kegirangan.

__ADS_1


"Miaa!"


Daren menghambur ke arah Mia dan memeluk gadis itu. "Why arre yyou here?" tanya Daren sejurus kemudian dengan wajah heran.


"I work here," jawab Mia, kemudian menoleh ke arah Ben yang tengah bersidekap dan memandang ke arahnya dan Daren. "Hi, Mr. Chevalier," sapa Mia.


Ben hanya tersenyum dan mengangguk kecil.


"Mia, we'd likke to ggo to the zoou, canh yyou ggo with us?" tanya Daren seraya menarik tangan Mia dan membawanya menuju Ben.


"Emmm .. that would be nice, Daren, but I ...."


"Canh she, Daddy?" Kini giliran Daren meminta pendapat Ben. Lebih tepatnya memohon.


"Terserah Mia, Daren, kau tidak boleh memaksa." Ben mengelus puncak kepala Daren.


Daren merengut. Kekecewaan tergambar jelas di raut wajahnya. Pipi chubbynya menggembung.


Mia sebenarnya sangat lelah dan ingin cepat - cepat pulang dan begumul dengan kasur dan bantalnya, namun wajah Daren membuatnya iba.


Mia berjongkok dan memegang kedua bahu Daren.


"Hey, handsome, don't be sad, I'll go with you."


Mata Daren seketika berbinar terang. Segera ditariknya tangan Mia menuju mobil Ben di tempat parkir yang berada di halaman depan gedung.


"Sorry," bisik Ben ketika Mia menoleh ke arahnya.


"It's okay," jawab Mia sembari menggeleng kecil.


Ben membukakan pintu untuk Daren dan memastikan bocah itu duduk dengan aman di car sitnya, kemudian membuka pintu untuk Mia di bagian depan.


Mobil Ben melaju meninggalkan halaman gedung Linden Center yang luas, menyelusuri jalanan Brooklyn dan berbelok ke jalan utama menuju Manhattan.


.


.


"Biar kugendong Daren," ujar Ben meraih Daren yang berada di gendongan Mia, tertidur dengan pulasnya setelah kelelahan berjalan ke sana ke mari berkeliling kebun binatang yang cukup luas. Ditangannya tergenggam boneka jerapah yang tadi dibelinya di toko souvenir Central Park Zoo dan dinamainya Mr. Melman, seperti nama tokoh jerapah di film kesayangannya itu.


"Kau yakin?" tanya Ben. Mia mengangguk.


Tak jauh dari mereka, nampak sebuah restauran bertuliskan Dancing Crane Cafe, yang masih di dalam area kebun binatang.


"Kau ingin makan sesuatu?" tanya Ben. Kebetulan sekali Mia memang lapar. Ini sudah jam makan malam. Perutnya pun beberapa kali berbunyi.


"Sure," jawab Mia.


Dancing Crane Cafe cukup lengang. Hanya ada beberapa meja yang terisi pengunjung.


Ben melangkah menuju receptionist dan memesan makanan. Sementara Mia mengambil meja yang berada di pojok ruangan. Gadis itu duduk sambari mendekap Daren yang masih tertidur pulas.


"Maaf merepotkanmu," ujar Ben seraya duduk di depan Mia.


"No problem. Should I wake him up?" tanya Mia.


"Hmm .. tidak usah, dia sudah kenyang makan dua potong cheese burger," kekeh Ben.


Mia tersenyum. Telapak tangannya menepuk - nepuk punggung Daren yang menggeliat kecil. Bocah itu pun kembali terlelap.


Suasana hening. Baik Ben mau pun Mia hanya saling diam. Mia melempar pandangan ke luar restauran. Lampu - lampu taman menerangi pepohonan tanpa daun yang diselimuti salju tipis.


"Sudah lama tinggal di States?" tanya Ben memecahkan keheningan di antara mereka.


"Dua tahun."


"Aku tidak menyangka Mr. Kusuma adalah Pamanmu," kekeh Ben.


"Yeah."


"Kau tidak berkuliah?" tanya Ben.


"Mungkin suatu hari. Aku sedang mengumpulkan uang terlebih dahulu."

__ADS_1


Ben mengangguk - angguk.


"Ben, bisa berfoto sebentar?"


Dua orang wanita berkulit putih menghampiri Ben dan mengeluarkan ponsel dari tas mereka.


"Owh, sure," sahut Ben seraya memposisikan dirinya untuk difoto. Kedua wanita itu bergantian berfoto dengan Ben. Mia memperhatikan ekspresi wajah Ben yang ramah dan juga hangat. Untuk sesaat pria itu membuatnya terpana. Mata birunya benar - benar menawan di bawah cahaya lampu restauran yang cukup terang. Rambut panjang pirangnya diikat asal, t-shirt panjang tebal berwarna hitam dengan tali - tali di bagian leher yang sedikit terbuka, memperlihatkan bagian tattoo sayap burung, entah jenis burung apa, menyembul ke leher jenjangnya.


Dan senyumnya, Holly Molly ....


Mia menelan ludahnya dengan susah payah.


"Is that your son?" tanya salah satu dari wanita itu menunjuk pada Daren yang masih tertidur di pelukan Mia. Gadis itu terkesiap. Lalu mengalihkan pandangan matanya pada kedua wanita itu.


"Yeah," sahut Ben.


"Aww, so cute," puji wanita itu. Ben hanya tersenyum.


"Thank you, Ben, see you." Kedua wanita itu akhirnya berpamitan dan meninggalkan meja mereka. Ben melambaikan tangan pada keduanya.


.


.


Mia membuka pintu mobil dan mendudukkan Daren di car sitnya dan memastikan sabuk pengaman terpasang dengan baik. Setelah itu Mia menutup pintu kembali.


"Kau yakin tidak mau kuantar?" tanya Ben.


"Terima kasih, Mr. Chevalier, aku bisa pulang sendiri, kasihan Daren kalau harus dibawa bolak balik Manhattan - Brooklyn," jawab Mia.


"Okay, take care then."


Mia mengangguk.


"Emm .. Mia!"


Mia mengurungkan niatnya untuk berbalik dan menjauh.


"Thank you," ucap Ben dengan senyum manisnya.


"My pleasure."


Ben masuk ke dalam mobilnya dan mengemudikannya keluar dari parkiran Central Park Zoo. Mia berdiri memandang mobil Ben yang perlahan menjauh. Lalu berbalik ke arah yang berlawanan, keluar dari area parkir dan menuju ke stasiun kereta bawah tanah terdekat.


***


Mia melepas mantelnya begitu sampai di dalam flatnya lalu melemparnya sembarang ke atas sofa.


Langkahnya gontai menuju dapur. Membuka lemari pendingin dan mengambil sebotol bir. Setelah membuka tutup botolnya, gadis itu berjalan ke arah sofa dan menghempaskan tubuh lelahnya di sana.


"Hei, kau pulang terlambat?" tanya Ashley yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Yeah," sahut Mia asal.


"Kau mau makan malam? Aku masih punya satu bungkus pizza kalau kau mau," tawar Ashley.


"No, aku sudah makan malam di luar," jawab Mia yang tentu saja memancing rasa penasaran Ashley.


Gadis itu mendekat ke arah Mia dan duduk di sampingnya.


"Kau pulang telat dan sudah makan malam, apa kau habis berkencan?"


Mia terbahak. Lalu menggeleng. Tak ada gunanya meladeni sahabatnya ini.


"Ben, kau berkencan dengan Ben Chevalier. Benar kan?" tuduh Ashley.


Bukan berkencan, tapi menemani anaknya keliling kebun binatang.


"Brandon mentraktirku makan malam, okay?" ujar Mia berbohong. Ashley merengut. Gadis itu seakan tidak puas dengan jawaban Mia.


Mia menyodorkan botol bir yang urung diminumnya pada Ashley.


"I gotta go to sleep." Mia beranjak dari duduknya dan melangkah menuju kamarnya. Meninggalkan Ashley dengan rasa penasarannya.

__ADS_1


***


__ADS_2