I Am Yours,Mr Chevalier!

I Am Yours,Mr Chevalier!
Part 59


__ADS_3

DI BAWAH POHON OAK, UNIVERSITAS COLUMBIA, NEW YORK.


Laras mengejap-ngejapkan matanya ketika memeriksa laporan di rekening bank melalui internet bankingnya. $ 20.000. Angka itu setara dengan 290 juta rupiah. Mulut Laras terbuka dengan spontan, namun segera ditutupnya dengan kedua telapak tangannya.


"Gila bener nih cowok, banyak banget ngirim duitnya," gumam Laras tak percaya. Bahkan penghasilannya dalam sebulan hanya mencapai $ 1.500 atau 22 juta rupiah. Itu saja Laras harus banting tulang bekerja di dua tempat sekaligus yang hanya cukup untuk sewa apartemen dan makan serta kebutuhan mendesak lain.


Laras masih terheran-heran di depan layar ponselnya ketika seseorang menepuk pundaknya. Membuatnya terlonjak kaget.


"Geez, Cath!" pekiknya. Catherine meringis. Lalu duduk di samping Laras. Melongokkan kepalanya memeriksa ponsel Laras.


"Hollysh*t .. Laras where did you get the money?" Catherine menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya, persis seperti yang dilakukan Laras beberapa menit yang lalu.


"Ben .. dia mengirimiku uang sebanyak ini," ujar Laras. Catherine menyipitkan matanya, menatap Laras dengan penuh selidik. "Aku tidak memintanya," jelas Laras.


"Lucky b**ch!" maki Catherine sembari terkekeh.


"Sepertinya aku harus mengembalikannya,ini terlalu berlebihan," ujar Laras. Membuat Catherine berdecak sebal.


"Ow come on Laras, terima saja!" seru Catherine.


"Tapi aku hanya butuh sedikit tambahan untuk membayar sewa apartemen karena gajiku dipotong gara-gara Ben menculikku selama beberapa hari."


"Laras, kau ini naif atau bodoh, uang sebanyak itu bagi Ben tidak ada artinya."


Laras menghela nafas panjang. Benar juga yang dikatakan sahabatnya itu. Tapi tetap saja menurutnya lelaki itu berlebihan.


"Tunggu, aku harus mengkonfirmasikan ini padanya," ujar Laras seraya mengutak-atik ponselnya. Berniat menghubungi Ben.


Laras mendekatkan ponselnya ke telinganya.


Hanya terdengar nada dering selama beberpa menit. Tanpa ada tanda Ben akan menjawab telponnya. Laras kembali menghela nafas panjang.


"Aku punya ide!" seru Catherine. Laras menaikkan kedua alisnya. "Di mana Ben sekarang?" tanya Catherine kemudian.


"Aku rasa sekarang dia sedang ada di Wichita," Laras mengingat pesan dari Ben semalam.


"Kansas?"


Laras mengangguk. "Ide gila apa yang ada di otakmu, Cath?"


"Ayo susul dia kesana."

__ADS_1


Laras membulatkan matanya. Berusaha mencerna apa yang baru saja Catherine katakan. "Kau serius?"


Catherine mengangguk mantap.


"Ayolah Laras, beri dia kejutan."


"Apa aku tidak akan terlihat seperti wanita gila dan kesepian yang mengejar-ngejar Ben?"


Catherine mendecak. Gemas sekali dengan Laras yang selalu berfikiran negatif.


"Sudah jelas-jelas Ben menyukaimu, Laras!" seru Catherine kesal. Laras memanyunkan bibirnya. Berpikir sejenak mengenai untung ruginya ide sahabatnya itu.


Ponsel Laras bergetar. Satu panggilan masuk dengan nama Ben yang tertera di layar. Laras menempelkan jari telunjuk di bibirnya, memberi isyarat untuk Catherine yang heboh sendiri untuk diam. Gadis itu hanya terkekeh.


"Laras, I'm sorry I was doing my rehearsal, is there something you wanna tell me?" Suara Ben dari seberang sana.


"Emm .. yeah .. it's about the money,aku rasa orang yang kau suruh untuk mengirimnya melakukan kesalahan. "Laras membulatkan matanya ke arah Catherine yang dengan gerakan bibirnya seperti mengucapkan No don't say that, stupid, tanpa suara.


"Benarkah? Apa yang terjadi?"


"He sent me $ 20.000, I think it's too much money."


Ben terdiam di seberang sana. Kemudian beberapa detik kemudian tawanya meledak.


Laras melongo. Sementara Catherine memutar bola matanya dan menggerakkan bibirnya kembali mengucapkan Told you!, masih tanpa suara.


"Apa itu tidak berlebihan, aku tidak membutuhkan uang sebanyak itu." Laras masih saja protes.


Terdengar Ben menghela nafas dengan berat.


"Aku tidak ingin mendebatkan itu .. well I gotta go Laras, I'll call you later, take care."


Ben menutup telponnya. Laras termangu.


Memandang Catherine yang terlihat kesal.


"What!!" serunya pada sahabatnya itu,yang hanya menggelengkan kepalanya pelan.


"So, bagaimana dengan ideku?" tanya Catherine. Laras menghela nafas berkali-kali.


"Aku akan memikirkannya."

__ADS_1


***


RIVER WALK APARTEMENT, MARION RD, WICHITA, KANSAS.


Suara ketukan pintu kamar membuat Ben yang beniat untuk tidur siang barang satu jam mengurungkan niatnya. Dengan malas lelaki itu berjalan menuju ke arah pintu dan membukanya.


Pertama kali yang dilihatnya adalah Jack, sang menejer, namun Ben dikejutkan dengan sesosok wanita cantik yang berdiri di samping lelaki berkulit pucat itu, mengulum senyum manisnya untuk Ben.


"A-nita?" ucap Ben terbata. "Bagaimana bisa?"


Ben mengalihkan pandangan kepada Jack, lelaki itu meringis. Dia biang keroknya.


"Aku yang menanyakan di kota mana kalian singgah pada Jack, maaf membuatmu terkejut Ben," ujar Anita dengan suara lembutnya.


Jack mengedikkan bahunya, kemudian berlalu meninggalkan keduanya. Ben tidak sempat menolak ketika Anita dengan cepat mendorongnya masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya rapat-rapat.


"I miss you so much, Ben," ucap Anita seraya menghambur ke arah Ben dan berusaha untuk mendaratkan ciumannya di bibir lelaki itu.


"Wait, wait, Anita ...." Ben menahan tubuh Anita dengan memegang kedua bahu wanita itu.


"Ada apa Ben? Apa kau tidak senang melihatku?" tanya Anita dengan wajahnya yang seketika terlihat bingung.


"Emm .. ya aku terkejut kau tiba-tiba ada di sini, apa kau ada perlu sesuatu?" tanya Ben sekenanya. Dia bingung bagaimana mengatakan kepada wanita itu kalau kehadirannya tidak lagi diharapkannya.


"Aku ingin menemanimu selama beberapa hari di sini, Ben .. lagipula Wichita cukup menyenangkan untuk dijadikan tempat berlibur, aku sedang tidak ada pekerjaan penting di LA, jadi kuputuskan untuk menyusulmu ke sini. Apa kau keberatan?"


Ben menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Dalam hatinya begitu frustasi bagaimana menjawab wanita ini.


"No .. ya .. emm .. tentu saja aku tidak keberatan." Sial, makinya dalam hati.


Anita tersenyum gembira. Dipeluknya mantan kekasih yang begitu dirindukannya itu dengan erat. Yang dipeluk hanya mengangkat kedua tangannya, tanpa membalas pelukan wanita itu.


"Ben .. oops, sorry." Wajah Liam menyembul dari balik pintu yang tidak terkunci itu. Melihat pemandangan di dalam kamar, Liam hendak menutup kembali pintunya.


"Liam, wait .. what's up?" tanya Ben. Dalam hati Ben bersorak sang drummer menyelamatkannya dari situasi yang canggung itu.


Liam menyembulkan kembali kepalanya. "Tadinya aku ingin memintamu untuk ke ruang musik, aku butuh mencocokkan beatku dengan melodimu di pertengahan lagu The Sun Kingdom Queen. Tapi sepertinya kau sedang sibuk .. jadi nanti saja," jawab Liam.


"No .. no .. let's do it," kata Ben seketika.


Diliriknya wajah Anita yang cemberut. Ben meminta wanita itu untuk menunggu di ruang tamu atau di manapun yang dia mau. Anita dengan malas mengiyakan saja. Ben menarik nafas lega kemudian mengikuti Liam menuju ke ruang musik.

__ADS_1


***


__ADS_2