
LINDEN CENTER, BROOKLYN.
Mia memainkan upright piano yang menempel pada dinding di ruang makan yang cukup besar dan ramai oleh para lansia yang sedang menikmati makan siang mereka.
Moonlight Sonata dari Beethoven terdengar terlalu sentimentil untuk mengiringi sebuah acara makan siang yang ceria dan penuh gelak tawa. Namun itu adalah permintaan dari Sue, teman Madame Rose yang beberapa waktu lalu berulang tahun.
Mia memainkan lagu klasik tahun 1801 itu dengan apik. Jemarinya begitu lihai memainkan tuts tuts berwana hitam putih itu.
Dalam 7. 25 lagu berakhir. Tepuk tangan menggema dari seluruh ruangan. Mia hanya menggeleng dan tertawa pelan.
"Benji!!
"Benji, come here, Handsome!"
"Oh, Benji, Sweetheart!"
Pekikan - pekikan para lansia yang sebagian besar wanita itu terdengar dari balik punggungnya. Mia segera menoleh dan mendapati Ben yang tengah sibuk menyalami satu persatu para nenek yang tampak seperti gadis - gadis remaja yang sedang bertemu idolanya. Hysterical.
Ben tersenyum ke arah Mia sembari melangkah menghampiri Madame Rose yang tengah duduk menikmati makan siang bersama Sue. Sementara Mia kembali melanjutkan permainan pianonya dengan lagu dari Henry Mancini, A Time For Us, soundtrack dari Romeo And Juliet.
.
.
"Hei, buru - buru sekali."
Ben meraih tangan Mia yang tengah berjalan tergesa - gesa keluar dari gedung. Membuat gadis itu terperanjat.
"Emm .. i - iya, teman - temanku .. sedang menunggu." Mia menyahut dengan sedikit terbata. Diliriknya tangannya yang tengah digandeng oleh pria tampan di sampingnya itu.
"Rehearsal?"
Mia mengangguk.
"Boleh kuantar?"
Mia kembali terperanjat. Bayangan wajah Brandon sekilas muncul di kepalanya.
Tidak, tidak, aku tidak mau membuatnya sakit.
"Tidak usah!" pekiknya. "Maksudku, kau tidak perlu mengantarku."
"Kenapa? Apa aku tidak boleh mengantar pacarku sendiri?" sindir Ben dengan senyuman jahilnya.
Pacar? Sial, aku lupa.
"Ayolah ...."
"No, Ben .. seriously."
Ben yang masih menggandeng tangan Mia menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah gadis itu.
"Why?" tanya Ben heran.
__ADS_1
Mia buru - buru melepaskan tangannya dari gandengan Ben.
"Tidak apa - apa. Maaf, aku buru - buru."
Mia berjalan melewati Ben yang semakin keheranan melihat sikapnya. Namun pria itu hanya bisa mengangkat tangannya pasrah.
***
Mia meletakkan tas biolanya dan mulai menyiap - nyiapkan alat musik kesayangannya bersama dengan peralatannya itu untuk dia setem.
"Sial, Brandon tidak bisa latihan hari ini." William menunjukkan layar ponsel yang berisi pesan dari Brandon.
"Ada apa?" tanya Mia.
"Ada urusan penting dengan .. Sarah." William membaca kembali pesan Brandon di layar ponselnya. Keningnya mengerenyit. "Apa mereka kembali bersama?" tanyanya pada Bryan yang langsung mengedikkan bahunya.
Mia menarik nafas dalam - dalam. "Jadi, bagaimana latihan kita hari ini?"
"Well, kita tunda saja?" tanya Bryan.
"Dasar brengsek," umpat William.
Mia membenahi biolanya kembali. Dimasukannya ke dalam soft case lalu menentengnya.
"Kau mau langsung pulang?" tanya William.
Mia melirik jam di pergelangan tangannya. Pukul 18.30. "Yeah, I feel tired anyway," sahutnya. "See you, guys."
Mia melambaikan tangan pada William dan Bryan lalu melangkah meninggalkan ruangan itu.
.
.
"Baby, I want some beer."
Terdengar suara manja seorang wanita dari arah belakangnya. Memaksanya untuk menoleh sekilas. Namun sosok di samping wanita itu membuatnya terkesiap. Dan sesungguhnya dua orang yang tengah berdiri di hadapannya itu membuatnya terkejut.
"Brand .. Sarah." Dengan gugup dia menyapa.
"Hi, Lamia." Sarah mendekati Mia dan memeluknya sekilas. Sementara Brandon masih berdiri mematung di tempatnya. Menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
"Kalian .. emm ...." Mia menunjuk Sarah dan Brandon secara bergantian.
"Yeah, we're back together." Sarah merangkul Brandon dengan mesra. Membuat Mia salah tingkah. Perasaannya tiba - tiba menjadi tidak menentu.
"Maaf aku tidak bisa ikut latihan tadi," ujar Brandon seraya melepaskan rangkulan tangan Sarah dengan pelan.
"It's okay, I feel a little tired anyway." Mia mencoba memaksakan senyumnya. "Bye, guys."
Mia membalikkan badannya dan melangkah meninggalkan keduanya. Sarah menarik lengan Brandon yang masih memandang punggung mungil Mia hingga menghilang di balik rak - rak tinggi. Wanita itu berusaha mengalihkan perhatian Brandon ke arahnya.
***
__ADS_1
Mia membuka pintu apartemennya dan berjalan pelan menuju dapur. Lalu memasukkan semua barang yang dibelinya di swalayan beberapa saat yang lalu ke dalam lemari pendingin.
"Hei, kenapa kau pulang cepat? Bukankah malam ini kau ada latihan?" tanya Ashley yang tengah duduk di sofa sembari menonton televisi.
Mia berjalan ke arah Ashley dan menjatuhkan pantatnya di sampingnya.
"Brandon tidak bisa latihan malam ini," jawabnya lesu. "Dan aku bertemu dengannya di swalayan, bersama Sarah."
Ashley membulatkan kedua matanya. Kini gadis itu mengalihkan perhatiannya dari film yang tengah ditontonnya pada Mia.
"Mereka kembali bersama?" tanyanya.
Mia mengedikkan bahunya. "Maybe."
"Will bilang padaku kalau Sarah menyebalkan."
Mia menyandarkan punggungnya ke belakang. Merenggangkan otot - ototnya yang terasa kaku.
"Ash, I'm so confused," ujarnya seraya menangkup kedua pipinya dengan telapak tangannya.
"Ada apa?"
Mia menarik nafasnya dalam - dalam. "I'm dating Ben Chevalier."
"What? Wow .. wow .. seriously?"
Mia mengangguk. "Seharusnya aku bahagia. Tapi, rasanya tidak seperti yang aku bayangkan. Aku bingung."
"Why?"
"Aku tidak tahu. Sepertinya aku tidak terlalu menginginkannya lagi. Aku menyukai Ben. Hanya saja .. ahh, aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya."
"Apa kau jatuh cinta pada orang lain?" tanya Ashley. Kemudian sejurus kemudian gadis itu terpekik. "Brandon? Kau jatuh cinta pada Brandon?"
"I don't know, Ash, I don't know." Mia menyembunyikan wajahnya dibalik telapak tangannya. "Aku merasa tidak nyaman melihatnya bersama wanita lain."
"Wow!"
"I know, I know. It's a complicated feeling."
"Aku masih tidak percaya kau berpacaran dengan Benjamin Chevalier. Amazing!"
Mia mendesis. "Aku berpikir Ben masih dihantui bayang - bayang mendiang isterinya. Mungkin dia merasa aku mengingatkannya pada Laras." Mia menghela nafas pelan. "Tapi aku tidak terlalu memikirkannya."
"Kau tidak keberatan dengan itu?"
"Tidak terlalu. Aneh, bukan? Seharusnya aku merasa cemburu." Mia mengelus kepalanya pelan. "Bodohnya aku kenapa aku mengiyakan dengan cepat ketika Ben memintaku menjadi kekasihnya. Sedangkan aku belum begitu yakin."
Ashley ikut menyandarkan punggungnya ke belakang. "Kau butuh waktu untuk memikirkan semuanya hingga jelas. Siapa sebenarnya yang kau pilih."
"This stress me out, Gosh!"
Mia memejamkan kedua matanya. Mencoba untuk menghilangkan segala kegundahan yang menjalar dalam dadanya. Gadis itu benar - benar merasa kelelahan. Baik secara mental maupun fisik.
__ADS_1
Oh, New York is tough!