
"Biar aku saja yang membawanya ke kamar Ben."
Anita meraih nampan yang berisi satu buah teko teh kaca dan cangkirnya dari tangan Rosita, asisten rumah tangga Ben.
"Kau yakin, Miss Wallis?" tanya Rosita.
Anita mengangguk. Lalu membawa nampan ke lantai atas di mana kamar Ben berada.
Dengan ragu-ragu Anita mengetuk pintu kamar Ben pelan.
"Come in!" Terdengar suara Ben di dalam kamar. Anita membuka pintu dan melangkah masuk.
Ben yang tengah merapikan beberapa pakaian dan memasukkannya ke dalam tas besarnya terkejut melihat kedatangan Anita.
"Aku bawakan teh untukmu," kata Anita sembari meletakkan nampan di atas meja.
"Oww .. thanks," sahut Ben.
Anita duduk di sofa, memperhatikan mantan kekasihnya yang kembali sibuk dengan aktifitasnya.
"Ben," panggilnya.
"Ya?"
"Kau tidak pulang semalam?"
"Uh-huh."
Anita menghela nafas pelan. "I need you, Ben," ucapnya lirih. Ben menoleh ke arah wanita cantik itu. Wajahnya tertunduk. Sepertinya Anita menangis.
"No, no .. don't cry, Anita," ujar Ben seraya menghentikan kegiatannya memasukkan baju-baju ke dalam tasnya.
Anita terisak. Ben memejamkan matanya dan menarik nafas dalam-dalam. Kemudian mendekati wanita itu. Anita segera menghambur ke pelukan Ben.
__ADS_1
"Don't leave me, Ben .. please!" isaknya.
"Anita, jangan tempatkan aku di situasi yang sulit seperti ini .. dengar, aku akan membantumu sebisaku, okay?"
Ben mengelus punggung Anita lembut. Anita semakin mengeratkan pelukannya. Membenamkan wajahnya di dada Ben.
"Beri aku kesempatan, Ben .. beri dirimu kesempatan untuk membuka hatimu kembali untukku .. I need you so much," ucap Anita masih dengan isakan tangisnya.
Ben melepaskan pelukan Anita kemudian memegang bahu mantan kekasihnya itu.
Anita menatap Ben lekat-lekat dengan mata hijaunya yang basah oleh air mata, kemudian tanpa aba-aba dilumatnya bibir Ben dengan rakus. Ben mendorong tubuh Anita pelan, memberi penolakan pada apa yang dilakukan Anita terhadapnya.
"Anita, dengar .. aku tidak bisa kembali padamu, aku punya seseorang sekarang, aku sangat mencintainya."
Tangis Anita kembali pecah. Ditutupinya wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Aku akan membantu menyelesaikan masalah finansialmu, I promise, okay?" bujuk Ben. Anita beranjak dari duduknya. Kemudian setengah berlari wanita itu keluar dari kamar Ben.
***
"Ras, ada tamu minta kamu yang nganterin pesanannya tuh .. aktris tau, Anita Wallis," kata Maya pada Laras yang tengah sibuk merapikan piring-piring ke rak.
"Hah?" seru Laras kaget. "Anita Wallis?" tanyanya. Dada Laras berdebar. Pasti ada hubungannya dengan Ben. Ada apa lagi ini?
"Buruan," ujar Maya. Laras segera menyambar nampan yang berisi pesanan makanan Anita dan melangkah ke arah meja yang berada di luar ruangan restauran. Dilihatnya sesosok wanita cantik dan anggun dengan kaca mata hitamnya tengah duduk dan sibuk dengan ponselnya.
Begitu melihat kedatangan Laras, Anita membuka kaca matanya dan tersenyum.
"Selamat sore," sapa Laras seraya meletakkan pesanan makanan Anita di atas meja.
"Bisa aku bicara denganmu?" tanya Anita tanpa basa-basi. Laras menyapu pandangan ke sekelilingnya. Suasana restauran cukup sepi, gadis itu memutuskan untuk mengiyakan kata-kata Anita.
Laras menarik kursi di seberang meja. "Sure," sahutnya sembari duduk di hadapan Anita.
__ADS_1
"Sejauh apa hubunganmu dengan Ben?" tanya Anita. Dada Laras berdegup mendengar nama Ben disebut.
"Kenapa?" Laras balik bertanya. Gadis itu berusaha bersikap sewajar mungkin.
Anita tersenyum sinis. "Apa Ben pernah bercerita padamu tentang hubungan kami dulu?"
"Sedikit."
"Kau harus tahu sedekat apa aku dan Ben dulu, dia tergila-gila padaku, aku tahu dia sangat hancur ketika aku meninggalkannya, dan itu adalah penyesalan terbesar dalam hidupku." Anita memejamkan matanya sejenak, lalu menarik nafas dalam-dalam. "Setelah itu Ben mulai berkencan dengan banyak wanita, namun itu hanya untuk menutupi rasa sakit hatinya padaku." terang Anita.
Laras tersenyum kecut. "So, what are you trying to say actually?"
"Aku tidak bermaksud menakut-nakutimu, Laras .. atau membuatmu sakit hati, aku hanya ingin mengatakan, sejauh apapun hubunganmu dengan Ben, kau hanya sebatas pelariannya saja, sama seperti wanita-wanita yang dia kencani sebelumnya."
Laras menghela nafas pelan. Dipandanginya wajah cantik di hadapannya itu.
"Kalau memang Ben hanya menganggapku seperti wanita-wanita yang biasa dia kencani, seharusnya kau tidak perlu khawatir. Dan kau tidak perlu repot-repot datang kemari dan mengatakan semua ini padaku."
"Aku hanya bersimpati padamu, sebelum perasaanmu pada Ben semakin dalam, sebaiknya kau tinggalkan dia, biarkan aku mendapatkan hatinya kembali, aku mohon, Laras." Anita meraih tangan Laras dan menggenggamnya erat. Wajah wanita itu syarat akan harapan.
"Sebaiknya kau berbicara langsung saja dengan Ben." Laras menarik tangannya. Pipinya memerah menahan kecamuk dalam dadanya.
"Ben tidak mau mendengarkanku, karena saat ini dia sedang terobsesi padamu. Tapi aku yakin itu hanya sebentar saja. Kau akan segera ditinggalkannya begitu dia merasa bosan."
"Aku tidak tahu harus menanggapi bagaimana, kau memohon padaku sesuatu yang tidak bisa aku lakukan. Iya, aku jatuh cinta pada Ben, dan sebaliknya. Aku minta maaf jika itu menyakitimu, Miss Wallis," ucap Laras.
Anita menggeleng pelan. Mata hijaunya mulai memanas dan mengembun.
"Aku harus melanjutkan pekerjaanku, selamat sore, Miss Wallis," pamit Laras. Anita tak menyahut. Dipandanginya punggung mungil wanita itu menghilang di balik pintu kaca restauran. Kembali wanita itu menggeleng. Apalagi yang harus dia lakukan untuk bisa mendapatkan Ben kembali? Apakah dia harus menunggu sampai Ben mencampakan gadis itu?
Anita memainkan makanannya dengan garpu. Tidak berniat sama sekali untuk memasukannya ke dalam mulutnya. Suasana hatinya sungguh kacau.
***
__ADS_1